Practice Makes Perfect

Jaman dulu, belum ada qwerty board dan smartphone seperti sekarang. Jadi komunikasi dilakukan selain langsung audible, tapi juga lewat SMS, sekali lagi, tanpa qwerty board.

Nah, sehubungan dengan SMS2an ini, entah berapa kali, setiap mulai mengetik SMS, baik pendek ataupun panjang isinya, saya suka terlewat satu kata, atau susunan kata yang terketik berantakan.

Contoh: “Udah sampe nih gua!”, adalah SMS yang saya ketik, padahal seharusnya saya bisa mengetik dengan susunan benar seperti ini: “Gua udah sampe nih!”

Contoh lain: “Dah nih!” dan langsung saya kirim. Padahal sudah beberapa menit berlalu, sehingga SMS tadi cukup tidak nyambung buat si penerima. Menimbulkan pertanyaan, “Apanya yang ‘dah nih!’??”. Dan saya harus sekali lagi mengirimkan SMS balasan karena benar bahwa si penerima mempertanyakan. “Buletinnya sudah jadi nih! Bisa diambil di rumah ya…” adalah SMS saya yang lebih lengkap.

Lama-lama saya mikir, saya harus mulai menata susunan kata yang saya ketik sebelum meng-klik ‘send’ dan, saya harus mengetik dengan jelas.

Puji Tuhan, sekarang mulai ada qwerty board. Jadi kalau dulu saya suka membaca kembali SMS yang saya ketik, dan bila kurang kata atau salah susunan katanya, maka saya harus men-delete atau kembali ke spasi-spasi antar kata untuk menyisipkan kata baru, supaya SMS diterima lebih jelas, maka thanks to the creator of qwerty board! Saya cukup menggerakkan “cursor” di layar dan mengetik dengan lebih gampang plus cepat untuk mengoreksi kalimat yang “berantakan” susunannya.

Tapi seiring berjalannya waktu, latihan merevisi kata-kata ini mulai menunjukkan hasilnya. Belakangan, saya mulai sadar, “Kok gua gak perlu lagi bolak-balik revisi kalimat yang gua ketikkan ya?”

It works!! Latihan menyusun kata dengan benar dan menulis kalimat dengan sejelas mungkin, mulai terlihat hasilnya…

Padahal dulu saya sering menegur diri sendiri, “Doowwh, kenapa sih lupa melulu. Mbok kalau ngetik itu, subyeknya dulu diketik, jangan kata kerjanya dulu atau obyeknya dulu! Yang baca bingung deh jadinya….!”

Tapi sekarang saya agak berbangga diri…. Karena sekali ketik, rapi. Jadi tidak perlu delete atau menyisipkan kata di antara kata, walaupun memang jauh lebih gampang, secara sudah pakai qwerty board itu tadi.

Pelajarannya adalah, practice makes perfect! Setiap hal baru membutuhkan “latihan”! Jangan pernah menganggap bahwa latihan tidak berguna, tapi sebaliknya, Latihan itu selalu membuahkan hasil yang nyata! Mungkin permasalahannya hanyalah soal waktu. Tapi, cepat atau lambat, ketika kita mau dan terus mau untuk berlatih, maka kita akan menuai hasil dari latihan yang kita lakukan, dalam segala hal!

Practice makes perfect, indeed!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

One Response to Practice Makes Perfect

  1. Si Tidak Teliti says:

    Sampai sekarang saya sering kalo ngetik SMS/Chat kelewat 1 – 2 kata
    Kirain tadinya ini penyakit semacam disleksia
    Ternyata cuma faktor ketidaktelitian yah ha ha ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s