Kebiasaan Baik VS Jelek

Beberapa tahun lalu, waktu saya masih di Sekolah Dasar, saya adalah anak pindahan. Dengan julukan “jawa kowek” (saya bete sampai sekarang, kenapa orang-orang itu memanggil saya dengan julukan itu… so impolite!), saya yang masih pendatang baru dari “kampung” bengong. “Ngomong apa sih nih orang-orang aneh?” kata saya dalam hati.

Ternyata di sekolah yang baru, minta ampun, teman-temannya super duper bandel-bandel. Ada yang bermuka “nyolot” kalau diomelin guru, sampai harus dihajar di depan kelas. Dia disuruh menghadap papan tulis, lalu bagian betisnya dipukul secara kalap oleh guru saya. (Cat: semua guru di sekolah itu are like cannibals, kaya mau makan orang gitu deh…sorry to say, walau agak lebay, tapi asli mereka guru-guru tergalak seumur hidup saya bersekolah.) Dan saya melihat dengan kengerian sangat, penggaris kayu yang dipakai untuk menulis atau menggambar di papan tulis berkapur, dipukulkan ke arah betis teman saya tadi, sampai terburai-burai… (penggarisnya, bukan betisnya). Dan karena penggaris pertama hancur berantakan, diambillah penggaris baru, sampai saya melihat urat-urat di betis teman saya mulai merah-merah, mungkin sudah berdarah, dan saya menyaksikannya masih dalam kengerian yang sangat. Haduuuh so scarry…

Lalu ada seorang teman lain yang juga sering bernasib sama, dihajar dengan penggaris papan tulis saking bandelnya. Sebut saja si A.

Nah! Satu hari, semua murid diperintahkan untuk mengumpulkan sebuah buku cetak ke dalam lemari. Dan suatu hari kemudian, sang guru meminta semua murid mengambil buku masing-masing. Setelah semua mengambil buku dan kembali ke tempat duduk, tinggallah saya dan si A yang masih berdiri dengan muka bingung di depan lemari. Mengapa? Karena buku di dalamnya hanya tersisa satu!

“Ini buku kamu? Yakin?” kata ibu guru ke saya. Dan dengan tampang polos “kampung”, saya berkata, “Iya bu, itu buku saya.” Padahal jelas tertulis di halaman depan buku, nama si A!!

Beberapa detik berikut. Keajaiban terjadi!! Ibu guru memberikan buku itu ke saya! Saya menerima dengan ditatap heran oleh si A, karena muka saya yang polos juga berubah jadi heran dan perasaan saya terasa sangat aneh. Sampai saat ini, saya menyesal karena telah mengakui milik orang lain… (What a scarry experience for me!)

Sebenarnya saya bukan bermaksud begitu, tapi asli lupa, apakah saya ini sudah membeli buku itu atau belum. Jadi karena 70% saya yakin dan percaya bahwa saya sudah membeli dan itu adalah buku saya, maka sekalipun tertulis nama si A, tetap saja saya mengakuinya sebagai “buku saya”. Haduuuh….

Pertanyaannya: “Mengapa si guru lebih percaya sama saya?”

Jawabannya: “Karena saya gadis jujur nan polos dari kampung yang tidak pernah punya record aneh-aneh (sekalipun pernah ketinggalan buku PR dan “ditarik rambut di atas kuping saya-sakitnya bukan main” sama salah satu ibu guru. “Kejam dot com”.), sementara si A adalah murid super duper bandel yang sering bikin jengkel para guru!”

Ingat ini: Kebiasaan kita akan dijadikan “identitas diri” oleh orang lain untuk mengenali kita!

Jadi beruntunglah saya yang punya kebiasaan baik yaitu “jujur”, sehingga ketika saya “berbohong”, orang lain tidak percaya bahwa itu adalah “identitas” saya. Mereka akan tetap memercayai saya dan berkata, “Nggak mungkin dia berbohong karena orangnya jujur!”

Dan betapa tidak beruntungnya teman saya si A tadi (sorry for the book…). Ketika dia berkata jujur mengakui bahwa buku itu adalah bukunya, guru saya mengidentifikasinya sebagai “kebohongan”, karena itulah identitas dirinya yang memang suka berbohong.

Seperti apa kita menginginkan orang lain menilai dan mengenali diri kita? Seperti itulah yang harus kita perkatakan dan konsistenkan dengan perbuatan kita.

Mau dikenali sebagai apa dan siapa? Jaga perkataan dan perbuatan kita murni dan tulus di hadapan Tuhan dan sesama! Dan kita pasti menuai hasilnya (pastinya: hasil yang baik)!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kebiasaan Baik VS Jelek

  1. Loren says:

    Wah…Ms.Liem, never thought you had that kind of experience.
    better honest than lie. I agree.

  2. leo says:

    Ya begitulah guru2 jaman dulu. Bukannya menganalisa kenapa seorang murid bandel dan menyelesaikannya tapi malah menghukum. Curing the symptom is not curing the disease…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s