Rasa Kehilangan yang Dalam…

Tahun ini saya mengerti apa arti atau rasanya kehilangan seseorang. Kakak pertama saya meninggal dalam usia sangat muda, 44 tahun. Sejak terdiagnosa penyakit ganas, dalam waktu 4 bulan dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi tubuh yang sangat kurus, lemah, walaupun secara mental dan roh dia masih menyala-nyala.

Dari antara saudara kandung papa dan mama, yang memiliki anak paling banyak adalah mereka. Lima kakak beradik dalam keluarga saya, sekarang tinggal empat. Memikirkan itu cuma satu kata yang bisa menggambarkan kondisi hati saya. Sedih.

Berhari-hari saya protes dan tidak terima, kenapa Tuhan biarkan semua proses perawatan yang membuat kondisinya justru makin drop dilakukan, dan masih ditambah berujung pada kematian. It was just so unfair to me.

Walaupun tidak terlalu akrab, buat saya kehilangan yang paling dalam adalah kehilangan seorang kakak, di bulan terakhir di tahun yang dijanjikan Tuhan sebagai Tahun Pemulihan dan Kelimpahan.

Rasanya tidak ada lagi kesenangan dalam keluarga kami sejak kepergian kakak saya. Bahkan papa yang setiap hari hampir 10 jam non-stop (I think) menghabiskan waktunya di depan TV sudah beberapa bulan sejak mendengar kakak saya sakit, tidak lagi melakukan rutinitas itu. Sekalipun ketika TV rusak, dan langsung mendapat TV baru dari anak-anaknya, papa juga tidak bersemangat untuk menonton TV. Tidak seperti biasa.

Mama yang tidak pernah atau jarang sekali terlihat menangis, beberapa kali menangis dengan ekspresi sangat sedih. Papa juga.

Hancur hati saya melihat semuanya… rasa kehilangan yang amat sangat dalam… membuat saya menarik diri dalam banyak hal. Tidak bersemangat melakukan rutinitas pribadi.

Tapi kalau kata orang life goes on, maka di tengah kesedihan yang sangat dalam, tidak seorang pun tahu dan bisa ikut merasakan, saya tetap harus ngantor, tetap harus melakukan editing buletin, harus menghitung buletin untuk dibagi-bagikan, dan membagi waktu saya untuk yang lain. Tetap tersenyum waktu ditanya, “Kakaknya sakit apa? Kakaknya umur berapa? Sejak kapan sakit? Ooo… kasian ya, masih muda?” dsb, dsb. Saya toh tidak bisa menyuruh mereka diam atau melarang untuk bertanya. Sementara saya harus menjawab tanpa air mata. Berat rasanya. Ingin libur selama 1 bulan, supaya teman-teman kantor sudah lupa bahwa kakak saya meninggal, karena kalau sudah lewat 1 bulan, biasanya orang lupa untuk bertanya. Tapi hanya untuk menghindari tidak ditanya teman, saya harus mengambil cuti 1 bulan? It’s a silly thing to do…

Sampai di satu titik, kekecewaan saya begitu dalam. Skeptis rasanya. Tiba2 saya ingat, bahwa Selasa kemarin harus menghadiri acara gereja. I hope there’s something fresh there. Dan… benar. Dua kata saya dapatkan, “rendah hati”.

Rabu pagi ini saya juga membaca kiriman email dari penulis Max Lucado bahwa “Akulah kebangkitan dan hidup…”. Yang artinya, Tuhan punya otoritas tertinggi atas seluruh alam semesta dan isinya, termasuk umur manusia. Saya dipaksa Tuhan percaya bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Dan itu artinya ada pengharapan di dalam Tuhan sekalipun sudah melewati kematian. (Sebelumnya saya terus protes, apa benar kematian lebih baik dari kehidupan di dunia? I didn’t think so.)

Bahkan waktu hari Minggu ibadah pun, dua kali saya mendengar kotbah bahwa Tuhan yang punya otoritas atas kehidupan dan kematian seseorang.

Saya harus rendah hati untuk bisa menerima kedaulatan Tuhan dalam hidup saya. Betapapun berat kehilangan seorang kakak. Lima bersaudara yang saya banggakan, harus tinggal empat sekarang. Tidak seorangpun dapat menyelami pikiran Tuhan. Tanpa peduli berapa lama saya “ikut” Tuhan… ternyata pengetahuan saya tidak bisa menyelami pikiranNya. Dan akhirnya saya cuma bisa melakukan bagian saya, yaitu rendah hati, dan tetap rendah hati….

Rendah hati untuk berlapang dada menerima keputusan Tuhan, apapun itu. Rendah hati untuk menerima pemulihan Tuhan secara supranatural, (I didn’t think I need that before) tanpa harus saya rencanakan dan bayangkan bahwa cara-cara pemulihannya harus seperti ini, lewat ini, begini atau begitu…. tapi cukup berserah penuh…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

3 Responses to Rasa Kehilangan yang Dalam…

  1. Illy says:

    Deepest sympathy from me. I am grieving for your loss.

    Sangat wajar kita berduka di saat kita kehilangan salah satu anggota keluarga dekat dan kita kasihi……
    Ijinkan proses duka ini lewat, namun di saat yg sama taruhlah iman dan keyakinan kita kepada Allah.
    “Tak ada yang terjadi di dalam hidup kita TANPA seijin DIA”

    GBU

  2. cicilia liem says:

    Relax dear, GOD’s in charge

  3. Loren says:

    Ms. Liem,
    I can’t say anything to make you feel better.
    Sometimes we don’t have to think or do anything at all in the middle of circumstances.
    Be calm. The Lord is sitting next to you and our Father knew how you feel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s