Daily Journal

Senin, 25 Juli 2011

Baru kali ini saya jauh dari rumah. Duh rasanya gak karuan. Pengen nangis tapi kok sepertinya cengeng amat. Salah satu temen saya bilang, “anak mami sih ya”. Dia meragukan ketangguhan saya, yang sebenarnya saya ragukan juga. Beberapa hari menjelang hari-H, saya berkemas-kemas dengan pikiran yang galau. No one knows until I wrote this. PC saya bilang: “Anggep aja nginep di luar kota. Jadi bawa aja baju untuk 3 hari itu.”

“Ya ampun, iya ya!” kata saya dalam hati menyembunyikan kebingungan saya. Begitu saja saya tidak bisa berpikir simpel. Ampun deh. memang sih, tanggal 310711 saya baru akan “pindahan” (duh beratnyaaaaa), jadi 250711-nya itu saya “cuma” akan mengikuti retret di lokasi kerja untuk 26 dan 27-nya. Saya sibuk memikirkan: tidak punya teman disana, nanti bagaimana selama mengikuti sesi, apakah acaranya asik, apakah saya bisa mingle with new friends, pagi-pagi harus bangun jam berapa, bisnya datang jam berapa, pagi sarapan apa, saya harus keluar rumah jam berapa, bagaimana tidurnya, harus membawa apa saja, bagaimana sendirian di satu rumah besar, sampai….

“Ya ampun! I can’t find the iron!” kata saya. Baju untuk hari pertama acara belum saya setrika! Saya agak bingung.

“Sudah pakai tangan aja dilurus-lurusin!” kata sang PC. Weleh…! Mama saya juga ngomong yang sama. Sementara saya masih bingung, “Bagaimana bisa pake tangan doang? Wong bahan bajunya sutra, yang kalau lecek bener-bener lecek?”

Saya pun tidur malam itu dengan hati galau. Dan menurut kebiasaan, saya tidak bisa tidur pulas di tempat baru. Jadilah saya tidak tidur malam itu, walaupun mata merem, lampu mati, pakai bantal di kepala, dan daster yang wadem (adem maksudnya).

26 Juli 2011

Pagi hari, saya bangun jam 4 pagi! Mata perih dan agak bengkak. Pikiran gonjang-ganjing, entah mikirin apa, semua tumplek blek jadi satu, jalaaaan terus gak bisa berhenti mikir. Aneh. Saya takut, kuatir, cemas, bingung, was-was, dll.

Tapi puji Tuhan!! Pagi itu, ada satu keinginan saya yang dijawab Tuhan….Hair dryer!!

Yup! Saya yang terus berpikir bagaimana caranya menyetrika baju berbahan sutra tanpa setrika, atau harus memakai baju lecek ke acara. (walaupun kacamata iman saya berkata bahwa baju itu tidak terlalu lecek). Tiba-tiba saya berpikir: “Saya harus menemukan benda yang bisa dipanaskan!” Saya sudah membayangkan akan memanaskan air, lalu tuang di gelas, biar gelasnya saya pakai jadi “setrika”. Lalu… mata saya tertumpu ke sebuah pengering rambut!! Berkat alat itu, baju saya lurus lagi, setidaknya lebih lurus dari sebelumnya. Puji Tuhan! Thank God for that!!

Pukul 6.05 saya berjalan keluar dari rumah itu dan sampai di pos satpam…

“Bisnya biasa lewat jam berapa pak?” tanya saya, yang dijawab “Kurang tahu ya!” (Saya paling tidak suka orang menjawab seperti itu. Kalaupun kurang tahu, setidaknya ada kalimat lanjutannya: “Coba lihat di papan Bus Stopnya, kan ada jadwalnya..”, atau apalah! Jangan menjawab ala kadar seperti itu…. ).

Tapi saya tetap tersenyum dan mengucapkan terima kasih (walau tidak dengan sepenuh hati…).

Puji Tuhan!! Bisnya lewat beberapa menit setelah saya berdiri di bawah papan Bus Stop. Lingkungan tempat saya tinggal memang nyaman. Asri, banyak pohon, tertata sangat rapi, dan di pagi hari masih terlihat embun yang turun dalam jarak cukup dekat di atas kepala. Luar biasa. Tapi tetap saja saya tidak merasa nyaman…. Forgive me Lord for not being grateful…

Kurang lebih 25 menit kemudian, saya sudah tiba di lokasi. Masih terlalu pagi. Sekitar 25 menit sebelum acara dimulai. Saya berharap bertemu kenalan saya, tapi ternyata dia datang terlambat. Ya sudah saya masuk ruang acara, dan duduk sendirian menyamankan diri sendiri (Saya paling tidak suka berada dalam ruangan dimana tidak ada seorang pun yang saya kenal). Tapi saya lalu berpikir, “Anggap saja seperti di sekolah dulu. Setiap kali saya bersekolah, toh tidak ada yang saya kenal di hari pertamanya.” Pemikiran ini membuat saya terhibur. Memang sih saya tidak setegang dulu kalau berada di tempat baru, dan berhasil cuek saja, walaupun memang tidak nyaman.

