Gara-gara Nasi Goreng

Sore ini, saya benar-benar ngantuk di bis. Dan pas di angkot tiba-tiba mual. Waktu di bis juga nggak tahan mencium bb dari penumpang yang duduk di depan, sampai saya pindah tempat duduk.

Sampai di rumah, kepinginnya sih ganti pakaian, langsung zzz memuaskan rasa kantuk. Ternyata…Keponakan saya bilang mamanya sedang pergi. Saya tawari makan, dia langsung “iya” dan bahkan mengatakan, “Lapar…”.

Saya lalu melakukan “ritual” sebelum makan.

  1. Memanaskan nasi dengan cara menancapkan kabel rice cooker ke listrik.
  2. Memanaskan lauk-pauk yang adalah kuah sup daging dan ayam tim.

Setelah semua siap, saya mengambilkan Mike nasi dan juga untuk diri sendiri. Karena Mike tidak mau kuah supnya, maka saya tuang semua ke dalam piring nasi saya.
“Aku mau yang itu!” kata Mike menunjuk ayam tim.

Saya mengambil potongan daging ayam+tulangnya, dan menuangkan kuah. Tercium bau aneh!
“Basi nggak Mike?” tanya saya.
Awalnya Mike berkata tidak basi. Tapi setelah saya minta dia mencicipi apakah rasanya asam atau tidak, Mike berkata, “Asem Ik!”

Saya pun tiba-tiba mendapatkan dorongan untuk memasak nasi goreng!
“Ya sudah, kamu makan nasinya IIk aja, Iik mau masak nasi goreng!” kata saya.

Saya mengiris jamur, sosis (thank God for the sosis), dan ayam tim yang tidak basi (kuahnya yang basi dan saya buang).
Saya keluarkan margarin, 1 butir telur ayam dan oyster sauce dari kulkas, memotong bawang putih, lalu siap memasak! (Cieee… komentar PC saya… ah jadi malu…)

Sementara margarine melumer di penggorengan, saya berdoa agar masakannya enak. Saya bingung melihat irisan jamur, sosis, ayam dan bawang putih di atas talenan.
“Ya Tuhan, bagaimana cara memasaknya ya?” tanya saya dalam hati. Saya harus stay cool di depan keponakan…

Tiba-tiba terlintas gaya masak tukang nasi goreng gila yang Minggu lalu saya kunjungi bersama sang PC. Lalu saya pun memasukkan bawang putih ke dalam penggorengan yang sudah saya beri margarine. Kemudian saya masukkan jamur, irisan ayam, dan sosis. Saya aduk-aduk sebentar sampai sosisnya terlihat agak lebih gelap. Lalu saya masukkan telor ayam (tanpa kulitnya, tentu!). Saya taburi garam agak banyak dan oyster sauce! Saya cicipi. Hmm… enak! Asin! Tapi kan belum ada nasinya jadi pasti asinnya nanti jadi “pas”! Terakhir saya masukkan nasi! Saya aduk-aduk supaya asinnya merata di seluruh nasi (masih kurang rata ternyata) dan…. nasgor siap sedia untuk disantap!!

Hmm… saya puas kali ini dengan hasil karya saya. Rasanya… enak. Walaupun kata William “kurang asin”. Mike yang sudah menghabiskan nasi saya, ternyata masih bisa menghabiskan 2 piring nasgor porsi kecil!! Jadilah nasgor tadi ludes dimakan 3 orang.

Waktu mandi, saya merenung. Puaaasss rasanya hidup ini. Terasa berarti… karena saya berhasil “memberi makan” dua keponakan saya secara baik dan benar!

Maka menulislah saya di wall FB:
Jika kita ingin hidup terasa berarti, hiduplah bukan untuk diri sendiri…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s