Pelanggan Itu Raja

Lalu sampailah aku di sebuah mall besar di daerah Jakarta Barat. Rencanaku begitu matang. Aku menyusunnya seperti ini: tiba di mall, aku ke resto yang disepakati Olin untuk melakukan reservasi tempat, lalu membeli kue tart. Setelah itu aku kembali ke resto itu, dan meminta kerja sama si embak resto untuk menyimpan kue itu supaya dikeluarkan setelah Olin datang atau semua teman sudah berkumpul. Ternyata…. Rencanaku gagal total!

                Begitu aku sampai di resto itu.
                “Mbak, mau pesan tempat untuk 6 orang jam 6 nanti, bisa?” tanyaku.
Begini jawabnya: “Oh! Di sini kalau reservasi tempat harus minimal 10 orang, dan itu pun 2 hari sebelumnya!” dengan ekspresi datar, tanpa tersenyum, seolah aku berhutang sesuatu.
“Oh gitu. Kalau gitu nanti langsung dateng aja bisa ya?” tanyaku lagi.
“Bisa!” jawabnya.

                Aku pun pergi membeli kue tart. Setelah kue di tangan, karena sudah hampir jam 6, aku kembali ke resto itu dan berniat masuk. Selagi aku berjalan masuk, si embak yang sama seperti mencegat langkahku, seolah aku “residivis” yang sedang dicari dan dilarang masuk ke resto itu.

“Saya bisa kan duduk di dalam, sambil nunggu teman-teman saya dateng?” kataku dengan polos.
“Teman-temannya pasti dateng nggak jam 6?” tanyanya.
Aku mulai sebal.
“Iya, datang,” jawabku.
“Nggak, soalnya di sini kalau makan cuma boleh 1,5 jam aja,” jawabnya.
Dalam hati aku mulai bingung dan bertanya-tanya, “Jadi maksudnya apa ya? Aku nggak boleh duduk di dalam?”

Aku malas berdebat dengannya. Sikapnya sangat, maaf, tidak sopan dan seperti tidak terlatih dengan baik bagaimana melayani pelanggan dengan benar. Tanpa ada kata “maaf”, padahal jelas-jelas “mengusir” pelanggan yang akan makan di situ. Sekalipun itu peraturan dari si pemilik resto, cara penyampaian yang sangat berkesan tidak profesional dalam hal memperlakukan pelanggan karena pelanggan adalah raja, membuatku benar-benar marah.

“Oh gitu,” kataku menutup pembicaraan. Aku melangkah keluar dan berniat tidak akan menginjak tempat yang sama. Tapi rupanya Olin masih tetap ingin makan di situ. Kami berdua menunggu teman-teman lain sambil berdiri di depan resto itu.
“Oke, kalau tetap mau di situ, embak itu pasti akan kulaporkan ke supervisornya. I’ll make a report!” kataku.

Beruntunglah, kami batal makan di situ, karena salah seorang teman juga tidak mau dengan alasan kalau di situ “all you can eat”, harus makan banyak.
Dan beruntunglah embak itu, karena pikiranku terus berjalan. Bagaimana kalau aku laporkan dan ternyata si embak dipecat, padahal dia harus menghidupi keluarganya? Bagaimana kalau ternyata dia adalah tulang punggung keluarga? Aku sudah melakukan hal yang sangat kejam.

Kesalahannya tidaklah fatal sebetulnya, walaupun aku benar-benar kesal dan emosi karena dilayani dengan sangat tidak baik. Tapi aku katakan tidak fatal, karena melihat penampilan fisik mereka. Walaupun berpakaian ala Jepang, berbedak tebal dan berlipstik merah, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa mereka bukanlah staf yang terlatih secara profesional.

Sebenarnya, aku lebih kecewa dengan si pemilik atau manajemen resto itu. Mengapa menaruh “mata tombak” yang tumpul, maksudku, menaruh dua embak itu di posisi paling depan dari restonya. Dan karena di internet tidak bisa kudapatkan alamat web-nya, jadilah komplenku hanya tercurah di tulisan ini.

Untuk para pengusaha, ketika harus berhubungan dengan pelanggan, taruhlah orang-orang/staf yang representatif! Orang-orang yang bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan pelanggan secara baik dan benar. Tahu bagaimana bersikap dengan sopan, terlatih, dan profesional. Bukankah setiap orang bisa karena terlatih? Jadi tidak masalah apakah staf itu berasal dari desa atau pelosok pedalaman, yang penting dia mengerti bagaimana memperlakukan “seorang raja” (baca: pelanggan) dengan semestinya.

Aku jadi teringat, pernah melakukan salah transfer dan dilayani dengan amat sangat baik serta sopan oleh customer service sebuah bank. Dia sangat membantu dan sungguh memberikan solusi untuk masalahku waktu itu. Semua beres dalam waktu 1 minggu, karena bantuannya. Sungguh mengesankan. Padahal aku berniat menutup rekeningku di bank itu, tapi mungkin akan aku pikirkan kembali niat ini setelah tahu begitu baiknya pelayanan yang diberikan oleh bank tersebut kepada nasabahnya.

Jadilah pengusaha yang baik. Tidak hanya pintar mencari uang, tapi juga pintar memelihara hubungan baik dengan pelanggan. Salah satunya adalah itu, memperlakukan “raja” dengan baik dan benar.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s