OLEH-OLEHNYA ATAU ORANGNYA?

Waktu masih kecil dulu, yang saya harap-harap dan nanti-nantikan sepulangnya orangtua dari bepergian adalah “oleh-oleh” atau buah tangan. Boleh berbentuk apa saja. Yang penting ada wujudnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, kalau mereka pergi kemanapun, saya tidak lagi mencari buah tangan yang dibawa ke rumah, tapi melihat keberadaan mereka saja sudah cukup.

Lucunya, satu hari keponakan saya pernah bertanya, “Ik, tomorrow I’m going to Bali. Mau titip apa? Nanti tak beliin…” dengan ekspresi serius. Ah! Hati saya “berbunga-bunga” ditanya begitu, walaupun tidak tahu kepingin dibelikan apa. Saya akhirnya menjawab, “Kacang Bali aja deh!” Lalu saya lanjutkan, “I wish I could be with you on your holiday.” Dan keponakan saya menjawab, “Ya udah ikut aja!” Maksudnya saya lebih senang berada bersama mereka, ketimbang mendapatkan buah tangan. Tapi sayang, saya tidak punya jatah cuti sebanyak hari liburan mereka.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan “pesanan oleh-oleh” yang diserahterimakan langsung ke saya oleh si keponakan. “This is your kacang,” katanya ke saya. Terharu… Sebenarnya bukan makanan kacang itu yang saya harapkan, tapi “janjinya” untuk menginap di rumah sepulang dari Bali… karena itu berarti saya bisa melihat muka-muka mereka secara langsung. (Dan mereka memang menginap di rumah sepulang berlibur)…

Setelah beberapa hari saya mendapat “little surprises” dari Tuhan, entah itu kue ketan hitam yang dibawakan sahabat sepulangnya dari Bandung (yang saya idam2kan lamaaa…tapi gak kesampean juga, sekalipun saya baru pulang dari Bandung), kendaraan umum bernama busway yang ternyata punya rute baru, langsung ke Harmoni dari tempat saya tinggal, sehingga tidak perlu repot berganti-ganti jurusan untuk tiba di Jakarta Barat, dll. Hari ini, saya mencoba mengingat apa “kejutan” dari Tuhan…. Dan ternyata … tidak ada.

Hidup saya berjalan seperti “biasa”, kecuali satu kalimat yang berkata bahwa: “Tuhan lebih berharga dibanding “kejutan-kejutan” apapun.” Sekalipun tidak ada yang saya perhitungkan sebagai “kejutan kecil” dari Tuhan untuk siap saya catat dalam daily journal, ternyata keberadaan TUHAN adalah hal paling luar biasa.

Saya tidak perlu mencari-cari “oleh-oleh”, ketika saya sadar bahwa TUHAN selalu ada dalam hidup saya. Mengawasi setiap langkah kaki, kemanapun saya pergi. Mengerti isi hati dan pergumulan yang tidak seorang manusia pun bisa memahami.

Tuhan Yesus selalu ada untuk saya, apapun kondisinya…. Itu jauh lebih berharga dari sebuah kejutan, baik kecil maupun besar yang sanggup Dia berikan…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

3 Responses to OLEH-OLEHNYA ATAU ORANGNYA?

  1. Linawati says:

    wah ernaaaaaaaaaa… mak nyoss pas kata kata ini …. “Tuhan lebih berharga dibanding “kejutan-kejutan” apapun.”

  2. Loren says:

    Kalimat “…ternyata keberadaan TUHAN adalah hal paling luar biasa.”

    Bener banget neh… tapi kenapa ya seringkali ngga
    mudeng kalau kehidupan berjalan sepertinya lancar-lancar aja. Tapi pas lagi susahhhh…baru berasa deh Tuhan( itu ada dan ) harus dicari (sampai menjawab doa… )

  3. Erna says:

    @Lina: Iya Lina… terharu biru ya…
    @Loren: Btul Ren… makanya hidup dengan masalah bikin kita bisa kenal Tuhan lebih lagi… yakan.. karena itu, kt sungguh2 cari Tuhan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s