Kain VS Habel

Cover FinalSebut saja A. Kalau untuk dirinya sendiri, dia cukup “murah hati”. Tapi untuk orang lain, sepertinya tidak. Tapi bukan berarti dia tidak suka memberi. Dia suka, hanya saja, pemberiannya terkesan “asal”. Asal dia tidak suka, asal pas ada, asal dia sudah kenyang, pokoknya asal dia sudah puas, baru deh dia memberi. Itupun dari sisa-sisanya. Kita batasi saja konteksnya adalah memberi makanan/kue/minuman.

Sebut saja B. Untuk dirinya sendiri, dia kurang murah hati. Bahkan setiap kali ingin membeli sesuatu makanan/minuman yang sangat dia inginkan, dia selalu ingat untuk berbagi dengan orang lain. Jadi dia akan membeli dalam porsi yang cukup untuk berbagi, walaupun setiap bagiannya tidak terlalu banyak, yang penting dia bisa makan, dia ‘hepi’, orang lain juga bisa makan yang sama, dan orang lain itu ‘hepi’.

Keduanya sosok yang nyata, from a true story. Pertanyaannya: mana yang lebih murah hati? Si A, yang memang sangat murah hati, tapi untuk dirinya sendiri, atau B, yang tidak murah hati untuk dirinya sendiri, tapi sangat suka berbagi dengan orang lain? Pemberian B juga bukan “asal-asalan”, dia harus tahu dulu, apa kesukaan orang yang kepadanya dia mau berbagi makanan. Jenis makanan itulah yang dia beli untuk dia bagikan.

Hari ini, saya pulang kantor sekitar pukul 7. Dua hari lalu, saya sengaja membeli sosis merk tertentu yang harganya di atas rata-rata sosis yang dijual di pasaran. Saya juga membeli “seaweed”. I had a plan. Saya tahu papa saya suka memakan sushi. Jadi, sepulang kantor saya cuci tangan, lalu mengambil sosis, memotongnya kecil-kecil, menggorengnya, lalu mengambil nasi di piring dan lembaran seaweed. Gulungan-gulungannya agak berantakan, tapi papa saya bilang “enak”! Sebelumnya dia mengeluh, kenapa beli sosis, “makanan tidak sehat” yang tidak dia setujui. Jadi selesai memakan sushi-sushi itu, dia tidak lagi mau nambah. I know him. Beberapa teman menjuluki Papa saya “Menteri Kesehatan”. Ya, dia menjunjung tinggi nilai “kesehatan” tubuh. Tapi saya tahu dia suka, hanya saja, tidak boleh terlalu banyak dan sering.

Ingatan saya lalu melambung ke Kain dan Habel. Selagi saya memakan sisa sushi yang masih beberapa gulung+saya bagi ke mama, dan mbak saya, karena saya sudah kenyang makan roti di kantor.

Beratus-ratus tahun lalu ada kejadian penting di awal-awal kisah di Alkitab yang masih saya ingat jelas. Dua kakak-beradik, Kain dan Habel memberikan persembahan untuk Allah. Habel yang adalah peternak, memilih anak domba terbaik miliknya, untuk dipersembahkannya ke Tuhan. Kain yang adalah petani, memberikan hasil dari tanahnya untuk Tuhan. Siapa yang lebih diperkenan oleh Tuhan? Habel. Habel tahu apa kesukaan Tuhan. Dan untuk itu dia memberi yang terbaik SESUAI dengan apa yang Tuhan sukai. Sementara Kain? Sepertinya dia tidak peduli apa yang disukai Tuhan, jadi dia menerka-nerka saja, lalu mengambil keputusan atas dasar pemikiran bahwa Tuhan pasti suka dengan persembahanku.

Can you imagine, hasil bertani, pasti berlimpah ruah, dibanding hasil ternak. Kain memberi dari kelimpahannya. Habel memberi yang terbaik, sekalipun dari ternak yang tidak seberapa. Hmm… waktu kecil dulu saya pernah punya anjing Peking. Setiap kali melahirkan, anak-anaknya lucuuu dan menggemaskan. Seandainya saya Habel, pasti saya juga sangat menyukai anak domba yang baru berumur beberapa bulan. Pastinya lucu dan sangat sayang kalau dijadikan korban. Tapiii… Habel justru memilih yang terbaik dari hasil ternaknya, untuk diberikan kepada Tuhan. Sebuah pemberian yang lebih bernilai bukan dari segi si pemberi, tapi di mata yang diberi/penerima.

Banyak orang memberi ‘asal’. Dalam arti, tidak mau tahu apa kesukaan orang yang akan menerima apa yang dia berikan, yang penting sudah memberi, cukup. Habel tidak seperti itu. Padahal, sebuah pemberian akan diingat oleh yang menerima dan baru bernama “pemberian” ketika pemberian itu “menyenangkan” si penerima! 

Banyak orang memberi apa yang “mudah didapatnya”/tanpa usaha. Habel tidak begitu. Beternak bukan hal yang mudah. Butuh ketekunan karena memelihara “nyawa” sampai menghasilkan “nyawa” lain.

Banyak orang memberi dari kelimpahannya. Maksud saya, karena sudah berlebihan, maka baru dia berbagi kepada orang lain. Habel tidak begitu.

Ah, seandainya banyak orang mirip Habel, maka Tuhan pasti senang. Tidak cuma itu, para orangtua pasti senang punya anak seperti Habel. Hidup lebih menyenangkan.

Belajarlah memberi seperti Habel. (I’m talking to myself, too). Dia memberi karena mengerti apa kesukaan orang yang akan dia beri. Dia memberi sesuatu yang sangat berharga, karena sulit didapat, secara tulus dan bukan asal-asalan. Bukan asal memberi…

Mulailah memberi. Dan mulailah kepada orang terdekat kita.

Selamat memberi seperti Habel.

Leave a comment

Filed under Daily Journal, Relationship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s