Belajar (gak) jadi orang Jawa

Bukan bermaksud rasis😛 tapi terlahir di pulau Jawa berbahasa ibu “Jawa” dan berbudaya ke-Jawa2an, membuat saya terbiasa menolak tawaran orang lain atas dasar kesungkanan belaka.

Kalau ditanya, “Sudah makan belum?”
Jawabnya, “Sudah!”
“Makan apa?”
“Nasi.”
“Sama apa?”
Waddduuuhh udah berapa kali tuh bohong cuma gara2 sungkanisme?

Tapi itu dulu… sekarang… saya belajar untuk melupakan sungkan2an.

“Mau kue ini gak?”
“Mau!” itu jawab saya.
“Mau permen gak?”
“Enggak. Thank you,” jawab saya yang bukan karena sungkan melainkan memang gak mau.

Sayangnya… ada beberapa orang yang memanfaatkan kebiasaan sungkan ini. Jadi karena sudah tahu jawabannya bakalan “enggak mau” atau “nggak usah”, maka tawaran2 yang seharusnya sih gak perlu ditawarkan, alias kalau mau ngasih mah ngasih aja, gak pake tanya dulu, kok ya tetep ditanya ke orangnya, “mau enggak?” Ya pastilah dijawab secara sungkan “enggak” itu tadi, padahal belum tentu “enggak” itu artinya sama.

Jadi jangan coba2 nawarin saya sesuatu, kl saya mau, tanpa sungkan akan saya jawab “mau” dan sebaliknya….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

4 Responses to Belajar (gak) jadi orang Jawa

  1. -Lin- says:

    hahaha.. klo gtu sy akan bertanya.. “cici ga mau kan…??” ^^

  2. Vie says:

    Yeap! We have to learn to be assertive, bilang iya waktu emang iya, dan nggak mau waktu nggak mau. Aku juga dulu ada masalah dengan kesungkanan, yah, salahkan budaya.😛

    “Sayangnya… ada beberapa orang yang memanfaatkan kebiasaan sungkan ini. Jadi karena sudah tahu jawabannya bakalan “enggak mau” atau “nggak usah”, maka tawaran2 yang seharusnya sih gak perlu ditawarkan, alias kalau mau ngasih mah ngasih aja, gak pake tanya dulu, kok ya tetep ditanya ke orangnya, “mau enggak?” Ya pastilah dijawab secara sungkan “enggak” itu tadi, padahal belum tentu “enggak” itu artinya sama.” –> I have to disagree with this. Karena aku selalu punya prinsip orang itu kalau mau atau nggak harus ngomong, makanya aku akan selalu tanya, “Mau nggak?” instead of langsung ngasih. Karena aku gak mau orang yang dikasih merasa nggak enak karena memang gak mau dikasih, atau gak enak karena gak bisa tolak. Kalau gak mau, tinggal bilang nggak, kalau mau bilang iya. Jadi kasih orang itu pilihan gitu tanpa langsung ngasih. Hahahhaa…

    • Inspirations says:

      Hehe.. begini Cia, kan aku nulisnya “Ada beberapa orang”, jadi kl model kamu gini mah gak termasuk “beberapa orang” itu lah…🙂
      Ehm, menurutku, tulus atau tidak seseorang itu orang lain bisa merasakannya kok… ya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s