The Most Arrogant City…

Cover FinalSaya belum sempat keliling dunia memang, tapi ada beberapa negara yang saya kunjungi mostly Asian Countries. Dan tahun ini, puji Tuhan I got a chance to go to some of European countries (some of the cities). Ini fakta yang saya dapatkan:

Satu:

Indonesia adalah negara paling crowded, tapi tunggu dulu. Indonesia juga sekaligus negara yang berpenduduk paliiing ramah. Thank God for that! Bukankah sebuah perjalanan menjadi jauh lebih berarti, bukan karena lokasi yang kita kunjungi, melainkan bersama siapa kita menjalani atau mengunjungi lokasi-lokasi tersebut? (Loren once said this, and this is true).

Begitu juga dengan sebuah negara. Sebagus apapun negara/kota itu, ketika sambutan penduduknya begitu kaku, angkuh, judes, dingin, what to get from there? Nothing but a very bad impression and memory.

Man does matter! Buat saya, manusia dan hubungan di antara mereka jauh lebih berarti ketimbang benda mati atau barang seindah apapun.

So I’m proud of my country. Kita adalah manusia yang paling ramah sedunia… menurut pendapat saya sejauh analisa dari kota-kota yang pernah saya kunjungi. Friendly, warm, bersahabat, dan hangat…

Dua:

Saya berkunjung ke sebuah kota kecil bin unik. Kenapa? Karena ada di dalam sebuah ibukota negara lain. Hanya beberapa puluh ribu km luasnya, dan dihuni oleh sedikit saja manusia yang tugasnya mengurusi urusan perkotaan dari kota tersebut. Ada banyak gereja, kantor pos, dan tempat pengisian bbm. Mereka tidak perlu bayar pajak untuk beli BBM. Dan hanya orang-orang yang “istimewa” saja yang boleh tinggal di dalam kota itu. Bukan sembarang orang bisa bawa “gembolan” untuk pindah ke sana.

I don’t have to mention the name of the city in order not to offend anybody.

Nah, ngomong-ngomong soal kantor pos di dalamnya, let me tell you a ridiculous story I got from this city.

Saya diminta untuk mengirimkan 1 postcard dari kota “istimewa” ini ke sebuah alamat di Indonesia. Rupanya, banyak turis melakukan hal sama. Mereka begitu antusias dan terlihat sangat bangga kalau sampai bisa mengirimkan kartu pos untuk teman atau kerabat dengan perangko dan cap kantor pos dari kota ini. Hmm…

Begitu masuk ke dalam sebuah gedung yang adalah si kantor pos itu, saya bingung. Di sudut terlihat counter kaca yang dijagai oleh 2 pria bermuka seram bin kaku. Seperti tembok atau gambar 2D, tidak bisa bergerak mukanya sehingga tanpa ekspresi. Di dekatnya terbentang meja persegipanjang yang cukup lebar untuk dikelilingi para turis yang sibuk mencoret-coretkan tulisan mereka di atas kartu pos. Satu orang bisa mengirimkan begitu banyak kartu. Saya melihat sudut lain, ada juga 2 penjaga counter yang sibuk melayani pelanggan. Kok sepertinya saya jadi ngeri hanya untuk sekedar bertanya. Dan saya pun memutuskan menanyai sesama turis saja.

“Where did you get the postcard?” tanya saya.

“Oh, saya enggak dapat dari sini, tapi dari luar. Tapi tunggu! Oh! Mungkin kamu bisa ke sebelah sana, ada rak kartu pos tuh!” jawab si turis dengan ramah dan sangat membantu.

Tidak lama setelah itu saya sudah kembali ke dekat meja kayu luas tersebut dengan membawa sebuah kartu pos, sambil masih kebingungan what to do next! Karena si turis sudah menghilang, maka saya memberanikan diri bertanya kepada seorang bapak tua berkumis tebal, bermuka tembok. Eh, maksud saya kaku bin dingin… garis mukanya lurus semua, tidak ada yang melengkung… betapa sebuah potret yang sangat tidak ramah. Dia adalah si penjaga counter di sudut yang saya ceritakan tadi.

Dengan tersenyum saya bertanya, “I want to post this card…?”
“What country do you want to?”
“Indonesia!”

Kartu yang saya sodorkan di loket dia “banting” lagi di sebuah “wadah” aluminium yang terletak tepat di bawah kaca counter di depannya (di depan saya juga, karena kami berhadapan, terpisah kaca bening). Saya mulai menangkap arogansi yang luar biasa menyengat…

“Two euro!” jawabnya kemudian.

Saya pun memberikan koin kepadanya senilai yang dia sebutkan. Dan dia lagi-lagi “membanting” 2 lembar perangko di wadah yang sama.

“Thank you!” kata saya, lalu buru-buru pergi dari hadapannya.

Setelah itu saya menuju meja dan merekatkan perangko dengan spons air yang tersedia di atas meja, lalu mulai menulis. Setelah itu? Saya terpaksa kembali lagi ke si pria tua tadi.

“What to do next after this?”
“Outside!” jawabnya masih tanpa senyum.
“Thank you!” jawab saya.

Setelah itu kejadian berikutnya tidak kalah luar biasa….

Saya sadar betul belum membayar postcard yang saya ambil dari rak, sementara jelas terlihat angka E 0,50. Sambil mencari-cari harus kemana saya menyerahkan koin, saya melihat 2 penjaga counter yang sibuk melayani pelanggan. Saya harus menunggu sebentar untuk bertanya. Dengan sambutan dingin yang nyaris sama, saya melunasi 50 sen si kartu pos, lalu buru-buru melangkah keluar dan memasukkan kartu ke dalam kotak pos yang memang ditempelkan di tembok gedung luar, lalu mulai mengomel dalam hati.

Waduh… sombong sekali ya. Sebuah kota yang untouchable, yang didatangi turis jutaan dalam setahun. Yang untuk masuk ke dalam sebuah gerejanya saja harus mengantri panjang di bawah sengatan matahari sampai kulit gosong. Yang punya banyak gereja dan tentu saja saya mengharapkan ada “kasih” didalamnya… Ternyata apa yang saya temukan? Arogansi yang sangat tinggi. Angkuh. Kaku. Dingin.

Apa sih yang disombongkan manusia? Masa hidupnya singkat kok. Kapan lenyap tidak ada yang bisa tahu termasuk dirinya sendiri. Come on… jangan jadi manusia yang sombong…. Itu pelajaran yang saya dapatkan dari aroma kesombongan yang sangat menyengat di kota ini….

Probably, this is the most arrogant city I’ve ever visited. Hhh….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s