Berharganya Sebuah Ketulusan

Cover FinalSabtu, 14 September
Puji Tuhan Mama tidak terkena serangan hari ini. Aku yang kena giliran menginap terus berdoa, supaya aku tidak perlu melihat Mama yang tiba-tiba pingsan ketika detak jantungnya berhenti.
 
Minggu, 15 September
Sore ini, Melan, Fery dan Key datang. Setelah mendoakan aku, Melan berkata, “Sori ya Na, gua belum bisa kasih apa-apa.”
Ah! Aku terharu mendengarnya. “Nggak apa-apa Lan, doa lu sungguh berarti,” kataku. Dia dan keluarganya meluangkan waktu untuk menjenguk Mama, mencari-cari lokasi RS yang asing buatnya, dari rumahnya yang sangat jauh.

Sungguh berharga punya teman seperti mereka.

Hari ini mataku seolah terbuka untuk melihat, siapa orang yang tulus dan tidak. Beberapa orang yang kuharapkan bisa menolong, justru tidak peduli dan tidak memenuhi harapanku. Aku berharap dari seseorang, paling tidak aku mendapatkan informasi nomor telepon ABC yang datang dan pergi sesukanya, tanpa bisa kami mintai informasi jelas tentang kondisi Mama, tapi pengharapan itu sirna. Aku juga mendengar beberapa cerita dari orang-orang yang bahkan menjenguk saja tidak, padahal adikku berharap mereka bisa mendoakan Mama. Aku melihat orang yang seperti “ketakutan” dimintai tolong. Padahal kami bukan tipe pribadi yang suka merepotkan orang lain. Aku juga bertemu dengan orang-orang yang menjenguk Mama sambil membicarakan biaya RS yang mahal. Padahal kami bersusah payah menjaga supaya Mama tidak berpikir soal biaya yang memang mahal. Mamaku berjemaat di sebuah gereja dengan gembala yang tidak peduli, padahal sudah tahu kalau Mama sakit. Luar biasa! Tapi terlepas dari itu semua, aku juga melihat kepedulian yang tulus dari atasan dan teman kantor, sahabat dan kerabatku serta teman-teman gereja yang memang tulus… salah satunya seperti Melan dan keluarga.

Di tengah masalah seperti ini, betapa berharganya sebuah ketulusan, sangat terasa…

Hari ini, adikku yang paling kecil kena giliran menginap. Dia cerita yang sama. Mama kena serangan. Ketika ditanya ingin menu makanan apa oleh staf RS, tiba-tiba Mama pingsan. Tapi kali ini karena sudah ditempel alat kejut di bagian dada, alat itu langsung bekerja ketika detak jantung Mama berhenti.

“Alat itu menunggu sampai detak jantung berhenti. Grafik di monitor lurus (seperti grafik orang yang sudah meninggal), baru alat itu mengirimkan kejutan listrik. Ngeri banget,” cerita adikku menjelaskan cara kerja si alat.
“Untung bukan aku yang sedang menunggui. Kalau enggak, aku sendiri ikut pingsan,” kataku…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s