Happy And Healthy Single

Hari ini saya tidak berencana kemana-mana, karena memang sudah berjanji untuk mencoba membuat resep “cireng isi” bersama adik ipar saya. Tapi tiba-tiba waktu HP saya nyalakan sekitar pukul 8 pagi, masuklah pesan dari seorang sahabat.

“Na, lo ngapain hari ini? Mau ketemuan gak?” begitu isinya.
Tanpa pikir dua kali saya langsung menjawab “Mau”.
“Gua main ke rumah deh ya!” kata saya.
“Tapi saya cuma bisa sampai jam makan siang ya,” lanjut saya.

Singkat cerita, saya menjemputnya di rumah sahabat yang lain untuk “nongkrong” sambil ngobrol panjang lebar di sebuah mall dekat situ. Dalam perjalanan, mendengarkan nada bicara sahabat saya, sebut saja si A, seperti ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan, tapi entah apa. Karena waktu saya bertukar cerita ke dia, sepertinya dia tidak terlalu menyimak. Saya pun berhenti bicara. Mungkin dengan begitu dia baru akan bercerita apa yang sedang dia hadapi beberapa hari belakangan. Dan ternyata dugaan saya benar.

Begitu kami sampai di sebuah tempat makan di mall dan memesan minuman, dia langsung bercerita tentang seorang teman wanitanya. Kesimpulan saya untuk orang ini: “sakit jiwa”. Ups! Maksud saya: jiwanya sakit. Pertanyaan ini yang keluar: “Dia udah nikah belum?”
Dan dijawab si A, “Belum”.
“Tapi bukan berarti harus menikah dulu baru baik-baik aja dong!” kata si A.

Saya pun mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan sahabat saya. Kami punya status sama kok. “Lajang! Single!” Tapi tidak harus menghidupi kondisi lajang dengan cara yang “aneh-aneh”. Maksudnya: harus jadi wanita perkasa yang serba dominan, atau hidup dalam pergaulan bebas dan dunia malam “mumpung” masih single, atau menjadi sangat desperate ingin menikah sampai-sampai suami orang pun kita “sabet”, atau hidup single tapi tidak jadi berkat.

Dan selesai mengeluarkan isi hati soal temannya, sahabat saya menyebutkan beberapa nama teman yang juga single. “Si M tuh, single-nya sehat. Si L juga,” kata dia. Saya mengiyakan.
“Lo juga sehat,” lanjutnya.
“Elu juga kok, cuma kita emang agak beda aja. Gua single rumahan, elu single yang lebih bebas dalam arti suka bepergian untuk sekedar “leisure” atau pelayanan rohani,” kata saya.

Setelah itu, karena saya harus pulang, kami pergi dari tempat makan tersebut dan masuk ke sebuah toko aksesoris unik dan kreatif. Toko ini (waktu tulisan ini saya buat) memang baru buka di Jakarta, tapi sudah “booming” dimana-mana karena hasil karya yang dijual di toko ini benar-benar membuat semangat kreativitas seperti berlomba unjuk gigi. Keren! Itu pendapat saya tentang konsep si toko. Lucunya, sahabat saya mencari barang untuk diberikan sebagai hadiah ultah saya. Saya pun berencana membelikan sesuatu untuknya.

Setelah beberapa menit berputar-putar meneliti setiap rak barang yang ada di toko itu, saya tertarik ketika melihat sebuah tas sederhana dari bahan kain belacu warna broken white bergambar sepeda.
“Coba deh A, bagus gak? Kalau elu gua kasih ini, mau gak?” tanya saya ke A.
“Mau dong! Bagus ini. Pasti gua pake!” katanya.
Sebelumnya dia melihat saya memegang sebuah mouse pad bertuliskan “Enjoy The Simple Life” dan tahu kalau saya menyukainya.
Singkat cerita, kami bertukar hadiah. Padahal ulang tahun masing-masing sudah lewat jauh. Cuma memang baru sempat memberikan hadiah hari itu.

Dan ini komentar saya, “Gua kalau disuruh beli untuk pake sendiri tas itu sih kagak mau!” dan komentar si A, “Gua juga, kalau disuru beli sendiri mouse pad itu kagak mau!” (karena harganya tidak sebanding dengan barang sesederhana itu. Mungkin yang membuat mahal adalah nilai kreativitasnya).… Itulah indahnya persahabatan. Saling memberi yang terbaik untuk sahabatnya!

Kami memang masih lajang (waktu tulisan ini saya buat), tapi kami hidupi dengan takut akan Tuhan. Ini adalah sebuah anugrah Tuhan yang begitu besar, ketika kami hidup baik dan benar, sementara banyak lajang yang, tidak ingin saya hakimi, mungkin tidak bisa hidup seperti kami. Mereka terjerat narkoba, dunia malam, terjangkit virus HIV, hidup dalam kepahitan terhadap orangtua, dalam pemberontakan, dalam ketidakpuasan, terlibat hubungan terlarang dengan suami atau istri orang, dsb. Kami akan mendoakan mereka….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s