Tukang Pijat Tidak Tepat Janji

Cover FinalHari ini, Sabtu, saya tidak kemana-mana. Terlintas pikiran untuk memanggil tukang pijat yang dikenalkan seorang teman. Dia sendiri memang belum pernah memakai jasa si ibu, tapi saya percaya saja untuk mencoba. Setelah mendapatkan nomor telepon… Deal! Jam 12.30 katanya si ibu akan datang ke rumah.

Menjelang pukul 12.30, saya masih menyantap makan siang. Dengan perhitungan, perut harus kenyang dulu baru dipijit, karena kalau menunggu 2 jam, saya bisa-bisa baru akan makan sekitar pukul 3. Terlalu sore. Takut tidak tahan lapar.

Tidak berapa lama, Papa mengajak saya pergi ke rumah kakak. Saya jawab “tidak bisa, karena sedang menunggu tukang pijat datang”. Beberapa detik kemudian, Papa sudah pergi meninggalkan saya.

“Eh! Udah jam 1!” begitu kata Mbak saya di rumah. Saya pun mulai curiga: “Jangan-jangan, enggak jadi dateng nih ibu.” Karena tadi dia sempat tanya, berapa orang yang dipijit? Saya jawab “satu”.

Dan memori saya pun melayang ke kejadian beberapa bulan lalu. Pernah saya menelepon tukang listrik. Sudah berjanji datang “besok pukul 7”, ternyata tidak datang, dengan alasan tertentu, saya lupa. Keesokan hari saya telepon lagi, dan dijawab dengan “hari dan jam datang”. Saya OK. Ternyata, dia tidak datang juga. Sudahlah. Saya malas menghubunginya lagi. Percuma. Tidak tepat janji buat apa diharapkan.

Dan… ternyata kecurigaan saya kali ini jadi kenyataan. Saya coba SMS si ibu, takutnya dia masih di angkot atau bagaimana. Ternyata tidak ada balasan. Lima menit kemudian saya telepon dan… ini jawabannya: “Maaf Bu, saya ngga punya pulsa (Padahal tadi pagi dia telepon saya sampai 2 kali, setelah menerima “order pijat” dari saya), jadi ngga bisa ngabarin. Ini saya lagi mijit 1 keluarga, jadi kayanya ngga bisa ke sana.”

“Oh, ya udah nggak usah deh,” kata saya malessss.
“Maaf ya Bu, kalau besok pagi mungkin saya bisa karena masih kosong,” katanya.
“Enggak usah deh. Engga apa-apa,” kata saya dan saya tutup teleponnya. Tidak mau perpanjang lagi. Percuma juga, dijanjikan besok, juga belum tentu datang lagi. Yang ada saya semakin bete. Mengesalkan…

Usaha model begini? Sudah janji tapi seenaknya batal tanpa info? Sudah 2x saya kena “kasus” sama. Mana bisa maju? Bisnis apapun kan berdasarkan “kepercayaan”, dan tepat janji. Kalau untuk pelanggan saja sudah tidak bisa tepat janji, kalau dari kecil saja sudah seperti ini, bagaimana bisa besarrrrr? (Emosi mode on). Padahal, saya kepikiran, kalau orangnya baik, pijatannya OK, saya akan rekomendasikan ke teman-teman, atau bahkan, saya sempat terpikir untuk buka usaha tempat pijat jadi si ibu tidak perlu keliling kota mendatangi pelanggan, pemasukan pasti lebih besar dibanding enerji yang terpakai. Tapi percuma lah. Dari kecil saja sudah tidak bisa dipegang janjinya…. Tidak bisa dipercaya…. Itu kesan saya.

 Saya pun buru-buru mengirim BBM ke teman yang merekomendasikan. Jawabannya: ya udah g juga delete deh telepon dia. Adem saya… dan saya pun juga men-delete nomor telepon si tukang pijat tidak tepat janji tersebut. Payah…. Yaa… gimana ya, merpati saja bisa ingkar janji, apalagi tukang pijat x_x.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s