Hasil Kateter

Cover FinalSenin, 23 September
Pagi-pagi kakakku menelepon. Soal pembagian “jatah partisipasi” biaya RS. Puji Tuhan untuk proses pasang ICD, sudah dicukupi oleh Tuhan secara mujizat. Tuhan menggerakkan dua kerabat untuk memberikan donasi uang yang jumlahnya tidak kecil. Aku terheran-heran melihat cara Tuhan bekerja menolong kami sekeluarga.
 
Aku jadi ingat, waktu awal Mama masuk RS minimalis tadi, adikku yang paling kecil berkata, “Selama Mama masih bisa ditolong, kita harus tolong, at all cost!” katanya. “Aku bisa pinjam teman-temanku. Aku juga siap menjual mobilku!” lanjutnya. Aku menangis membaca kalimatnya di group chating keluarga. Aku tahu rumahnya paling jauh. Kalau sampai mobilnya dijual? Mungkin aku akan meminjamkan mobilku sesekali. Toh aku bekerja tidak jauh dari rumah.
 
Jadi kakakku pagi ini membagi jatah untuk proses kedua: yaitu pasang ring atau bypass! Jumlahnya tidak kecil. Kakakku sudah menghitung dan biayanya bisa sampai 300 juta. Hmm…
 
Aku cuma bisa percaya sama Tuhan. Who else?
 
Malam sesampai di RS, aku berjumpa dengan 2 orang gereja yang membesuk Mama. Aku tahu mereka bermaksud baik. Tapi sayang kok perkataan yang keluar cuma soal biaya RS ini yang mahal sekali menurut pengalaman dia. Mamanya yang meninggal di rumah, awalnya juga diperiksakan di RS ini, tapi katanya dimintai deposit 300 juta. Jadi mereka membawa pulang si mama. Ckckck… kalau aku besuk orang sakit, kok tidak pernah ya terpikir untuk membahas biaya sama yang sakit?
Mama terlihat bingung mendengar ceritanya. Mama pikir RS ini tidak semahal RS lain. Sejak itu Mama terus tanya soal biaya. Dan kita terus semakin giat menutupi…
 
Mbok besuk saja, ucapkan kalimat kekuatan, ajak Mama doa. Pulang. Pasti akan jauh lebih berkesan positif. Tapi ini… aku sangat marah setelah mereka pergi.
“Mama harus banyak istirahat pasca operasi. Jangan ada lagi orang lain yang tidak kenal jenguk Mama, sekalipun dari gereja. Kalau bisa mulai saat ini, kita batasi saja siapa yang akan jenguk. Bilang saja Mama tidak bisa dijenguk!” kataku penuh emosi…
 
Selasa, 24 September
Aku gelisah sekali di kantor. Hari ini Mama dikateter. Aku harus tahu apakah bisa dipasang ring (membayangkan biayanya aku gelisah), atau bypass (padahal tidak bisa dalam kondisi lemah seperti sekarang, jadi pasti akan lebih lama tinggal di RS kalau harus bypass). Aku kalut… tapi harus tetap konsentrasi pekerjaan. Hal yang cukup sulit untuk dilakukan.
 
Sekitar jam makan siang.
“Mama nggak bisa di-ring. Harus di-bypass. Karena penyumbatannya sudah berkerak. Dan ada di pembuluh utama. 3 pembuluh besar tersumbat, dan tidak bisa dipasang ring. Fungsi jantungnya tinggal 20%.“
Kata ABC, bisa saja tidak di-bypass, tapi keraknya dikerat menggunakan berlian, dan itu harganya ratusan juta Rupiah (dibayar tunai pakai uang/angka di rekening bank, bukan pakai daun…). Can u imagine betapa kejamnya dunia?
 
Aku lemas membaca chat group yang isinya laporan itu.
 
Tapi Mama? Dia (lagi-lagi) ‘hepi’. Karena dipikirnya sudah beres. Sejak selesai pasang ICD, Mama sangat ingin pulang. Tapi kami janjikan harus kateter dulu. Jadi setelah kateter, Mama pikir sudah selesai prosesnya…. Aku sedih memikirkan Mama. Dia bingung. Kenapa masih belum boleh pulang?
 
Tapi karena RS ini sudah tidak “capable” untuk tindakan bypass, dengan peralatan dan tim yang tidak memadai menurut informasi dari bagian Billing, termasuk ABC sendiri tidak merekomen untuk di-bypass di sini, maka kami sepakat membawa mama pulang hari ini juga!
 
Ambulans sudah dipesan untuk mengantar Mama pulang pukul 7. Kami sudah saling koordinasi. Aku akan ada di samping Mama di dalam Ambulans. Seorang kerabat duduk di sebelah supir ambulans. Adik-adikku mengantar Papa pulang ke rumah. Kakak dan suaminya serah terima obat dan hasil check selama di RS lalu pulang ke rumah ortu juga.
 
Sayang jadwal meleset. Hasil kateter merembes darahnya. Bekas luka masih harus dipastikan tidak mengeluarkan darah lagi, baru Mama boleh pulang. “Tunggu sampai jam 8,” kata suster.
 
Aku sampai sekitar pukul 5. Dan semua sudah lengkap ada di RS. Bermaksud menyambut Mama kembali ke rumah setelah 20 hari berada di RS! Semua hepi… sampai akhirnya nyaris pukul 11 Mama baru tiba di rumah. RS memiliki sederet prosedur yang mengherankan hanya untuk me-release pasien! Bahkan pasien tetangga yang sudah pulang lebih dulu, sejak pagi jam 10 sudah diperbolehkan pulang, tapi nyatanya, sampai jam 6 sore baru Mama bisa pindah menempati lokasi tempat tidurnya! Alasannya karena pakai asuransi. Luar biasa! Pakai atau tidak, punya asuransi atau tidak, tetap saja RSCA (Rumah Sakit Capek Antri) berfungsi dengan sangat baik. Mau pulang pun harus antri dan ditahan sedemikian rupa. Harus tunggu dokter ABC tanda tangan persetujuan, sementara dokter ABC tidak bisa ketahuan kapan bisa tanda tangan. Luar biasa… 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s