PERUT LAPAR MEANS BAAAD MOOD

Cover FinalSiang ini, saya pulang ke rumah dari gereja dalam keadaan perut yang lapar. Starving…!

Saya berharap untuk bisa langsung makan siang setibanya di rumah. Ternyata… meja makan masih kosong melompong. Mbak saya masih sibuk di dapur menggoreng ikan dibalut tepung dan kepala udang. Ulekan kacangnya yang lezat untuk bumbu pecel pun masih belum semuanya ditaruh ke mangkok. Kenapa? Karena ternyata dia harus mengisi rantang “catering” untuk salah seorang kerabat. x_x. Yah… begitulah, ada yang sangat bergantung kepada kami dari segi makan siang, makan malam, termasuk belanja bumbu dapur di pasar.

Saya pun melipat kemeja tangan panjang saya dan membantunya, antara lain: menaruh seluruh bumbu pecel ke dalam mangkuk, mengaduknya dengan air tambahan karena bumbu masih sangat kental, menaruh sayuran ke dalam mangkuk, membawa lauk-lauk itu ke meja makan. Lalu saya pun makan. Sampai kenyang.

Lalu saya ke dapur untuk mencuci piring. Tapi …. Ternyata dilarang oleh Mbak saya. “Udah sini, saya yang cuci,” katanya. padahal saya betul-betul berniat membantu. Lagipula, sudah biasa kalau saya mencuci piring sendiri, dan piring-piring kotor lain yang berbarengan ada di situ. Sekalian saya cuci. Tapi kali ini dia menolak. Dan anehnya, saya marah. Kesal. Saya berkata, “Kamu ini antik bin ajaib ya, orang mau bantuin kok ga boleh. ‘Mangkel’ aku.” Lalu saya tinggalkan dia yang masih sibuk mencuci piring.

Hari ini saya memang lelah. Tapi saya bingung, kenapa saya bisa begitu kesal untuk hal sepele. Jawabannya satu: karena saya lapar. I was hungry. Bloody hungry. Itu membuat saya kesal. Dan kekesalan itu tumpah pada saat saya selesai makan.

Hmm… rupanya, roh, jiwa dan tubuh manusia itu diciptakan Tuhan sebagai satu kesatuan mungkin ya. Saya diajar untuk mengerti bahwa saya ini manusia roh, yang punya jiwa, dan tinggal dalam tubuh. Ketiganya harus sehat. Kalau cuma roh yang sehat, tapi jiwanya sakit? Pasti hidup saya tidak berfungsi maksimal. Dan sebaliknya, termasuk kalau roh saya sehat (sepulang dari gereja gitu loh!), tapi perut saya kelaparan yang akibatnya jadi memperburuk mood, saya kesal dan sampai berkata seperti itu ke Mbak saya yang luar biasa baik hatinya? Duh! Enggak banget deh ya…. Sore hari saya pergi ke hypermarket seberang rumah, dan membelikannya coklat sebagai permintaan maaf. Saya tidak bermaksud kesal tadi. It was just so uncontrollable….x_x

So my message is: jagalah tubuh, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak), dan roh kita dengan sebaik-baiknya. Jaga tubuh kita dari narkoba, nikotin, makanan berlemak, dll. Jaga jiwa kita dari pikiran-pikiran porno, keinginan-keinginan jahat terhadap orang lain, dll. Jaga roh kita dengan merenungkan Firman Tuhan.

And be a blessing wherever you go! God bless you!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s