Sarapan Pagi…

Sejak beberapa bulan lalu, sarapan pagi selalu tersedia sebelum saya berangkat kantor. (Thanks to Mbak K). Tapi, demi alasan kesehatan, maka sarapannya selalu sama, bubur gandum, tanpa embel-embel lauk atau apapun! Uah!! Rasanya itu… gak karuan. Dan harus saya habiskan dalam hitungan detik karena mengejar waktu yang selalu mepet, pet, pet…

Jadilah tiap pagi, kalau melihat teman seperjalanan di kiri dan belakang/depan saya membuka sarapan mereka, entah itu bubur ayam atau bakmi ayam yang mereka beli di depan kantor lama, selaluuuu saja saya mulai mupeng (malu de…). Rasa lapar pun bangkit dengan semangat 45 demi mencium bebauan sarapan orang lain. Duh! Jadi saya harus menahaaaan diri dan berkata, “Nggak. Thank you”, tiap kali ditanya, “Mau?” (Tapi kalau dipaksa sih, biasanya 1 atau 2 atau 3 suap masuk ke perut! Yaaa… namanya juga dipaksa, gak enak ati nolaknya… ).

Tapi… beberapa hari terakhir, sarapan bubur gandum yang luar biasa itu mulai punya “teman” (selama ini kadang cuma ditemani telor rebus atau telor mata sapi, selebihnya sooo plain..), entahkah itu tim ayam, dll.

Dan satu pagi, saya berbinar-binar melihat si bubur ditemani oleh ikan masak tauco!! Wuih… girang nian hati ini melihatnya… Bukan kebetulan kalau pagi itu saya tidak perlu buru-buru karena masih punya beberapa menit “istirahat” sebelum “ngebut pakai kaki” keluar rumah. Jadi saya menyantap senikmat mungkin bubur gandum plus ikan yang uenaaaak banget! Puaaasss, puaaasss, puaaasss!

Di bis kantor….

Teman sebelah saya menawari bakmi ayam. “Mau Er? Nih!” katanya sambil menyodorkan sumpit yang masih bersih, baru dia buka plastiknya. Dengan tegas dan santai saya berkata: “Nggak!” Ditawari lagi, saya tetap menjawab yang sama. Kenapa?? Karena saya sudah puaaaasss (kali ini) dengan sarapan sendiri, jadi nggak mupeng lagi sama sarapan kiri-kanan-depan-belakang milik teman!

Saya pun teringat, begitulah kira-kira kondisi saya atau semua manusia di bumi ini, kalau saja mereka tahu dan puas dengan sesuatu, apapun itu, termasuk TUHAN.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea  6:3)

Kalau kita kenal Tuhan, betapa baiknya DIA, hebatnya DIA, ajaibnya TUHAN, percayalah, enggak lagi kita akan “melirik” tuhan lain…

Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. (Mazmur  103:5)

…… karena kita sudah puaaassss menikmati hubungan kita dengan TUHAN….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sarapan Pagi…

  1. mei2 says:

    simple but meaningful,
    like it ^^b

  2. Loren says:

    So…you mean that we are to choose to feel content, right ?
    God bless you Ms. Liem… with contentment in your heart🙂

  3. vera says:

    waah.. daleem..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s