Mama…

Cover FinalMinggu lalu Mama saya sakit. Hmm… saya kuatir. Kenapa? Sebab Mama sangat jarang sakit. Malam itu dia mengeluh seluruh badannya mulai dari bahu sampai kaki lemas. Dia masuk kamar beberapa detik setelah menyampaikan keluhannya. Tidak lama, dia memanggil saya untuk “kerokan”. Saya pakai balsam dan tutup dari wadah balsam. Cuma beberapa menit, Mama suruh saya berhenti. “Sudah, sudah,” katanya. Dia pun istirahat.

Keesokan pagi, sebelum ke kantor saya masuk ke kamarnya untuk bertanya, “Gimana Ma?” Saya berharap sudah sembuh. Ternyata masih sakit katanya. Saya bilang, ya sudah istirahat saja. Tidak perlu repot mengurusi rumah yang memang kebetulan sedang ditinggal mudik para pejuang rumah tangga. Saya kuatir… saya ingin ijin tidak masuk, tapi sepertinya berlebihan. Karena di rumah masih ada adik saya dan keluarganya. Mereka juga “capable” untuk menjaga Mama. Lagipula ini hari terakhir “ngantor”, besok sudah libur Lebaran. Saya lalu pergi ke kantor.

Puji Tuhan ternyata kantor hanya ½ hari. Saya buru-buru pulang dan ketika sudah di rumah, Mama (lagi-lagi) “kerokan”. Tapi kali ini dibantu adik ipar saya dengan metode ampuh telor ayam+koin perak+minyak kayu putih. Mama bilang, “Sudah enakan banyak nih!” Saya lega…

Mama… ehm… saya jadi tahu sifatnya sejak beberapa hari bekerja “alone” cuma dengan Mama. Biasa kan Mama sama mbak saya, sibuk di dapurlah, cuci baju (pakai mesin) lah, jemur baju, sapu-sapu, dll. Saya keenakan “dilayani” karena saya cuma tahunya kerja dan istirahat/makan malam di rumah. Titik. Selebihnya tidak terlalu tahu apa saja kegiatan di rumah. Ternyata Mama orang yang sangat mandiri. Dulu saya sering protes dalam hati, karena merasa tidak diperhatikan. Sepertinya apa-apa harus saya kerjakan sendiri. Kalau lapar dan tidak ada makanan/makanan habis, saya harus goreng telor sendiri. Sementara saya kepingin banget Mama yang menggorengkan untuk saya. Cuek. Itu kesan yang saya dapat tentang Mama. Beda dengan Papa yang sangat senang berepot-repot untuk membeli bahan makanan di pasar, membeli madulah, vitamin inilah, itulah, dan menyuruh anak-anaknya mengonsumsi ini dan itu.

Malam ini, saya disuruh Mama langsung makan. Maksudnya supaya meja makan bisa langsung dibereskan. Tapi saya memilih mandi dulu. Selesai mandi, Mama menemani saya makan, dan waktu selesai lebih dulu, Mama sudah mulai sibuk mengelap meja. Haduuhh…. Sudah tahu kurang sehat badannya (beberapa kali mengeluh pegal-pegal. Kemarin mengeluh pusing dan minta diukur tekanan darahnya), tetap saja tidak bisa santai. Benar saja, Mama bilang, “Duh, cuma begini aja rasanya mulai pegal di sini (menunjuk bagian bahu).”

Saya menyahut, “Udahlah makanya, santai aja. Nanti aku yang lap meja. Aku yang cuci piring.” Saya pun buru-buru menumpuk piring kotor di meja makan untuk saya cuci.
“Nanti mejanya disemprot pakai ini ya,” katanya.
“Iya, taruh aja semprotannya di atas meja, jadi aku tahu yang mana,” kata saya dari balik dinding dapur.

Selesai cuci mencuci, saya kembali ke meja makan, mengelapnya. Beres. Saya sudah mau naik ke atas, tapi Mama masih sempat mengambil selembar tissue dan mengelap meja yang sudah saya lap! Haduuh….

“Sudahlah. Dilap terus mau bersih seperti apa, besok juga kotor lagi,” kata saya.

Kami lalu naik ke atas untuk mulai menjemur pakaian yang sudah selesai dicuci mesin. Maksud saya, biar saya saja yang repot. Atau kalau perlu, tinggal suruh saya lakukan A atau B. Tapi Mama saya tidak begitu. Dia seperti tetap ingin mengerjakan semua sendiri. Haiyah…. Itulah Mama…

Saya jadi mengerti kenapa selama ini (dulu maksudnya) sepertinya saya “diabaikan”… karena Mama bukan tipe orang yang suka dilayani. Dalam kondisi badan kurang sehat pun, Mama masih menyibukkan diri melakukan ini dan itu. Self-service is the best way to live… mungkin itu motonya…

Tapi Mama sudah banyak berubah sekarang. Tiap pagi saya disiapkan sarapan (kecuali waktu sakit kemarin). Luar biasa! Proud of her. Pribadi yang sederhana, kuat dan mandiri. Mama mengajar kami anak-anaknya teladan hidup yang sangat baik. Thank God for having a mom like her….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mama…

  1. Etto says:

    Be grateful as God place great woman in your life. Your MOM. Your mom as you mention been self serve and even more than that which she chose to sacrifice for the daughter she loved.

    It’s time to put the ‘being like my mom on and learn to do exactly the same. It’s time to serve and even more, which to sacrifice for her, the woman that gave birth and raise you, with all the cost, no matter what.

    If there’s one focus on ministry that you should do, is to serve your beautiful sacrifice mom.

    Blessings in all you do and plan to,

    E

  2. Inspirations says:

    Yes Etto. Thanks for reminding me to be always grateful to have a wonderful mom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s