Selesai sesi pertama, puji Tuhan, saya ketemu teman lama di pelayanan dulu. Saya ngobrol sebentar selama perjalanan ke gedung lain, tempat sesi kedua diadakan. Dan puji Tuhan, tidak lama setelah itu, saya bertemu teman yang terlambat tadi. Puji Tuhan! Saya pun tidak sendirian lagi, karena dia datang bersama “gank”nya. Kami lalu naik ke lantai 5 menggunakan tangga. Sepatu baru yang saya pakai terasa mulai “menggigit” sejak kemarin sore tepatnya, ketika saya berangkat ke “negara” baru ini. Di atas tumit sebelah kanan sudah bertengger tensoplas. Tetap saja terasa sakit, dan mulailah saya mengulang doa saya tadi pagi: “Beri saya kekuatan untuk melewati seluruh acara dengan sepatu ini ya Tuhan…” Oh iya, 1 doa lagi, “Beri saya kekuatan, keberanian untuk melewati hari ini ya Tuhan…”

Setelah break snack, saya masuk ke kelompok kecil yang sudah ditetapkan, sendirian tentunya, karena ternyata tidak sekelompok dengan teman saya tadi. Karena dari interdenominasi, saya tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan, yang saya dapatkan hanyalah pandangan-pandangan dari berbagai sudut pandang manusia, bahkan salah satu anggota kelompok mengaku “saya ini sangat sekuler”. Orang yang sama juga sudah berpindah-pindah gereja. Entahlah apa yang dicarinya…

Sesi berikut adalah lunch break. Lumayan, bisa bareng sama teman. Karena waktunya cukup lama, selesai makan, saya diajak menunggu di luar ruangan teman, sambil merem. Mata saya perih. Saya benar-benar lelah, karena semalam tidak bisa tidur.

Kemudian dilanjutkan workshop. Saya sengaja memberanikan diri memilih yang memang ingin saya pilih. Saya baru ingat, kalau berbeda, berarti saya harus masuk ke ruang workshop sendirian, padahal teman saya meninggalkan ruangannya menuju kelas workshopnya secara terlambat. Jadilah begitu saya masuk, ruangan sudah penuh! Puji Tuhan!! Saya yang masuk ruangan ketika semua sedang mengikuti doa pembuka, tiba-tiba “Amin!”, dipanggil oleh seorang teman baru yang baru kenal tadi pas lunch break. “Sini! Sudah saya sediain!” katanya. Paaasss banget! Luar biasa! Tuhan baik. Ibu itu juga baik!

Lumayan, saya tidak rugi memilih apa yang ingin saya pilih. Isi workshop bagus. (Kalau dulu, saya tidak akan peduli, betapa saya menginginkan topik A, kalau tidak punya teman, saya lebih baik “berkorban” dan memilih topik pilihan teman).

Setelah itu sesi terakhir. Seru dan… puji Tuhan!! Sekali lagi saya bertemu dengan teman lain. Setelah ngobrol beberapa saat, begitu sesi selesai, saya diajak ke ruangannya sebentar, lalu turun bersama-sama untuk pulang ke tujuan masing-masing.

Dengan kaki yang sakit, saya pergi ke rumah PC. Disana sudah tersedia makan malam yang yummy. Hari ini ditutup dengan baik. (Saya sempat nangis beberapa detik… sedih jauh dari rumah… ssstttt). Saya berdoa supaya God grant me a good and deep sleep tonight… dan doa saya dijawab Tuhan! Puji Tuhan!!

27 Juli 2011

Hari ini, saya berangkat dengan bis yang sama. Oh iya, karena harus pulang rumah, maka saya membawa gembolan cukup besar. Tapi sebagian gembolan sudah saya titipkan sang PC. Thank God for him. Jadi saya hanya membawa 1/3nya. Saya mengambil seluruh barang, dan merubah rencana. Mau berangkat ke kantor dari rumah kakak saja, karena tidak tahan sepi sendiri di rumah besar itu. Saya akan mencoba semua cara, lalu memilih mana alternatif yang paling oke, darimana kemana saya harus PP selama hari kerja.

Oh iya!! Puji Tuhan!! Hari ini saya terbebas dari gigitan sepatu baru saya yang luar biasa ganas itu, karena meminjam sendal Mama sang PC yang ukuran kakinya sama dengan saya (luar biasah! Sulit buat saya meminjam sepatu atau sendal orang lain, karena biasanya kaki mereka besar-besar, lebih besar dari saya maksudnya! Ini sungguh mujijat!). Walaupun ternyata rasa sakit berpindah yaitu di atas tulang telapak kaki, tapi semua sungguh mujijat buat saya. Thank God for that.

Sesi pertama berlangsung (menurut saya) biasa saja. (Saya kurang suka, kalau kotbah sudah diselipi dengan kritik terhadap seseorang, atau denominasi lain). Ditambah lagi, saya ngantuk… walau tidak sengantuk kemarin pagi. (Kemarin ngantuk sekali, tapi isi sesi saya tangkap semua dengan baik. Hari ini tidak terlalu ngantuk, tapi isi sesi byar-pet… aneh juga…).

