Jumat Itu…

Hari ini….
“Er, ini Jumat,” kata seorang teman kantor yang suka bareng pulang ke Jakarta.
“Iya Bu! Thank God it’s Friday!” Kata saya tersenyum sumringah (walau masih galau).

Ternyataaaa!!!!

Sore itu saya bete bukan kepalang. Saya down berat! Karena? Baso yang saya beli ketinggalan di kulkas kantor!!! Alasan yang terdengar berlebihan, tapi tidak buat saya. Papa mama sudah 2 minggu menanyakan soal baso ini. Dan begitu saya berhasil memesannya, tentu saja saya juga ikut hepi, karena akhirnya bisa memenuhi keinginan mereka. “Basonya enak banget! Tanpa pengawet tuh!” Kata papa kalau memuji baso itu. Papa memang sangat menjaga kesehatan. Jadi… Betapa sedihnya saya ketika bis sudah menginjak pintu tol kebon jeruk, ternyata baso itu ketinggalan!! Tidak mungkin saya kembali ke kantor. Lemas, bete, kecewa, marah, dan ingin berteriak di dalam bis. Dalam kebetean saya, ada pengamen yang berteriak-teriak seperti orang gila. Suaranya persis kaleng rombeng. Pita suaranya sudah pecah. Kencang sekali volumenya. Membuat saya nyaris ikut “gila”. Hampir saya berteriak juga menyuruh mereka diam.

Cukup lama saya tenggelam dalam emosi yang “mendidih”. Hati saya panas. Saya sudah menebak, papa pasti bisa mengerti. Tapi tetap saja saya marah kepada diri sendiri…”Kok bisa lupa sih?! Apa yang dipikirin tadiiii?!!” gregetan saya mengomeli diri sendiri.

Jalanan yang macet. Udara panas. Dan harus bertemu orang gila di jembatan Busway (membuat saya ‘shock’). Baterai HP yang sekarat dan harus saya matikan. Semuanya melengkapi kebetean saya sore itu. Sampai akhirnya….

“Sudahlah Erna… Buat apa kamu seperti ini….Sudah terjadi. Mau marah juga baso itu tidak bisa kembali sekarang…” tiba-tiba suara lembut itu membuat sadar.

Saya yang berulang-ulang berkata dalam hati, “Duh! Bete, bete, bete… !”, terdiam. Mulai tenang dan… bisa berkata-kata positif untuk menyemangati diri sendiri.
“Nikmati hari ini! Ini Jumat loh! This is the day you always love, right? When you can take rest and relax in your own room. Home sweet home is waiting for you!” kata saya dalam hati.
Dan saya pun berjalan menuruni jembatan Busway dekat rumah dalam suasana hati yang mendadak membaik. Matahari yang sudah tenggelam seperti menyingkirkan udara panas yang tadi saya rasakan waktu baru pulang kantor. Adem rasanya. Nikmat. Tenang. Dan….
Sesampainya di rumah. Dengan nada kecewa saya melaporkan ke Papa bahwa basonya tertinggal di kantor.
“Ya sudah nggak apa-apa. Wong cuma baso saja kok! Sudah, ” kata Papa, persis seperti bayangan saya di bis bahwa Papa akan menjawab seperti ini. Mungkin hatinya agak kecewa, karena saya sudah mengabarkan bahwa baso pesanannya sudah ada tapi ternyata tertinggal di kantor. Ini hanya pemikiran saya. Entah benar atau tidak.
Hari itu, saya belajar bahwa hidup ini bukan dikendalikan oleh suasana, keadaan sekeliling, tapi oleh suasana dan keadaan hati saya. Seperti kalimat ini: Tuhan tidak pernah menjanjikan hari selalu indah, tapi DIA menjanjikan penyertaanNya dalam segala situasi, baik itu tenang maupun sedang dalam “badai”….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s