I am sorry…

Bukan kebetulan kalau pagi itu saya mendengarkan khotbah Joel Osteen di TV. Tentang mengampuni. Orang yang menyimpan kebencian, kepahitan dalam hatinya kepada orang lain, siapapun itu, cenderung merusak hidupnya sendiri, tanpa ia sadari. Jadi ketika kita mau mengampuni orang yang pernah menyakiti hati kita, maka kita sedang membebaskan seorang tawanan dari penjara. Siapakah itu? Diri kita sendiri.

Di situ diceritakan tentang seorang perempuan yang mengalami pelecehan sejak ia kecil. Ketika dewasa dia jatuh ke dalam kehidupan seks bebas. Ada juga kisah tentang seorang pemuda, yang diusir ayahnya yang alkoholik karena berusaha membela ibunya dari hajaran si ayah. Dia nyaris bunuh diri karena tidak tahu kehidupannya akan jadi seperti apa di luar rumah. Tapi Tuhan sendiri yang “bersuara” secara audibel kepadanya tepat saat dia mau meloncat dari pinggiran jembatan. Tuhan berkata bahwa Dialah yang akan jadi ayahnya… (mengharukan)…

Malam hari, saya membaca 1 bab sebuah buku yang sempat dipertanyakan kebenaran isinya oleh papa saya. Ternyata ditulis oleh seseorang yang “cukup saya kenal”. Beberapa tahun lalu, saya ingat bahwa saya pernah bertemu dengannya di sebuah kantor gereja yang amat sangat nyaman. Saya diajak sahabat untuk mewawancarainya untuk rubrik “tokoh rohani”. Selama “sesi” wawancara, saya dan sahabat terdiam seribu bahasa. Kaget mendengar kalimat-kalimat “pahit” yang keluar dari mulutnya, mengritik habis seorang pendeta. Hmm…mungkin kepahitan itu juga yang membawanya ke dalam sebuah kehidupan “rusak” yang dia ceritakan sendiri secara gamblang lewat buku tersebut.

Yang saya pelajari hari ini adalah, mengampuni jauh lebih penting untuk dilakukan ketimbang menyimpan sakit hati. Betapapun memang sulit untuk mengampuni, tetapi hari ini saya belajar bahwa kebencian dan kepahitan yang mungkin akan saya simpan di kemudian hari (saya tidak bisa menghentikan orang lain yang secara sadar atau tidak menyakiti saya seolah saya memiliki remote control dan bisa berganti channel kehidupan), pastinya akan membawa saya ke dalam sebuah kehidupan yang “rusak”, tanpa saya sadari. I don’t want that.

Dan untuk kesalahan apapun yang saya lakukan kepada orang lain, saya mau berkata, “I am sorry…”. Maafkanlah saya. Ampuni saya, dan silakan menikmati hidup dalam anugrah Tuhan yang berlimpah-limpah itu….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s