Betapa Berharganya Hidup

Hari ini saya diberitahu seorang teman baik. Kakaknya terkena kista. Mengalami pendarahan (seperti haid), tapi melebihi periode normal. Waktu diperiksakan ke dokter, dikatakan ada kista dan harus diangkat. Dia semakin stress setelah mendengar info ini. Obat yang dikonsumsi tidak menjamin kesembuhan, hanya supaya pendarahannya berhenti. Jadi ketika obatnya habis, dia pendarahan lagi.

Tiba-tiba perasaan ketakutan yang dialami kakak teman saya terbayang. Betapa berharganya hidup pada saat setiap dari kita mengalami hal yang sama. Seolah hidup begitu dekat dengan maut.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengalami “salah diagnosa”. Lebih tepatnya “salah dugaan” dari seorang dokter (sampai sekarang saya sulit respek sama dokter-dokter model begini….). Selama masa menunggu pemeriksaan lebih lanjut, saya merasa langit sudah runtuh menimpa. Hidup sudah berakhir, padahal saya masih hidup. Puji Tuhan, saya dinyatakan sehat 100% setelah pemeriksaan lebih lanjut itu tadi. Betapa berharganya hidup.

Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu, saya begitu kaget mendapat info tentang seorang teman lama meninggal dunia. Matanya sudah tidak bisa melihat karena penyakit diabetes. Ginjalnya mengalami kerusakan. Begitu juga paru-parunya. Adiknya yang juga teman saya bercerita bahwa dia masih berharap Tuhan bisa memulihkan kesehatannya sempurna seperti dulu. Bahkan waktu tanggal 16, dia ajak ke gereja bareng menghadiri acara khusus tanggal 22, kakaknya sudah mengangguk setuju. Tapi ternyata, rencana Tuhan berbeda. Sabtu itu, dia meninggal dunia pukul 5.45 pagi.. Saya cuma bisa mengirimkan kalimat lewat bbm, bahwa saya pun pernah berharap yang sama untuk kakak saya, tapi Tuhan berkehendak lain, dia kalah melawan maut. (Semoga teman saya terhibur).

Tapi seringkali, waktu masalah datang, entah berapa kali kita merasa seperti kepingin mati saja. (Nabi Elia pun pernah mengalami, kepingin mati ketika dikejar-kejar Izebel untuk dibunuh). Dan malam ini, perasaan ketakutan yang dialami kakak teman saya, Tuhan ijinkan membayangi pikiran, dan saya pun berkata…. “Betapa berharganya hidupku ya Tuhan…”. Karena ketika Tuhan masih mengijinkan saya untuk hidup, itu adalah semata anugrahNYA. It is HIS grace! Ada banyak orang berjuang melawan penyakit ganas, termasuk kakak saya yang akhirnya harus kalah melawan “maut”. Padahal keinginan untuk hidup masih sangat kuat.

“Betapa berharganya hidup… jangan sia-siakan!” kata saya kepada diri sendiri.

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. (Mazmur  139:16)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s