Efek Obat Jantung

Cover FinalSenin, 16 September
Operasi pasang ICD berhasil dengan baik. Tepat 2 jam seperti yang dikatakan ABC, Mama keluar dari kamar operasi. Aku tidak ikut hadir, hanya mendengar cerita.

Puji Tuhan. Sore sepulang kerja baru aku ke RS. Mama sudah sadar. Tapi tidak boleh terlalu banyak gerak. Mungkin terlalu ‘hepi’, Mama pikir prosesnya di RS ini sudah selesai. Besok sudah boleh pulang. Mama belum tahu, ini baru tahap awal. Permasalahan utama masih belum disentuh sama sekali.

Selasa, 17 September
Mendengar Mama terus melantur, dan halusinasinya bermacam-macam, aku sangat sedih.

Sore aku keluar kantora jam 4.30. Sedianya jam 3, tapi karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi puji Tuhan, jalanan tidak semacet kemarin.

Sampai di RS, aku buru-buru menuju kamar kecil, yang tepat berada di samping sebuah ruangan yang paling aku benci. Admission. Mual rasanya tiap kali lewat situ. Angka di rekeningku tidak berisi sebanyak deposit yang mereka minta pastinya.

“Kami bukan keluarga kaya. Uang hanya cukup untuk kondisi sehat.” Itu yang kubilang ke teman. Sulit untuk bisa mengerti apa yang kurasakan beberapa hari terakhir, karena perasaan itu memang tersimpan sangat dalam sampai-sampai cuma aku dan Tuhan yang tahu.

Hari ini 2 kali Mama terkena serangan. Waktu ada adik iparnya datang, Mama memaksakan diri bercerita.
“Siapa bilang, di-ring nggak sakit. Sakit…Tadi disini berasa ‘jeduk-jeduk’. Sampai aku kaget!” kata Mama.
Dalam hati aku berkata, “Mama, itu ICD yang baru ditanam ke tubuh Mama kemarin siang.”
Mama pikir dia sudah di-bypass…. Makanya kepingin cepat pulang.
“Aku dimasuki alat gede banget!” kata Mama bersemangat cerita.
(Alatnya memang cukup besar, ABC memperlihatkan ICD dari foto rontgen Mama).

Mama cepat sembuh ya. Tuhan cukupkan biaya RS yang membuat saya ikut “jantungan” setiap kali keluar-masuk kamar kecil…

Aku melihat suster aplusan melacak urutan obat dan histori dari apa yang sudah dilakukan suster sebelumnya. Tapi aku sudah tidak terlalu pusing. Kekuatiran bahwa bisa saja suster melakukan kesalahan bisa saja terjadi. Tapi aku cuma bisa percaya sama Tuhan. Pasrah…Biar damai sejahtera yang melampaui segala akal yang memelihara Mama.

“Kekuatiranmu tidak menambahi apapun Erna. Jadi jangan kuatir…”
“Hati yang gembira adalah obat..” (saya sedang stress…)
“Ya Tuhan, ajar aku bersyukur dalam segala hal yang terjadi. Segala hal… “ doaku.

Malam itu aku bertanya ke suster jaga, apa boleh Mama pindah kamar. “Saya takut Mama saya drop,” kataku ke suster sambil menangis.
“Nanti saya tanyain ke ABC ya,” jawabnya.

Sekitar pukul 8 malam. ABC datang. Aku bertanya, “Mama saya boleh pindah kamar biasa? Saya takut dia drop, karena sudah minta-minta pulang.”
Dengan ekspresi kosong yang khas, dia menjawab tanpa ekspresi, “Itu alatnya masih banyak, kalau di kamar biasa tidak ada alat-alat itu.”
Lalu dia pergi.
Penjelasan yang “sangat tidak jelas” buat hatiku yang sedang tidak jelas.

Rabu, 18 September
Aku kalut pagi ini. Kabar bahwa Mama ingin pulang membuatku sangat sedih.
Setelah membereskan pekerjaan kantor, sekitar pukul 3 lewat aku menuju RS.

