SELALU ADA PENGHARAPAN

Cover FinalSabtu itu, sepulang kantor saya sudah ditunggu 2 teman untuk pergi ke rumah seorang teman lain di wilayah KG, Jakarta Utara. Perjalanan dari kantor seharusnya tidak terlalu memakan waktu. Itu sebabnya saya dan teman-teman berangkat jam 1.30-an. Semua lancar, sampai tiba di area KG. seharusnya memang saya berbelok ke kiri, dan langsung menuju rumahnya di ujung jalan. Tapi saya berinisiatif untuk mampir ke sebuah toko kue yang berada di ujung jalan berlawanan. Ternyata… oh ternyata… kami terjebak macet! Hujan juga mulai turun dan semakin deras. Anginnya kencang. Selesai mengunjungi 2 toko kue, yang ternyata tidak bersedia mengantarkan kue yang akan saya pesan untuk ulang tahun teman, kami buru-buru masuk ke mobil dan…. “stuck” di jalan. x_x Batal pesan kue, we got nothing but the traffic jam…

Waktu berputar terus. Hujan semakin deras. Langit gelap pekat. Saya mulai terdiam dan “bergumul sendiri” dalam hati. “Tuhan tolong kami,” kata saya. Waktu tempuh yang hanya 5 menit menjadi berjam-jam dan tiba-tiba seperti tidak akan sampai di tujuan.

“Na, jangan diem gitu dong,” kata teman di sebelah saya. Dia melihat saya tercekam dalam diam karena melihat mobil yang sangat banyak memenuhi jalanan. Penuh sesak. Macet parah! Saya jawab, “Kita mau sampai jam berapa nih kalau kaya gini…”

“Sebenernya ya, kenapa orang bisa sampai bunuh diri, tau gak kenapa?” kata saya tiba-tiba setelah merenung.
“Karena orang kehilangan pengharapan,” jawab saya. (Nanya sendiri, jawab sendiri, karena jawaban teman saya kurang tepat).

Saya pun bercerita seorang mahasiswi sebuah Universitas yang nekat loncat dari apartemennya karena merasa tidak tahu lagi bagaimana harus melanjutkan hidup. Sudah terlanjur hamil 4 bulan. Tidak direstui ortu. Pacarnya belum mapan. Merasa tidak disayang/ortunya pilih kasih. Dll. Kira-kira itu cerita yang saya dengar di balik kejadian tragis tadi. Dia mati mengenaskan…

“Kayak gua gini ya. Gua gak tahu apa yang ada di depan kecuali mobil-mobil yang penuh sesak di jalanan. Kapan jalanan bisa lancar, apa yang menghambat di depan. Gua enggak tahu!” kata saya.
“Oh Tuhan tolong….” lanjut saya.

Tiba-tiba selagi saya sudah mulai “putus asa” seperti itu, mobil-mobil di depan saya mulai bergerak maju. Dan dalam hitungan menit, saya sudah sampai di bundaran yang ternyata batas akhir dari kemacetan. Di situ saya melihat 3 orang pria mengenakan jas hujan sedang sibuk mengatur lalu lintas.

“Mereka pasti malaikat yang dikirim Tuhan,” kata saya sambil tersenyum lega…

“Ini siapa sih pengelolanya? Udah tahu tuh bunderan selalu bikin macet. Kenapa gak diilangin aja sih? Trus tambahin aja traffic light!” kata saya ke teman-teman. Mereka setuju. Karena bundaran luas yang tanpa fungsi itu sungguh mengganggu lancarnya lalu lintas di area situ, bertahun-tahun, dan bahkan membuat jalanan semakin macet! Tapi tetap saja dibiarkan seperti itu. Taktik “marketing” yang jahatkah itu? Yaitu supaya orang-orang berminat membeli tanah di situ, karena daerahnya jadi terlihat ramai dikunjungi orang? Saya mulai nethink (negative thinking, Red) dalam hati. Kesal rasanya melihat sesuatu yang bisa ditata tapi dibiarkan begitu saja.

Akhirnya…

Kami tiba di rumah teman saya jam 4 sore (2,5 jam, seharusnya 45-60menit saja), dan menikmati kebersamaan. Enjoyable moment! Walaupun kami harus menginap karena kondisi jalanan yang macet dan banjir dimana-mana, tapi sisa hari itu berjalan dengan sangat baik.

Pengharapan dalam Tuhan, membuat kita tetap kuat menghadapi rintangan dan masalah, seburuk apapun. Dan ingat ini: selalu ada pengharapan di dalam TUHAN!

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita…(Ibrani  6:19)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s