Terang

14 Juni, Kamis

Pagi ini aku agak pagi sampai di kantor. Tidak ada kejadian berarti yang ingin kuceritakan, kecuali…

Terang
Sampai di rumah. Kosong. Gelap. Mike, keponakanku sedang bermain bersama teman-temannya di luar. Aku lalu memakan sepotong tahu goreng yang ada di atas meja makan, turun ke bawah mengambil pakaian, cuci muka, lalu memanasi lauk. Setelah itu sesuai “janjiku” kemarin malam bahwa aku akan menyapu lantai dua, maka aku sekali lagi turun ke bawah mengambil sapu dan pengki.

                Lampu masih belum kunyalakan, karena daerah kamarku masih cukup terang, begitu juga ruang tamu. Tapi begitu aku mulai menuruni tangga, kegelapan mulai “menyerang”. Sapu aku sapukan pada anak-anak tangga yang akan kuturuni. Karena gelap, tentu saja aku tidak yakin, apakah kotoran di anak tangga tadi bisa benar-benar tersapu. Jadi judulnya… “menyapu ala kadar”!

                Kemarin malam, aku menyeterika baju. Lampu kubiarkan mati sementara matahari mulai semakin tenggelam. Gelap. Aku benar-benar malas untuk berjalan ke arah tombol lampu, jadi aku menunggu Mike masuk ke rumah untuk memintanya menyalakan. Tapi… aku jadi sadar, tanpa penerangan, tentu saja aku tidak tahu apakah baju-baju yang kuseterika sudah licin dan rapi. Aku hanya pakai perasaan. Perasaan yakin bahwa semua baju-baju dengan penerangan minim tetap bisa licin terseterika. Semoga!

                Cerita lain lagi, kalau sudah mulai gelap, biasanya lampu di angkot atau bis umum pasti dinyalakan. Pernah satu kali aku naik bis dan tiba-tiba saja lampunya mati. Ngeri rasanya berada dalam angkutan umum yang gelap.

                Beberapa hari lalu juga. Lampu komplek masih belum dinyalakan. Gelap dan terkesan suram. Padahal kompleknya sangat nyaman. Tapi tanpa penerangan? Jauh berbeda rasanya. Aku sempat panik, kupikir listriknya mati. Ternyata tidak. Baguslah.

                Ternyata… terang itu amat sangat penting! Membuatku bisa melihat kotoran di lantai, membuatku bisa melihat jelas apakah baju yang kuseterika sudah licin atau belum, membuatku tidak takut di dalam bis atau angkot, membuat suasana yang suram jadi jauh lebih ceria!

                Kalau dipikir-pikir, sumber terang itu bukan matahari. Tapi penciptanya! Yaitu Tuhan. Jadi, aku pun berpikir, bersama Tuhan, kotoran hidup yang model apapun, tidak akan tersembunyi. Bahkan sangat bisa dibersihkan sampai tuntas. Bersama Tuhan, aku bisa melihat “kekusutan” yang kuartikan sebagai kekurangan dan kelemahanku sebagai manusia ciptaanNya, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik, lagi dan lagi. Bersama Tuhan, aku tidak akan takut, sekalipun berada dalam “angkot/bis umum”, satu tempat yang kuartikan sebagai “tidak nyaman”.

Dan ini yang kupelajari, yaitu bahwa hidupku bersama Tuhan, seperti hidup dalam terang/penerangan. Artinya akan selalu dibersihkan, akan selalu mengerti apa saja kelemahanku supaya aku bisa jadi lebih baik, tidak perlu takut, dll…

Itulah pentingnya TERANG, dan hidup di dalamnya.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s