Bau Busuk…

Saya sangat menyukai suara seorang teman. Dia cantik luar dalam, percayalah. Dan setiap kali dia diminta menyanyi sendirian, karena suaranya memang enak didengar, saya merinding-merinding gimanaaaa gitu. Hati serasa “maknyes” mendengar pujian yang dia naikkan setiap kali dia diminta menyanyikan sebuah lagu pada acara doa pagi. Dia favorit saya.

Satu kali saya mendengar suara seorang teman yang sedang melagukan sebuah pujian. Masih bisa ditolerir, karena suaranya memang tidak fals. Tapi begitu dia menaikkan “penyembahan”, kok telinga saya jadi “risih”? Ehm… secara saya lumayan kenal dengan orang tersebut yang… yah begitulah, yang jelas beda dengan teman saya tadi, cantik luar-dalam.

Seperti kalimat ini, “Serapat-rapatnya sampah ditutup, toh baunya akan tercium juga.” Mungkin akan seperti itu pujian yang kita naikkan kepada Tuhan ketika hati kita penuh dengan “sampah”. Bau! Jadi bukan bau harum yang dicium TUHAN, melainkan itu tadi… busuk.

Begitu juga dengan karakter, yang kabarnya adalah temperamen (bawaan dari ortu/genetik gitulah sifatnya) yang sudah terpengaruh oleh keadaan lingkungan, pola asuh dalam keluarga, dll, lalu muncul jadi kepribadian yaitu karakter yang ingin kita perlihatkan kepada orang lain. Serapat-rapatnya kita menyembunyikan karakter buruk, lewat “penyembahan” yang sepertinya “luar biasa didedikasikan untuk TUHAN”, satu saat pasti ketahuan juga bahwa semuanya itu palsu.

Tiap hati manusia memang rentan dengan kejahatan, kebusukan, kemunafikan, dan lain-lain “sampah”. Tapi daripada menutupi “sampah” itu dengan manifestasi yang “indah-indah”, tutur kata halus, lembut, tingkah laku yang terasa begitu sopan, mending jujur sama diri sendiri dan bertobat….  (termasuk diri saya lho…!)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

3 Responses to Bau Busuk…

  1. Inge says:

    Bener tuh. Tp kl seseorg sdh bener2 bertobat dlm arti terbuka dihadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan membuang hal2 yg tdk berkenan dihadapanNya dr dirinya, hrsnya sih, dia akan otomatis jd dirinya sendiri apa adanya, krn gambar dirinya sdh dipulihkan.

  2. georgiejth says:

    True.. I have come to believe that life is made up of the spectacular and the mundane…
    So b honest 2 urself :d
    Well.. we’re all in t facet of learning by doing..

  3. veratobing says:

    indeed..!
    emang ya, karakter ama karunia tuh beda banget..
    belum tentu yg keliatan di luar “waah”..(karunia), sama dengan yg didalamnya.
    Seandainya karakter dan karunia seimbang pasti jadi luar biasa yaa.. thank you for sharing..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s