Serangan Pertama

cover-final4.jpgSelasa, 10 September

Pagi-pagi sekitar pukul 7 aku berangkat ke RS bersama Papa. Setelah meminta ijin dari atasanku.

Heart failure.

Dua kata yang sangat mengerikan buatku. Sesampainya di RS… aku melihat Mama “penuh” selang. Di tangan kiri dan kanan. Bernafas pun menggunakan bantuan. Tidak berapa lama aku duduk di sebelah Mama, sahabatku Lina menelepon. “Na… lagi dimana?” tanyanya. Mendengar itu, tumpahlah air mataku. Aku menangis sampai tidak bisa bicara. Aku benar-benar sedih melihat Mama yang begitu sehat tiba-tiba harus dalam kondisi seperti itu. Tidak lama Papa menghampiri aku. “Kenapa?” tanyanya. “Enggak apa-apa, aku kan ngga pernah liat Mama seperti ini. Sudah Papa masuk saja, bilang aku lagi telepon sama Lina!” kataku sambil masih menangis.

Kasihan Papa. Dia shock berat melihat Mama seperti itu kondisinya. Tapi puji Tuhan, sekitar 1 jam setelahnya, ketika aku kembali masuk menjenguk Mama, alat bantu nafasnya sudah dicabut. Mama sudah bisa bicara dan jauh lebih baik. Aku sudah berusaha menahan air mata setelah kuhapus dan kuusap dengan air di toilet lt.1. Aku berjaga di situ bersama Papa dan kembali ke kantor sekitar pukul 12 kurang. Kakakku dan suaminya sudah datang.

Rabu, 11 September

Pagi ini aku ke RS lagi. Sampai siang baru ke kantor. Kami bergantian menjaga Mama, kecuali malam hari. Kami semua pulang dan beristirahat di rumah.

Kamis, 12 September

Aku tiba di RS agak terlambat, dan aku begitu kaget ketika diberitahu suster ICCU. “Tadi dicari Dokter L. Mamanya kena serangan jam 9 pagi tadi,” kata suster. Aku tiba 15 menit setelahnya! Aku menyesal kenapa lambat tiba di RS. “Jangan ditinggalin Bu. Bukan nakutin ya. Pasien kalau di ICCU itu kondisinya turun naik ga menentu,” katanya lagi.

Tidak berapa lama setelah suster berkata begitu, dokter jaga yang setiap ditanya tidak pernah bisa menjawab kecuali: “Nanti ABC (dia menyebut nama dokter jantung) yang akan kasih tahu. Tanya ABC aja,” mengajak Papa bicara. Saya juga mendekat. Serangan pagi tadi, telah disampaikan ke ABC dan dia menyatakan bahwa otot jantung Mama lemah. Sewaktu-waktu bisa berhenti. Sudden Death. Itu istilahnya. Dia memberitahu bahwa dokter jantung menyarankan memasang ICD. Lalu menyebut angka ratusan juta Rupiah (dibayar pakai uang asli, bukan daun…)

Papa lemas mendengar itu. Uang dari mana? Aku tinggalkan dokter jaga itu dan membiarkan Papa sendirian bersama dia. Aku tidak tahan, ingin menangis. Tidak berapa lama, Papa menyusulku, melihatku menangis di luar dan berkata, “Sudah serahin ke Tuhan aja. Kalau segitu (biayanya) bagaimana?”

Aku pun melaporkan “diagnosa” ABC dan sarannya untuk memasang ICD lebih dulu baru tindakan kateter. Padahal sama pentingnya. Kateter supaya bisa langsung menyelesaikan permasalahan utama, untuk tahu dimana penyumbatannya, supaya bisa langsung dilakukan tindakan entahkah bypass atau pasang ring.

Dokter “ajaib” yang mengontrol Mama tanpa diundang, dan pergi tanpa disuruh, jadwal tak menentu, kadang pagi, siang, malam, menjelang tengah malam, tiba-tiba sekitar pukul 6 malam masuk ke ICCU. Kebetulan aku dan adikku paling kecil yang sedang berjaga di dalam. Dia menjelaskan bahwa memang harus pasang ICD dulu. Aku meminta adikku menelepon kakak untuk menyampaikan kalimat ABC. Setelah bertelepon, ABC pergi meninggalkan kami yang kebingungan.

Kami memutuskan untuk memilih tindakan kateter dan pasang ring lebih dulu, ketimbang pasang ICD. Biayanya terlalu tidak masuk akal. Tidak berapa lama ABC kembali mendatangi kami, dan mengatakan bahwa harga ICD hanyalah XYZ, tidak semahal yang disebutkan dokter jaga. Tapi kami sudah memutuskan untuk kateter lebih dulu. “Ya sudah, bisa saja. Tapi kateter itu baru separuh jalan! Masalahnya belum tuntas selesai!” katanya. Dia seperti memojokkan kami untuk sepakat dengannya yaitu pasang ICD dengan harga ratusan juta Rupiah.

Hari ini kami mulai atur jadwal menginap, sekalipun di ruang ICCU! Puji Tuhan aku melihat pasien-pasien “tetangga” Mama yang tidak ditunggui siapapun. Kalaupun ada, yang menunggui hanyalah asisten rumah tangga. Tapi Mamaku dijaga bergantian dengan kedua adikku dan aku. Kami bergilir menginap dan menunggui Mama di RS.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s