Till Death Do Us Part

ImageHari ini pekerjaan kantor tidak terlalu banyak. Jadi saya masih sempat meminjam “smart phone” teman untuk bermain game. Awalnya saya mau memainkan game yang beberapa hari lalu pernah saya mainkan. Yaitu menghubungkan titik-titik menjadi satu gambar bidang tertentu tapi garis yang sudah terbentuk di antara titik-titik tersebut tidak bisa dilewati lagi dengan garis yang sama. Contoh: menghubungkan titik-titik yang membentuk bintang segi lima. Jalur dimana kita menarik garis untuk menghubungkan titik-titik itu harus membentuk bintang dengan syarat, jalur yang sama tidak bisa dilewati dua kali.

Maksud hati mau memainkan game ini, karena entah bagaimana saya merasa berhasil menjawab tantangan pemilik “smartphone” sementara dia mengatakan game tersebut sulit dia mainkan. Tapi ternyata dia menawari saya main game lain. Yaitu membangun jembatan dengan konstruksi sekokoh mungkin supaya bisa dilewati beberapa gerbong kereta api yang sambung-menyambung. Dalam game ini, pemain boleh punya kesempatan tak terbatas, dalam arti, kalau sampai kereta apinya jatuh ke jurang karena jembatan yang dibangun pemain ternyata tidak kokoh, maka permainan bisa diulang. Tanpa batas waktu. Tapi yang dibatasi adalah jumlah lempengan “besi beton” untuk membangun jembatan. Jadi selain besi beton yang disediakan dalam jumlah terbatas tadi, dalam game ini tersedia juga “fitur” penghapus, yaitu untuk menghapus besi-besi beton yang sudah dirancang oleh pemain game, tapi ternyata setelah dilewati oleh kereta api, konstruksi besi-besi beton itu tidak berhasil menyeberangkan kereta api dari sisi jurang satu ke sisi lain.

Saya pikir game ini gampang. Tapi nyatanya? Saya menyerah setelah beberapa kali mencoba membangun jembatan panjang. Kereta api yang melewatinya selalu masuk jurang. Saya sudah coba menghapus beberapa besi beton dan membentuk ulang jadi konstruksi yang lain, tetap gagal. Ya sudahlah. Saya kembalikan smartphone ke pemiliknya. Dan melanjutkan bekerja.

Tiba-tiba saja, malam harinya selagi saya di dalam kamar mandi, terlintas sebuah pemikiran, “Seperti itulah membangun sebuah hubungan pernikahan!” Waktu menulis ini saya memang masih lajang. Tapi saya mencoba mengerti bagaimana sulitnya membangun sebuah rumah tangga, supaya bisa melewati “jurang-jurang” masalah dan berhasil menyelesaikannya satu demi satu dengan baik. Kereta api yang berhasil melewati sisi jurang satu ke sisi lain, saya ibaratkan seperti sebuah rumah tangga yang pada akhirnya berhasil menyelesaikan satu persoalan. Dalam game tadi, ketika satu level selesai, maka pemain dihadapkan dengan level berikut, dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dari level sebelumnya. Terus begitu.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kalau pemainnya adalah saya, yang setelah beberapa kali gagal menyeberangkan kereta api karena konstruksi jembatan yang saya rancang tidak cukup kokoh, dan memilih untuk berhenti? Tentu saja kereta apinya akan terjungkal di jurang untuk selamanya. Padahal, dalam game ini, tersedia “fitur” penghapus yang memang berguna untuk menghapus besi-besi beton yang sudah saya susun jadi sebuah konstruksi jembatan. Maksudnya, supaya kalau memang ternyata tidak kokoh, ya saya masih bisa merancang ulang konstruksi baru dengan kreativitas dan logika saya, semaksimal mungkin. Tanpa batas waktu.

Pertanyaan selanjutnya yang lebih penting dan muncul dalam kepala saya adalah: bagaimana jika “pemain game” yaitu suami dan istri yang seharusnya bertanggungjawab menyelesaikan secara bersama masalah apapun yang menerpa rumah tangga mereka sampai mendapatkan solusi, ternyata menyerah sebelum masalah selesai? Rumah tangga mereka selamanya tidak akan pernah bisa melewati masalah. Melainkan akan bernasib sama seperti si kereta api yang terjungkal ke dalam jurang, tanpa pernah bisa mencapai sisi jurang yang lain. Menyedihkan.

Padahal, si pembuat game menyediakan “alat bantu” yang seharusnya bisa dimanfaatkan pemain game. Walaupun memang ada keterbatasan stok besi beton. Ini seperti Tuhan, yang selalu menyediakan alat bantu untuk selalu bisa dimanfaatkan oleh suami dan istri sampai mereka bisa menemukan solusi dalam setiap masalah yang menerpa rumah tangga mereka. Walaupun seringkali harus berhadapan dengan keterbatasan manusiawi, yang pada kenyataannya justru untuk memacu kreativitas, talenta, kapasitas, perubahan karakter, kemampuan, dan sumber daya lain dari suami dan istri, supaya tetap bisa “menyeberangkan kereta api” rumah tangga mereka.

Intinya, malam ini saya diajar Tuhan untuk mengerti bahwa membangun sebuah hubungan terutama yang jangka waktunya “seumur hidup”, tidak mudah dan seringkali membutuhkan kerja keras. Tidak mudah karena manusia serba terbatas. Tapi apa yang tidak mudah, bukan berarti mustahil ketika saya sadar bahwa masih ada Tuhan, Sang Pencipta Kehidupan dan pencetus terbentuknya sebuah rumah tangga/keluarga. Dia tidak pernah merancangkan kegagalan. Dia selalu menyediakan “alat bantu”. Bahkan dalam proses hidup yang paling berat sekalipun, semua ada karena seijin Tuhan untuk membuat saya semakin mengenal DIA dan mengalami perubahan kualitas hidup.

I want to encourage all of my friends who are married, never give up with your marriage! God loves you, your spouse, your children. God loves your family. God is more than able to restore your marriage. Selamat meneruskan perjuanganmu menyeberangkan “kereta api rumah tangga”mu melewati jurang-jurang masalah demi masalah, “till death do us part”. God is able, so are you!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s