Hang Out Yuk!

“Ik, kapan-kapan kita hang out yuk Ik di 7Eleven (baca: Seven Eleven). Yang di pertigaan itu loh! Kapan kamu bisa? Sabtu ini?” kata Mike ke saya.

Saya senyum-senyum dalam hati. Lucu juga. Anak umur 9 tahun ngajak saya hang out! Saya seneng-seneng aja diajak “hang out”. Sebuah hubungan yang akrab, baru bisa memunculkan kata “hang out”.

Intermezzo: Seorang rekan kerja pernah berkata, “Kamu bisa liat seakrab apa orang itu, yaitu waktu jam makan siang. Dengan siapa dia pergi makan siang setiap hari, dengan orang itulah dia punya hubungan yang akrab!”

Sampai sekarang sih, saya belum punya teman makan siang di kantor baru. Tapi tidak apa-apa, karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan (Rom 8:28 itu ayat favorit saya). Saya jadi bisa makan siang dengan siapa saja. Walaupun kadang harus makan siang sendirian (hal yang mustahil saya lakukan di kantor lama…).

Back to “hang out” thing….

Beberapa waktu belakangan saya mulai bertekad untuk memperbaiki jam sate saya. Ehm… biasanya kalau Sabtu dan Minggu… buat saya, jam sate boleh molor (don’t try this at your home!). Tapi akhirnya saya mendapati bahwa itu tidak boleh terjadi dalam hidup saya. Saya paksakan diri untuk disiplin bangun pagi, untuk sate, entahkah itu Sabtu atau Minggu sekalipun (peperangan antara ngantuk, capek, malas, dll terus terjadi). Dan akhirnya saya mulai berhasil kira-kira 1 bulan belakangan (maksud saya, walaupun Sabtu atau Minggu, dimana saya tidak perlu bangun pagiii untuk berangkat kerja, saya tetap bangun pagiii).

Tapi lebih dari itu, tiba-tiba saya seperti disadarkan oleh Roh Kudus. “What are you looking for through your quiet time?”. Apakah saya sedang mencari Tuhan? Atau mencari jawaban doa? Ataukah hanya untuk pembenaran diri? Maksudnya, ketika tiap pagi saya sate, apakah saya sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan? Atau ada motivasi tertentu, karena butuh jawaban doa dari Tuhan? Atau sekedar menepis rasa bersalah karena selama ini jam satenya berantakan? Menepis rasa bersalah atas ayat Alkitab tentang “kasih mula-mula”, bahwa saya harus melakukan seperti apa yang duluuu saya lakukan, yaitu sate di subuh hari?

Jawabannya:

Saya akan mencari wajah Tuhan. Menikmati hadiratNya (sekalipun sulit ketika tubuh masih lelah dan pinginnya tidur, mata perih bin sepet). Menanti-nantikan Dia dalam diam. Merenungkan janji-janjiNya. Berhubungan/terkoneksi dengan Tuhan…. Tanpa embel-embel “motivasi”, “kewajiban”, “rutinitas”, “harus disiplin”… karena hubungan itu jauh lebih penting untuk dibangun ketimbang hal-hal lain. Seperti saya yang harus menginvestasikan waktu untuk sekedar berkomunikasi walaupun cuma sebentar dengan keponakan-keponakan saya, salah satunya, Mike, yang (mau-maunya) mengajak saya “hang out”….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hang Out Yuk!

  1. Loren says:

    Bagus Na tulisanmu ini🙂
    menyadarkan banget soale.

    masih saat teduh sampai sekarang ?

  2. Inspirations says:

    Masih…🙂 Iya… saya juga merasa tersadarkan dear Loren…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s