Carilah Dokter Yang Tepat!

Senin 9 September

Pagi ini aku galau setelah masuk kamar Mama dan melihatnya seperti kelelahan. Karena tidak bisa tidur semalaman, bahkan sampai aku mau pamit ke kantor pun Mama masih tidak sempat tidur sama sekali. Aku pun “laporan” ke kakak. Dengan sigap dia menelepon RS Mds untuk jadwal konsultasi dengan dokter jantung disana. Dikatakan bahwa jam 6 sore harus telepon kembali untuk tahu mendapat nomor urut berapa.

Sekitar pukul 6 lewat, aku mendapat kabar dari adik-adikku (mereka berdua sengaja menyempatkan diri untuk menjaga Mama dan membawanya ke RS Mds) bahwa Mama akan dibawa saja ke RS Hs daripada terlalu lama menunggu “pertolongan” dari RS Mds, karena mendapat nomor urut 60! Perasaanku masih saja sedih. “Ada apa ya dengan Mama…” aku bertanya-tanya dalam hati.

Sekitar pukul 7 aku ke RS Hs bertemu Mama, Papa dan kedua adikku. Bukan kebetulan kalau setelah mengambil hasil rontgen paru-paru, aku ikut masuk ke ruang konsul dokter paru. Adikku pikir karena paru-parunya bermasalah. Ternyata… dokternya sangat “amburadul”. Sorry to say! Aku tidak suka mendengar “diagnosa”nya yang serba “tidak apa-apa”. Kataku dalam hati, “Gimana nggak apa-apa? Kok kayak Pak Tino Sidin, gambar model apapun dibilang ‘bagus’?? Wong Mama sudah sampai sesak nafas dan pucat berhari-hari!”

Aku pun melaporkan “kondisi” dokter abal-abal tadi ke kakak, bahkan selagi masih di ruang konsul.
“Sampai rumah telpon aku. Nanti panggil Papa, aku mau bicara sama dia,” kata kakakku.
“OK!” jawabku.

Sepanjang perjalanan pulang, kami jadikan dokter tadi bahan lelucon. Dia menyuruh Mama mengonsumsi gula buatan. Masih ditambah lagi kejadian di lift, bertemu dengan dokter lain. “Dokter stress!” kataku. Masa di lift bisa bagi-bagi kartu nama setelah bertanya ke kami-kami: “Lahir tanggal berapa? Lahir tanggal berapa? Shio ini! Shio itu!” Hadeeeh….

Sesampainya di rumah, aku telepon kakakku. Karena merasa ada yang tidak beres dan harus dibereskan, tidak bisa ditunda! Setelah itu…

Pukul 10 malam adik-adikku mengantar Mama ke RS Mds untuk konsul.

“Aku nyalain HP yang ini. Kalau ada apa-apa telepon ya!” pesanku ke adikku.

Aku tidak bisa tidur. Sampai tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara HP-ku. Papa sudah tidur. Terdengar suara adikku berkata dengan lirih, “Mama gawat lho! Nggak boleh pulang nih. Disuru langsung masuk ICCU!” Aku lemas. “Ini aku sudah jalan pulang,” kata adikku. Kurang lebih 15 menit kemudian, aku mendengar suara adikku. Papa juga keluar dari kamar. Kami semua lemas mendengar Mama terkena penyumbatan di pembuluh utama dan harus langsung masuk ICCU…

Aku bingung. Kacau rasanya malam itu. Perasaanku tidak karuan…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s