MARAH ITU PERLU, MINTA MAAF JUGA PERLU

Malam itu, keponakan saya agak berlebihan. Dengan pistol-pistolan barunya, dia sudah menembak saya beberapa kali. Memang sih tidak terasa sakit. Tapi sampai ketika momennya tidak pas, saya merasakan bahwa tindakannya harus dihentikan.
Sedang asyik melakukan editing tulisan, tiba-tiba saja punggung saya dia tembak dari jarak dekat, kurang lebih 30cm.
“Aduh! You hurt me Mike!” saya bilang dengan serius. Dia cuma tertawa-tawa. Dan tidak lama dia mengacung-acungkan pistol-pistolannya itu ke arah muka saya dalam jarak sangat dekat padahal saya sedang memandangi layar komputer.
Saya pun marah.
“Itu nggak sopan tauk! Bla..bla..bla..” saya memberondongkan beberapa kalimat dengan nada tinggi ke dia.
Dia hanya tersenyum, tapi kali ini dia tahu saya benar-benar emosi. Jadi matanya hanya berani menatap lantai dengan ekspresi yang tersenyum untuk menutupi entah ketakutan atau kekesalannya karena saya marahi.
Dulu waktu dia masih kecil, kalau dimarahi dia akan balik marah dengan lebih galak. Kali ini dia diam, tersenyum dengan mata menatap lantai, lalu tidak berapa lama dia keluar kamar belajarnya dan turun ke bawah untuk makan malam. Saya ditinggalkannya, tanpa ditawari makan seperti biasa.
Dalam kesendirian, saya merasa bersalah. “Saya sudah kelewatan,” pikir saya. Memang kata-kata saya tidak ada yang menyakitkan. Tapi nadanya yang tinggi tentu akan meninggalkan “luka” di hati Michael. Begitu pikiran saya terus berputar.
“Nanti kalau dia kembali ke kamar, saya akan minta maaf,” janji saya dalam hati kepada diri sendiri.
Dan beberapa menit kemudian. Pintu dibuka. Saya melihat sosoknya dari sudut mata kiri. Lalu saya melihat ke arahnya dan bicara….
“Michael, I am so sorry that I scolded you,” kata saya sambil merentangkan tangan, yang ternyata langsung dia sambut dengan rentangan yang sama. Dia memeluk saya sambil tersenyum-senyum. Lucu.
“I just want you to be polite. That’s all,” lanjut saya sambil berkaca-kaca karena cukup kaget mendapati reaksi Mike yang seperti itu. Saya pikir dia akan terus marah, karena biasanya dia suka menyimpan kekesalan dan kemarahan dalam waktu lama.
“It’s okay…” katanya. Lalu dia mencium pipi saya.😀
Ada beberapa pembelajaran dari kejadian “lucu” ini:
  1. Permintaan maaf memang sangat manjur kalau diucapkan sungguh-sungguh. 
  2. Penjelasan kenapa kita marah sangatlah penting, karena itu membuat orang lain bisa mengerti keadaan yang sebenarnya di balik setiap amarah. Orang akan sadar dan mengerti, dimana letak kesalahan dan siapa yang salah.
  3. Marah yang sesuai pada porsinya, dilakukan untuk kebaikan, juga amat sangat penting. Jadi jangan marah seperti orang menembakkan peluru secara membabi-buta sampai-sampai sasaran yang dituju tidak kena, bahkan sebaliknya, yang tidak dituju terkena tembak alias peluru nyasar dari kita.
Kesimpulannya: Marah memang perlu, sejauh itu kita lakukan untuk kebaikan. Tapi ingat, minta maaf juga perlu…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s