Jato di pinggir jalan…

What a silly thought I had that day…

“Gua dah lamaaa gak pernah jatoh nih. Dulu waktu kecil adaaaa aja. Yang pas lari abis beli makanan dari toko sebelah balik ke rumah, lah, jatoh. Yang lagi main-main sama sepupu saya, lah, jatoh, dan agak parah, sampai meninggalkan bekas di lutut saya till today. Yang lagi turun atau naik tangga, lah, jatoh. Pokoknya sering. Yang lagi bawa sesuatu, lah, itu barang bisa jatoh. Sampai cici saya bilang, “Elu nih yah, pegang apa-apa jatoh!” It’s like an icon, “kalo gak jatoh bukan “abc” namanya (=nama rumah saya)”….

Dan… sore ini, enak-enak jalan di trotoar yang sudah berubah fungsi jadi tempat usaha para penghuni liar di pinggir jalan, tiba-tiba kaki kanan saya terpeleset. Terlepaslah dari “jalur pinggiran trotoar yang saya injak”. Tas saya jatoh ke kubangan comberan yang hitam pekat (genangan air hujan campur air kali yang masih tersisa di pinggiran jalan), dan saya jatoh dengan kedua lutut mengenai lantai kasar di trotoar. Perih lututnya, merah, ada luka setitik-setitik gitu, dan malunya… ampuuuun….

Bapak-bapak di pinggir jalan pasti pada mikir: “Cakep2 jato.. kasian de lu!” (Saya gak mau lagi nengok kiri-kanan, langsung ngacir dengan ekpresi nyengir antara perih di bagian kedua lutut, memar di pergelangan kaki kanan, daaan malu!)

Ah! Hidup memang tidak bisa diprediksi. Thank God for giving me such “revelation”. Bahwa hidup ini adalah untuk sehari.

Saya pernah membaca cerita seorang anak yang bertanya sama papanya, bisa nggak kita nggak melakukan dosa dalam sehari? Kata papanya nggak bisa. Sejam? Kata papanya, mungkin bisa. Kalau gitu, hiduplah dalam kebenaran setiap satu jam saja! Nanti kita akan berusaha untuk hidup dalam kebenaran pada jam berikutnya, dan seterusnya.

Kesusahan sehari cukup untuk sehari, begitu kata Alkitab. Jadi… kalau saya jato sore ini, padahal sudah hampir dekat rumah, dan saya pikir sudah aman sentosa, tapi ternyata gedubrakan di pinggir jalan (so embarrassing), sepertinya membuat saya sadar bahwa hidup memang punya kesusahannya sehari demi sehari! Untuk itu, hiduplah dalam jam demi jam, dalam rasa syukur atas anugrah Tuhan sekalipun di tengah perjuangan hidup yang nggak gampang.

In the midst of it all, God really is with us and for us. I have found that even during those times when the path is darkest, He leaves little bits of evidence all along the way-bread crumbs of grace-that can give me what I need to take the next step. But I can only find them if I choose to SEE. (Mary Beth Chapman from “Choosing to SEE”)

Saya tutup tulisan ini dengan kalimat sangat menyentuh dari si penulis buku Choosing to SEE. Ketika keadaan jadi begitu gelap sampai kita seolah nggak bisa melakukan apapun, sesungguhnya TUHAN tetap memberikan anugrahNYA, cuma… kita baru bisa melihatnya waktu kita MEMILIH untuk MELIHAT anugrah Tuhan itu…

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s