Mama sangat ingin pulang. Desperate to go home…Paling tidak pindah kamar.
Beberapa kali Mama memaksa bangun mengajak pulang. Beberapa kali pula aku menjawab, “Belum boleh Ma…”, sambil menahan tubuhnya supaya tetap rebah di tempat tidur.
Rasanya sedih sekali. Kutahan air mataku.
Mama seperti orang linglung. Sebentar memejamkan mata, dan langsung meminta pulang begitu buka mata.
“Lho! Ngapain di sini kelamaan. Ayo pulang!” katanya.
Mama juga sempat mau menarik selang-selang yang masih dipasang di bagian leher.
Aku stres menghadapi ini…
“Banyak sarang laba-laba,” kata Mama sambil menggerakkan tangan ke atas, mencoba membersihkan sarang laba-laba yang dilihatnya.
“Pulang saja. Ngapain disini!” kata Mama mengajakku pulang.
“Ya, nanti aku kasih tahu dokternya,” kataku.

Aku kangen sama mama. Kepingin dia jadi seperti dulu lagi. Sehat. Gemuk. Segar.

Jam 8 malam…
ABC datang. Sepertinya dia sudah hafal melihat mukaku.
“Gini, Dia ngelantur itu karena obat. Enggak apa-apa,” katanya. Dan obat jantung yang menyebabkan ngelantur itu disuruhnya untuk tidak lagi diberikan ke Mama. Obat itu untuk membuat ritme jantung stabil, tapi akibatnya Mama jadi ngelantur nggak karuan. Aku lebih memilih ritme yang kurang stabil, asal secara psikis Mama stabil…
Demi mendengar perintah ABC, suster yang bertugas menjaga Mama dengan cekatan mematikan asupan obat jantung.
Puji Tuhan.
Mama sedang tidur pulas.
Saya lalu bertanya, “Apa langkah selanjutnya?”
Tapi dia menjawab “tidak nyambung”.

“Gini deh, besok pagi difoto dulu. Kalau hasilnya bagus, boleh pindah kamar!” katanya.
“Foto sekarang deh!” lanjutnya tiba-tiba.
Dan setelah difoto paru-paru, sekitar pukul 9.00, suster berkata, “Boleh pindah kamar ya Bu! Tapi tunggu nanti disiapkan kamarnya dulu!”

Aku lalu menunggu “surat cinta” dari suster jaga ICCU yang harus dibawa ke bagian Billing di lantai 1. Ruangan yang membuatku “jantungan” setiap aku melewatinya untuk buang air kecil. Dan setelah mendapat surat itu, aku ke bagian billing, menelepon kakakku untuk memilih kamar. Karena pertimbangan biaya yang sangat mahal, nyaris kami memutuskan memilih kamar berisi 6 orang. Tapi ternyata penuh. Jadi Mama mendapat kamar yang berisi 2 orang.

Puji Tuhan. Karena tidak terbayangkan suasana di kamar yang seharusnya membawa “hawa” lebih segar dibanding ICCU, tapi ternyata seperti pasar? Untung kamar itu penuh pasien.
“Mau di-waiting list aja? Jadi kalau nanti ada yang kosong, baru pindah ke kamar kelas 3?” tanya staf bagian billing. Aku mengiyakan.

Tapi akhirnya kami sepakat untuk tidak mencari kamar kosong di kelas 3. Mungkin akan seperti kata orang, “kamar kelas kambing”. Padahal harganya …. Jangan ditanya. Tetap saja mahal dengan perincian yang tidak masuk akal dan tidak bisa ditelusuri. RS ini serba minimalis, tapi biayanya sangat maksimalis… Biar Tuhan saja yang balas.

Aku langsung memberitahu Mama setelah  tadi suster mengatakan boleh pindah kamar biasa. Mama ‘hepi’. Puji Tuhan. Tapi karena terlalu lama proses perpindahannya, aku pun sudah harus pulang pukul 10.00, karena adikku sudah datang. Shift-ku sudah selesai. Sekitar 10.30 malam, Mama baru dipindah ke kamar biasa. “304,” kata adikku. Puji Tuhan.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s