Sesi berikutnya adalah kelompok kecil. Sungguh, berada dengan orang-orang interdenominasi memang hal yang tidak biasa buat saya. Komentar teman-teman membuat saya mengernyitkan alis, walaupun hanya dalam hati. (Maksud saya, tidak saya perlihatkan keheranan saya tentang pendapat mereka). Ada yang mempertanyakan, apakah lagu di gereja A sengaja diulang-ulang untuk membangkitkan emosi jemaat, sehingga ada yang menangis. Atau mungkin disitulah perbedaan, kenapa di gereja B, tidak pernah ada “emosi” yang terlihat, karena lagunya setelah selesai, ya selesai, tidak diulang. Bahkan ada yang berkata bahwa alat musik drum sengaja ditiadakan, supaya waktu puji-pujian murni tertuju ke Tuhan, bukan tercampur dengan “emosi” gara-gara alat musik.

Menurut saya, setiap orang harus mengalami Tuhan, jamahan Tuhan, kasih Tuhan, dan semua kebaikan Tuhan. Entahkah itu ada atau tidak ada musik, saya setuju Tuhan memang hadir. Buktinya, tanpa musik pun, saya tetap bisa menangis waktu saya merasakan kasih Tuhan, dikasihi, dihargai, dipercayai sama Tuhan, semuanya lewat hati. Jadi tidak perlu mempermasalahkan, atau bahkan skeptis terhadap tata cara ibadah denominasi/gereja tertentu… harus ada drum atau tidak.

Pengalaman pribadi dengan Tuhan tidak bisa diukur dengan emosi manusia lewat air mata. Saya juga setuju dengan itu. Selesai. Biarlah masing-masing pribadi tidak memusingkan hal-hal sepele seperti itu sehingga lupa bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakan, yaitu menjangkau dunia dengan saling bergandeng tangan.

Tanpa kesatuan, tidak mungkin orang lain mengerti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sama…

Saya punya dua adik laki-laki. Apa yang membuat orang tertarik melihat mereka berdua? Karena mereka sangat akrab satu sama lain. Saya saksinya. Mereka tidak pernah bermusuhan. Berkelahi pun nyaris tidak pernah. Buat saya, kesatuan itu jauh lebih penting, karena mendatangkan damai sejahtera buat setiap orang yang merasakan/melihatnya. Bukankah lebih nyaman berada dekat dalam keluarga/komunitas yang rukun, ketimbang keluarga/komunitas yang tidak rukun? Tentu saja! Dan kerukunan itulah yang pasti menarik orang untuk datang mendekat. Kepada siapa? Tentu saja nantinya kepada Tuhan Yesus. Jadi… buat saya berdoa untuk persatuan, jauh lebih penting ketimbang sibuk menunjuk gereja A, B, C, D dengan segala tata cara ibadah dan program-program yang dimiliki… tidak ada selesainya. Biar Tuhan nanti yang jadi Hakim, kan memang cuma Tuhan Hakim yang adil.

Sesi workshop kali ini yang saya ikuti adalah tentang keluarga. Bagus. Saya puas dengan pilihan saya. Dan puji Tuhan!! Ternyata kelas sebelah yang seharusnya diikuti oleh teman saya, sudah penuh. Seperti biasa, karena kita masuknya agak telat beberapa menit. Jadilah saya ditemani oleh banyak orang memasuki workshop saya. Haleluya!

Sesi terakhir, adalah sesi yang sangat “berat”. Mata memang melek, karena “jam tidur” saya sudah selesai tadi pagi. Tapi hati dan pikiran sama sekali tidak bisa menangkap isi sesi. Tidak mengerti, atau memang sulit dimengerti. Saya melihat beberapa orang memejamkan mata, ngantuk.

Selesai itu saya buru-buru pulang ke rumah dan tiba dengan selamat. Save and sound. Thank God for everything…

Malamnya saya pergi ke rumah sepupu saya. Dia ulang tahun! Selama perjalanan yang macet ke rumahnya, saya teler dan merebahkan diri di mobil. Lalu berdoa supaya Tuhan memberikan saya kekuatan baru… saya benar-benar lelah. Sesampainya di sana, puas makan, kenyaaang dan puas tertawa. Lanjut foto bersama. Lalu pulang, karena sudah nyaris jam 9 malam.

28 Juli 2011

Saya dikuatkan setelah berbincang via YM dengan seseorang. Saya bercerita betapa “rapuh”nya saya menjalani hari-hari ke depan. Dia memberi semangat dengan kalimat yang tepat. Ketika saya berterima kasih karena merasa dikuatkan olehnya, dia pun berterima kasih dan berkata bahwa dia juga dikuatkan. Kok bisa? Karena tahu bahwa ada juga orang yang mengalami pergumulan sama dengan dirinya, yaitu saya! Ternyata dalam kelemahan masing-masing pun, kita masih bisa jadi alat Tuhan untuk menyalurkan kekuatanNYA… Tuhan sungguh luar biasa!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s