“Tuhan, Engkau baik…”

Satu pagi, saya mendapat BM dari seorang teman. Selain BMnya yang terbaca, statusnya pun saya baca. “The Lord is awesome”.

Ehm… kadang memang gampang memuji-muji Tuhan dan mengeluarkan kalimat sanjungan buat Tuhan, pada waktu kondisi yang sedang kita alami baik-baik saja. Everything is just fine, really-really fine.

Karir lagi naik. Sedang sangat dibutuhkan oleh perusahaan dimana kita bekerja. Menerima kenaikan gaji yang signifikan. Disponsori seseorang untuk berlibur di luar kota atau bahkan luar negeri. Dan keadaan lain yang sangat menyenangkan.

Semuanya itu membuat kita dengan gampang bersyukur kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan luar biasa!”

“Tuhan baik!”

“God is wonderful!”

dan kata-kata manis lain buat Tuhan.

Saya pun mencoba “flash-back” atas kehidupan pribadi. Ada rentetan peristiwa dalam hidup yang harus saya hadapi, dan ternyata tidak terlihat “kebaikan” di dalamnya.

What should I say? Percayalah, I said nothing. Mulut terbungkam rasanya untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Bahkan, kebaikan yang saya terima: bisa selalu bangun pagi (walau sempat sakit punggung karena masuk angin – saya juga tidak tahu apa hubungannya sakit punggung dan masuk angin, tapi memang waktu dikerik menggunakan metode koin perak+telor ayam, terlihat angin dalam tubuh saya “mengamuk”), bisa makan semua jenis makanan (tanpa ada larangan atau pantangan dari dokter), bisa haha-hehe sama teman, mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sekeliling, dan lain-lain, rasanya lenyap ditutupi oleh “rentetan peristiwa” tidak nyaman yang harus saya hadapi.

Masihkah saya bisa bersyukur kepada Tuhan, dan berkata “Lord, You are awesome!”?
Sejujurnya? Tidak…

Mazmur 50:23 (NIV) menulis begini: Those who sacrifice thank offerings honor me…

Saya mendapatkan ayat ini bertahun-tahun lalu, waktu saya mencoba mengerti, seperti apa sih arti dari “menghormati Tuhan?” dan tidak lama bertanya-tanya, ayat tadi saya baca.

Ternyata, untuk menghormati Tuhan, saya harus memberikan “korban syukur”. Jadi waktu keadaan baik-baik saja, ucapan syukur saya belum bisa disebut sebagai “korban syukur”. Karena yang namanya korban, pasti ada sesuatu yang amat sangat tidak nyaman yang harus saya buat, untuk sesama atau Tuhan.

Mana waktu paling tepat untuk menghormati Tuhan? Yaitu pada waktu saya tetap mengucapkan syukur dan berkata “Tuhan baik, apapun yang terjadi”, “Tuhan dahsyat”, “Tuhan luar biasa”, dan lain-lain pujian kepada Tuhan, sekalipun apa yang sedang saya alami bukan tentang kenaikan gaji yang signifikan, bukan tentang karir yang menanjak, bukan tentang jadi orang yang dibutuhkan oleh perusahaan, tidak sedang akan jalan-jalan keliling dunia, atau apapun itu…

“Tuhan, Engkau baik…” kata saya sambil menangis… saya mau punya hubungan dengan Tuhan, yang tidak didasarkan atas “berkat”, “kesenangan”, “hati yang hepi”, tapi karena saya tahu dan mengerti akan cinta dan kasih sayangNYA… yang ternyata tidak bisa diukur oleh ada atau tidaknya “hadiah-hadiah” indah yang kasat mata…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s