Malunyaaa…..

Sore hari itu, ½ jam sebelum jam pulang kantor, hujan deras turun. Waduh! Aku pun mencoba menguatkan hati dan berkata dengan percaya kepada Tuhan bahwa hujan pasti berhenti waktu aku pulang nanti.  Tapi ternyata tidak. Tuhan menyediakan pertolongan berbeda dari yang kupikirkan. Seorang teman kantor tiba-tiba mengajakku menumpang di mobil teman kantor lain. Jadilah kami bertiga, termasuk si pemilik mobil, menunggu di sebuah toko buku sambil terus was-was melihat ke arah jalanan lewat tembok kaca toko buku itu. Setelah beberapa menit menunggu, tiba-tiba si pemilik mobil berkata, “Eh! Itu dia! Udah dateng!”

Benar saja, mobil berwarna abu-abu tua itu sudah parkir di depan toko buku. Aku missed rupanya, karena tidak melihat mobil itu di jalanan arah sana, kok tiba-tiba sudah parkir di situ. Maka kami bertiga keluar dari toko. Temanku sebut saja si Ocha menyuruhku berpayungan dengannya. Sementara si pemilik mobil, sebut saja si Santi membuka payungnya.

Yang pertama membuka pintu mobil bagian belakang aku. “Kamu duluan Na!” kata Santi. Kejadian memalukan pun dimulai…

Aku membuka pintu mobil dan melihat seorang pria di dalamnya. Tapi bukannya aku tersadar kalau salah mobil, aku malah menggeser kotak makan yang tergeletak di jok mobil, supaya tersedia cukup ruang untuk aku dan temanku duduk di dalamnya sambil berkata, “Nebeng ya…” Beberapa detik setelahnya, tiba-tiba kalimat dari pria tadi terucap, “Eh, salah ya….” Sambil tersenyum. Rupanya dia mengatakan kalimat itu untuk Santi yang juga membuka pintu mobil bagian depan dan akan duduk di sebelahnya!

Melihat ekspresi muka si pemilik mobil asli dan mendengar kalimat konfirmasinya kalau saya dan teman-teman masuk ke mobil yang salah, aku buru-buru keluarrrrr!! Santi masih sempat berkata, “Oh sori!” Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku malu luar biasa. Mukaku panas. Tawaku tidak berhenti di pinggir jalan. Kami bertiga terbahak-bahak (baca: cekakakan) sambil berpayung ria. Untung saja anak bapak itu beberapa detik kemudian sudah masuk mobil, dan mereka pergi meninggalkan kami.

Hujan yang tadinya agak reda, mulai deras lagi. Tapi tidak satu pun dari kami mau kembali ke toko buku. Kami asli malu! Takut kalau orang-orang yang di belakang kami atau di dalam toko buku ada yang tahu perbuatan memalukan yang kami lakukan. Cukuplah kami menertawakan diri sendiri, orang lain tidak perlu ikut-ikutan. Air mataku dan air mata Ocha sampai harus keluar gara-gara tertawa yang begitu dahsyatnya. (Bahkan ketika aku menuliskan ini pun aku masih tertawa-tawa). Kejadian paling memalukan seumur hidupku! Hahahahaha……1.000 kali lipat!! Malunya… 1.000 kali lipat juga X_X

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s