Proses…

Dulu, saya termasuk tipe orang yang suka lari dari proses. Contoh, saya paling takuuut maju ke depan kelas untuk berdiskusi. Maka saya akan memilih untuk “berdoa”. Entah bagaimana, saya lolos.

Contoh lain, saya pernah takut sama seorang dosen yang agak “SARA”. Dan saya pun memilih untuk berdoa supaya bisa lulus dari pelajaran yang dibawakan dosen itu. Maka, lagi-lagi saya lolos. Dosen yang sama hanya mengajar dua kali, lalu digantikan dosen lain karena beliau sakit keras dan tidak bisa melanjutkan tugasnya sebagai dosen.

Masih ada beberapa contoh “lolos-lolos” yang lain, setiap kali saya menghadapi proses hidup atau masalah yang membuat saya takut. Tapi seiring berjalannya waktu, hal ini membuat saya keenakan. Tanpa sadar entah dengan penuh kesadaran, saya suka bete kalau ada masalah menghadang.

Contoh, waktu saya harus mau tidak mau berhadapan dengan pilihan yang saya buat sendiri untuk berhenti dari pekerjaan di kantor lama, dan pindah ke kantor sebuah majalah Kristen. Pada hari pertama bekerja, saya mendapati bahwa kantor baru kok seperti pasar. Ramai sekali. Teman-teman berbicara dengan volume kencang, yang membuat saya pusing karena tidak biasa bekerja dalam suasana kantor yang tidak hening seperti sebelumnya.

Haduuuh… saya pun langsung menyesal, seperti sedang mengalami “penyesalan seumur hidup”. Saya buru-buru mengirimkan SMS ke seorang adik saya, dan mencurahkan isi hati yang sedang galau segalau-galaunya waktu itu. Tapi balasan yang saya terima cukup “menenangkan”. Katanya, “Kan ini baru hari pertama, pasti harus ada penyesuaian. Nanti juga lama-lama terbiasa.” Dan suasana hati saya pun seperti lautan yang tadinya ribut terkena angin badai, mendadak reda. Benar saja, beberapa jam setelahnya, saya tiba-tba menjadi betah. Bahkan tekad untuk “bertahan dengan pilihan hidup” bekerja di kantor ini, menjadi teguh kembali.

Beberapa kali saya diajar Tuhan untuk tidak lari dari proses.

Salah satu contohnya adalah ketika saya harus merasa sangat tidak nyaman, tidak betah, dan ingin secepatnya angkat kaki dari sebuah kantor karena banyaknya “kasus” yang dilakukan oleh teman kantor tapi tidak ada tindakan apapun dari pimpinan. Sampai satu saat, saya sudah tidak kuat lagi. Puji Tuhan, sore itu, akhirnya saya berlutut di pinggir tempat tidur, di dalam kamar saya, untuk mengerang atas apa yang saya lihat dan alami di kantor. Dan satu kalimat yang Tuhan berikan kepada saya adalah: “Endure the hardship”! Jadi Tuhan meminta saya untuk tidak lari dari proses/masalah yang sedang terjadi, betapapun saya sudah tidak kuat lagi menghadapinya. Saya cukup kaget mendengar kalimat itu yang tiba-tiba muncul dalam hati tapi begitu jelas “terdengar”. Dan saya pun pasrah. “Baiklah Tuhan, kalau itu yang Engkau mau, yaitu supaya aku bertahan di situ… entah sampai kapan,” jawab saya dengan hati yang sangat berat dan air mata bercucuran.

Anehnya, setelah sore itu, beban saya seperti terangkat. Enteng rasanya. Dan, beberapa hari, tidak sampai seminggu, tiba-tiba apa yang saya doakan Tuhan jawab! “Kasus” di kantor tadi tersolusi secara “instan”. Sekali lagi saya berlutut berterima kasih kepada Tuhan, karena ternyata TUHAN tidak meminta saya “bertahan” tanpa alasan. Seandainya saya berhenti dari pekerjaan gara-gara “kasus” tadi, maka saya tidak akan pernah sampai pada waktu dimana saya bisa melihat bahwa TUHAN adalah TUHAN yang bertindak. Lagipula, pernah saya berhenti dari pekerjaan dan harus merasakan jadi pengangguran selama kurang lebih setahun…. Rasanya sangat “menderita”… luntang-lantung tanpa pekerjaan dan penghasilan… Jadi beruntunglah saya yang tidak “gegabah” berhenti dari pekerjaan gara-gara menghadapi “proses” di situ.

Tuhan mengajarkan saya bahwa memang proses hidup (apapun itu, entahkah sakit penyakit, bos yang aneh, keluarga yang berantakan, dll) bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi. Mengapa? Karena percayalah bahwa ketika kita tidak melarikan diri kepada hal-hal lain (cari dukun, resign dari kantor yang bosnya aneh, ketergantungan narkoba, dll) tapi justru makin bergantung sama Tuhan supaya tetap kuat bertahan menghadapi proses yang ada, maka di saat yang sama, Tuhan sedang memroses karakter kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hidup kita pun jadi lebih berkualitas, berintegritas, tidak mudah menyerah, tidak malas, dan banyak sifat serta kebiasaan baik yang pasti berbuahkan kebaikan untuk diri kita di masa depan!

Jadi, untuk bisa bertahan dalam proses, kita harus bertahan bersama TUHAN, dan menjadi orang yang rendah hati!

Hanya orang yang rendah hati, yang akan selalu mengandalkan Tuhan ketika menghadapi proses dalam hidupnya…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

One Response to Proses…

  1. Loren says:

    Ms. Liem,
    What a lesson!
    Make God our Immanuel dan humility.
    I am learning those too…
    God bless you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s