Kebaikan yang Mengharukan

Hari ini, saya sebal dengan tingkah laku dua orang. Tapi sudahlah. Untung tidak saya “semprot” (lagipula mereka bukan nyamuk kan. Yaaa.. biar Tuhan yang balas deh…). Lalu sorenya waktu pulang rumah, saya berjalan kaki menuju komplek, dan tiba-tiba mendengar teriakan: “Kruuuukk!!” Itu seperti suara bapak penjual rujak serut, pikir saya. Setelah mengunci pintu rumah, saya melihatnya dari balik pintu kaca rumah, dan ternyata benar. Si bapak tua itu. Dia sedang tidak pakai topi, berjalan ke arah luar komplek.

Saya bukan tipe orang yang suka jajan. Mungkin karena sejak kecil memang tidak terlalu “gaul”, jadi anak rumahan, yang kalau nyeberang jalan saja takutnya setengah mateng. (hubungannya dengan tidak suka jajan? Ya itu… kurang gaul, jadi di rumah saja, lalu tidak punya teman hang out yang pastinya bakal jajan2 di luar kalau keluar bareng). Di samping itu, semakin saya besar, papa “mendoktrinasi” bahwa “jajanan di luar itu tidak higienis”. Maka jadilah seperti ini diri saya.

Tapi memori yang saya lihat tentang sosok tua si bapak tadi melekat erat di kepala. Dan lalu… “Kasihan… beli ah!” kata saya ke Mbak Tee di rumah.

Saya pun keluar rumah, dan berlari mengejar si bapak yang sudah keluar komplek. Karena dia “tuli” maka saya kejar tanpa suara, lalu setelah dekat, saya tepuk-tepuk pundaknya. “Pak! Beli rujak!” kata saya.

“Oh! Iya… “ jawabnya dengan senyuman yang membuat saya semakin lunglai… maksudnya, karena si bapak tua itu terkenal amat sangat baik. Dia lalu memarkir gerobak dorongnya ke tepi jalan dan bertanya: “pedes nggak?”
“Nggak!” kata saya sambil membuat gerakan “tidak” dengan telapak tangan. Supaya lebih jelas diterima oleh si bapak.
“Saya ambil uang dulu!” setengah berteriak saya berkata begitu. Dan dia bilang, “Oh iya!”

Saya pulang ke rumah, mengambil uang sepuluh ribu. Dan kembali ada di dekat si bapak yang mulai “mengulek” (I don’t know this word in Bahasa) bumbu rujaknya.

“Diserut neng?” tanyanya.
“Iya!”
“Nanas mau?”
“Mau!”
“Langganan saya sudah kebanyakan!” katanya.
“Puji Tuhan pak kalau banyak,” jawab saya.
Si bapak diam…. (dia tidak mendengar sepertinya).
“Langganan saya baik-baik!” kata si bapak.
“Bapak juga baik,” sahut saya.
Diam… (sepertinya dia tidak dengar juga).

Akhirnya…
Saya memberinya uang sepuluh ribu.

“Berapa ini?” tanyanya sambil mendekatkan matanya yang berkacamata tebal ke arah uang kertas sampai sedekat 1cm antara matanya dengan uang itu.
“Sepuluh ribu! Sepuluh ribu pak!” kata saya agak kencang.

“Oh! Kembali dua ribu!” katanya sambil mengeluarkan uang dua ribu.
“Nggak usah pak!” kata saya sambil menggerakkan telapak tangan ke kiri dan kanan, tanda “tidak usah”.
“Terima kasih ya!” jawabnya dengan senyuman.

Sungguh kebaikan hati (si Bapak) yang sangat mengharukan. Saya cuma bisa berdoa supaya si bapak ketemu langsung sama malaikat Tuhan dan terima keselamatan. Karena matanya sudah sulit melihat, telinganya pun sulit mendengar. Mau bilang apa? Nothing… kecuali berdoa buat si bapak…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kebaikan yang Mengharukan

  1. linawati santoso says:

    yang baca juga jadi terharu!!!

  2. Vivin says:

    Jek.. ini tukang rujak yg biasa? jaman jebot itu?? heh?? masih ada??
    Mesakne yo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s