Saya pulaaaannngg!!!

Kemarin, betapapun saya berniat pulang, ternyata saya tidak bisa sampai ke rumah. Kenapa? Banjir dan macet dimana-mana!

Jakarta sudah bukan lagi tempat nyaman untuk ditinggali. Seandainya boleh gampang memilih, maka saya akan menempatkan kota ini jadi prioritas kesekian ribu!

Sudah beberapa bulan belakangan, kondisi jalanan makin parah. Hujan sebentar, macet. Hujan sebentar, genangan dimana-mana. Ini ibukota apa kampung manaaaa gitu. Setiap kali hujan, duh3X, seperti jaman perang ala film-film holywood, berantakan! Sampah berserakan, air kotor dimana-mana, motor-motor mogok, penumpang yang menunggu di pinggir-pinggir jalan, bis, mobil, motor, numpuk di jalan raya! Huh! Ruar biasah!

Jadilah, kemarin saya tidak bisa pulang, karena terjebak macet di jalan.

Puji Tuhan, saat itu saya bersama seorang teman (seperti Alkitab tuliskan, berdua lebih baik daripada seorang diri), dan akhirnya saya pun menginap di rumahnya. Tepaaat beberapa menit sebelum mini market di seberang jalan rumahnya tutup karena sudah jam 10 malam, saya dan teman tadi turun dari angkutan umum, lalu membeli beberapa keperluan, secara saya tidak bawa apapun untuk persiapan menginap!

Hari ini…..

Dengan kondisi badan yang kurang fit, saya harus ke kantor. Karena lokasi kantor yang jauhnya ajubileh dari pusat kota Jakarta, maka mau tidak mau saya tidak bisa ijin setengah hari. Mau naik apa ke kantor/pulang dari kantor? Nah! itu adalah masalah tersendiri yang ternyata hari ini tidak ada solusinya. Jadilah saya tetap harus menjalani jam kerja dalam kondisi badan yang luar biasa lelah!

Pulang dari kantor, lagi-lagi kami dihantui berita-berita mengerikan soal banjir dan macet di sana-sini, karena berita di internet menuliskan bahwa siang hari Jakarta diguyur hujan lebat seperti kemarin. Oh!!

Bis kantor yang saya tumpangi bersama teman-teman, membuat saya turun di daerah Cempaka Putih, dan saya pun turun di situ, sambil harap-harap cemas, apakah saya bisa pulang ke rumah hari ini??

Nyaris 30 menit saya menunggu kendaraan yang biasa lewat, tapi selalu penuh sesak. Saya pun mencari alternatif lain, bis-bis besar? Kali ini, tidak ada satupun dengan rute rumah saya yang lewat di situ!

Tiba-tiba, seorang bapak tua menawarkan jasa ojek, setelah tukang ojek muda sebelumnya juga menawarkan diri. Seumur hidup, belum pernah saya menaiki kendaraan umum bernama Ojek! Ngeri saja membayangkan harus dibonceng oleh orang asing. Saya pun mengganggap si bapak tua tadi “angin lalu”.

Tapi setelah lama menunggu, saya sudah tidak tahan lagi, dan mulai melangkahkan kaki, tapi tidak tahu harus kemana. Mungkin, saya harus naik busway? Atau ke trotoar tengah jalan, secara pinggiran jalanan tergenang air lalu menunggu angkot yang sama di situ? Atau menghentikan taksi?

Selagi berjalan, kurang lebih 3 meter dari tempat saya berdiri, tiba-tiba, saya melihat si bapak tua tukang ojek tadi masih nongkrong di pinggir jalan. Saya pun membayangkan betapa nyamannya kalau saya tiba di rumah sesuai kalimatnya, “Ojek, ojek! Biar cepet sampe rumah!!” Dan saya pun “termakan” promosi si bapak lalu menawar harga. Deal!! Saya kemudian membonceng di belakang bapak tua tadi. Dia memberikan helmnya sendiri yang hmm… baunya ajubileh, karena helm penumpang basah kuyup! Tiba-tiba saya ingat, tadi pagi selesai makan bubur, saya melipat kantong kresek si bubur dan memasukkannya ke dalam tas!

“Nih pak! Saya punya plastik!” kata saya ke si bapak yang langsung memakai plastik bening itu menutupi kepalanya, lalu baru dipakainya si helm basah itu, sambil berterima kasih.
“Saya juga liat-liat orang kalau ngojek! Soalnya saya pernah ditodong!” kata si bapak.
“Oh gitu?!” sahut saya, sambil berkata dalam hati, “Saya juga pak, liat-liat tukang ojeknya dulu, kalau setua bapak sih masih mending dah!”

Obrolan berlanjut terus. Si bapak cukup “talkative” dengan topik-topiknya. Dia pernah diminta antar penumpangnya ke Bandung!

“Hah?! Bandung pak?” jawab saya kaget.
“Iya!” katanya.
Dll, dll, dll.

Saya begitu hepi, karena melintas di jalan-jalan menuju rumah dengan lancar dan aman. Semakin dekat, semakin dekat daaaannnn…..

Sampailah saya di rumah sekitar jam 6.30 malam! Haleluya!!! Akhirnya saya pulaaaannnggg jugaaaaaa!!!! Senangnyaaaaa bisa ada di rumah!

Hidup OJEK! (Kendaraan yang tadinya saya “antipati”…..)….ternyata disediakan TUHAN jadi kendaraan paling nyaman dan aman buat saya sore ini!

Kadang memang apa yang kita pikirkan, tidak sama dengan yang TUHAN pikirkan. Yah! Itulah “hikmah” yang saya pelajari dari kejadian naik ojek hari ini… jadi kita harus mengucap syukur senantiasa… (NB: pulang rumah, saya harus keramas tentunya, karena rambut saya “terkontaminasi” bau helm si bapak… )

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

One Response to Saya pulaaaannngg!!!

  1. Loren says:

    Oh Ms. Liem,

    Ternyata pengalaman kita sama. Waktu banjir parah kemarin, aku juga naik ojek.
    weird… cause at that time I was really scared to go home by ojek which mean by motorcycle…
    Pheww…I didn’t like it… ngeri karena banjir dan hujan turun terus, takut menabrak atau ditabrak atau jatuh tergelincir…

    Thanks for remind me to give thanks to the Lord.
    Thank you Jesus my Lord for your protection and guidance. Teach us to see everything by faith. amen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s