Nyaris Gratis Ongkos Bis…

Pagi itu, 14 Juli 2011, saya naik Kopaja. Dari dompet kain saya yang luar biasa itu saya mengeluarkan uang Rp 5.000,-.
“Kurang seribu! Nanti!” kata keneknya yang seharusnya mengembalikan Rp 3.000,- ke saya. Lalu, uang 2.000 dari si kenek saya masukkan ke dompet yang sama.

Beberapa kali si kenek mondar-mandir, tapi sepertinya anteng saja. Saya lalu putar otak, direlakan saja 1.000 untuk si kenek, atau saya korek-korek dompet mencari koin 500-an untuk saya tukar dengan 2.000-nya si kenek. Ketemu 1.500.

Entah karena apa, saya tiba-tiba lupa. Begitu saya buka dompet kain saya.
“Loh kok ada dua ribuan?!” kata saya dalam hati.

Saya pun merencanakan sesuatu.
“Pak, pak, kembaliin uang saya, ini tuker! Saya udah bayar tadi,” kata saya sambil “noel” pundak si kenek.
“Udah bayar tadi?” tanya keneknya dengan muka bingung.

Saya pikir itu hanya acting saja, karena dia tidak mau mengembalikan uang saya yang sisa seribu. Padahal jelas-jelas tadi saya kasih lima ribu dan….
Setelah “transaksi” selesai (saya diberi limaribuan buruk rupa, dan saya pun memberinya uang dua ribu) saya baru ingat!!

“Yak ampuuuun! Gue belom bayarrrr! Itu uang dua ribu kan uang kembalian si kenek yang gua masukin ke dompet kain gua!!” teriak saya, tapi dalam hati.

Dengan rasa malu yang sangat….. (karena dalam imajinasi saya, pasti penumpang yang duduk sebelahan sama saya tahu bahwa saya sesungguhnya belum bayar, tapi baru bertukar lembaran uang! Maknyosss deh….) saya pun membuka dompet yang lain berharap menemukan koin 500 supaya klop, dengan koin 1.500 yang ada di dompet kain. Ternyata puji Tuhan, di dalamnya ada beberapa lembar 2.000-an! Saya pun mengeluarkan satu. Tadinya saya genggam, tapi karena si kenek “ngetem” di bagian belakang, maka saya masukkan lagi ke tas.

Sambil berpikir… “Malu nggak ya, kalau gua kasih 2.000 ke keneknya, malu sama tetangga sebelah niiih… Di balik maskernya itu, mukanya sangat misterius, cuma terlihat matanya saja! Oh tidaaaakkk! Kira-kira dia ngerti nggak sih kejadian konyol yang saya alami? Perbuatan konyol yang saya lakukan? Dan kalau dia juga suka nulis, pasti kisah lucu ini dia tulis di blognya! Tidaaaaakkk!!”

“Lebih baik gak gua kasih deh dua ribuan gua ke si kenek. Malu kan… Eh, tapi masa iya, gua naik bis cuma 2.000 aja nggak mau bayar? Dan pastinya akan lebih malu, kalau penumpang sebelah berpikir kalau saya sedang “mengelabui” si kenek, mentang-mentang keneknya sudah tua, lalu saya bohongi supaya saya tidak perlu bayar ongkos! Ah! Iya juga ya, lebih memalukan!” kata saya dalam hati.

Beberapa detik kemudian…

“Pak! Nih, saya lupa belum bayar!” kata saya sambil tersenyum “tengsin”. Bapaknya juga senyum-senyum setengah ngeledek. Mungkin dalam hatinya, “Cakep-cakep kok pelupa sih neng! Please deh ah!” (Yang penting cakep pak… )

Dan hati saya pun kembali teduh…. Yang tadinya berkecamuk antara malu sama “tetangga sebelah”, malu sama si kenek, dan malu sama diri sendiri… masa 2.000 saja mau gratis?! Please deh ahhhh!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s