Hidup Bijaksana

Tahun ini diakhiri dengan “hantaman keras” buat saya. Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya di https://godmeandmydiary.wordpress.com/2010/12/15/rasa-kehilangan-yang-dalam/

Tahun ini mengecewakan. Itu yang saya rasakan sebelum saya menulis blog di atas. Sampai beberapa hari setelah tulisan itu jadi, saya masih mencoba menyelami apa maunya Tuhan. Dan akhirnya seperti ini pengertian yang saya dapat:

Dalam Pengkotbah 1:2b dituliskan, “segala sesuatu adalah sia-sia”. Hmm… bener juga sih. apa yang dikerjakan kakak saya sepertinya kok ya cuma sampai pada titik itu saja. Orang Jawa bilang, “Kok yo mung ngono wae…” Dan ada kejadian lain yang membuat saya berpikir, “Gua cuma sampe segini aja ternyata…”

Nasib semua orang sama, begitu kata penulis Kitab Pengkotbah. Yang saleh ya sama, yang enggak pun sama. Dan saya pun berpikir, “kesalehan” yang saya bangun selama ini, nanti juga ujungnya “mung ngono wae…” Jadi buat apa menjadi orang saleh?

“Harta gak dibawa mati,” begitu nasihat para tetua. Jadi buat apa menimbun harta?

Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal ini pun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan. (Pkh 1:17-18). Jadi buat apa punya hikmat?

Dan saya mendapati bahwa, betapa rapuhnya manusia. Bahkan untuk bisa menikmati hidup saja, tidak sanggup, kalau bukan Tuhan yang memberinya kesanggupan untuk menikmati hidupnya. Baca ayat di bawah ini:

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah (Pkh 2:24)

Dan saya sampai di ayat berikut:

maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya. (Pkh 8:17)

Si penulis kitab ini hikmatnya sangat tinggi, jadi saya memutuskan untuk percaya saja kepadanya, bahwa manusia seperti saya (I used to think that I am smarter than 5th grader) pun tidak akan pernah bisa menyelami apa maunya Tuhan…

Karena cuma Tuhan yang punya otoritas tertinggi atas alam semesta dan isinya. Itu sebabnya, manusia wajib mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia ini kembali ke Tuhan. Jadi, this life is all about God.

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pkh 12:13-14)

Jadi bagaimana saya menyikapi hidup yang rapuh ini?

Menyerah kepada keadaan lalu ikut arus dunia karena toh semuanya bernasib sama (katanya ujung2nya juga kapling 4m2)? Ternyata enggak!

Di ayat terakhir tadi, ada tulisan yang jelas terbaca: takut akan Allah dan berpegang pada perintahNya, karena ujung hidup saya, bukan cuma setelah nafas tidak lagi berhembus, tapi masih ada kematian atau kehidupan kedua setelahnya….tergantung apakah selama hidup saya takut akan Tuhan dan taat sama Dia.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s