Kurikulum Pendidikan Jaman Sekarang

Saya heran dengan pendidikan sekolah jaman sekarang. Kok sepertinya para orangtua dipaksa untuk ikutan bersekolah bareng anak-anaknya yang masih kecil, secara tidak langsung.

Beberapa hari lalu, saya kaget melihat PR pelajaran bahasa Inggris seorang keponakan saya yang masih 5 tahun. Saya saja kesulitan mengerjakannya, apalagi seorang anak kecil, yang jelas-jelas bukan “English speaking”. Hmmm… terlalu. Dan akhirnya saya cuma bisa bilang, “Udah segitu aja gak papa, kan kamu memang nggak tahu. Biar guru kamu juga tahu kalau kamu nggak tahu.” (hehehe…. )

Hari ini saya juga kaget melihat PR pelajaran menulis keponakan yang sama. Disuruh nulis nyambung. Dia berjalan ke arah meja belajar mungilnya dengan ekpresi berkerut, kesal, karena dicuekin sama papanya, sementara dia butuh bantuan.

Lalu saya yang tidak percaya kalau dia benar tidak bisa mengerjakan PR-nya, mulai ikutan membantu. Dan ternyata benar, dia mencoba menulis nyambung dalam kebingungan tingkat tinggi. Kasihan. Padahal saya tahu anak itu cerdas. Tapi dia terlihat bete berat… karena PRnya.

Perasaan sih dulu saya diajar menulis nyambung seperti itu waktu saya sudah SD lho… umur saya sudah 6! Ckckckck… terlalu. Dan saya bilang, “Ya udah bagus! Sekarang bawahnya ditulis lagi.” Biar gurunya tahu, mana hasil asli si anak, dan mana hasil tuntunan tangan orang dewasa…. Dan biar dia juga menikmati hasil karyanya sendiri, dan bukan hasil karya orang lain… wong yang sekolah memang anak kecil kok…baru umur 5 th gitu lho..!

Tidak berapa lama, keponakan yang satu lagi menelepon minta diajari bahasa Mandarin sama papa saya. Wuih!!! Saya jadi mikir, ini yang salah kurikulum jaman sekarang, atau anak-anaknya sih?

Memang anak kecil jaman sekarang jauh lebih pintar dibanding jaman saya dulu, tapi apakah seumur mereka sudah membutuhkan pelajaran-pelajaran njelimet yang mustahil mereka kerjakan sendiri, kecuali minta bantuan orangtuanya? Salah-salah, hasilnya bukan murni dari mereka, tapi dari orangtua. Dan yang akan lebih salah lagi adalah kalau orangtua terobsesi berat sampai akhirnya mengerjakan semua PR anaknya, tanpa partisipasi si anak. Yeah! Kalau udah gitu, yang juara di sekolah adalah si ortu…

Tapi… kalau kita harus selalu bersyukur, maka yang patut disyukuri dari kurikulum pendidikan di negara ini adalah membuat si anak berkomunikasi dengan ortu, dan sebaliknya, ortu akan selalu mendampingi anaknya di setiap hari-hari sekolah mereka.

Kalau dulu ortu bisa cuek saja, karena anak-anak mereka begitu mandiri alias bisa belajar sendiri, dan komunikasi jadi berkurang, maka sekali lagi, komunikasi adalah kelebihan dari kurikulum (pendidikan negara Asia lain) yang banyak tidak masuk akalnya tapi diterapkan di negara ini…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s