Sahabat Sejati

Cover FinalKamis, 19 September
Aku mendapatkan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kami jatuh tergeletak. Semua pasti berakhir.
Suasana hari ini agak “panas” di antara kami, anak-anak Papa dan Mama. Tapi semua berakhir dengan baik.

Jumat, 20 September
Luka bekas pasang ICD merembes. Jadi harus dijahit ulang. Hasil CT Scan ginjal bagus. Puji Tuhan. Kami membutuhkan laporan tersebut untuk persiapan kateter.

Sabtu, 21 September
Pagi ini luka Mama dijahit ulang, dan sudah beres!
Aku buru-buru pulang dari kantor. “Kok buru-buru, mau malam mingguan ya?” tanya teman kantor.
Dalam hati, saya berkata, “Saya nggak malam mingguan Pak. Tapi mau ke RS…”😛
Sore sekitar jam 6, sahabatku Lina, another Lina dan Miha datang membesuk Mama. Lina sempat menyerahkan sebuah amplop. “Ini dari aku sama mama ya Na. Isinya nggak seberapa,” katanya. Aku menangis terharu. Sahabat yang tulus susah didapatkan, tapi aku punya beberapa. Sungguh kasih karunia Tuhan yang luar biasa, bisa punya sahabat sejati….

Oh iya, ada kejadian lucu. Mama pikir fisiknya sudah sehat. Jadi waktu melihat aku membawa kopi, dia memaksa minta.
“Sedikiiit aja. Nanti dicampur air. Sinih!” katanya. Haduuhhh… aku bingung. Antara mau ngasih atau enggak. Tapi akhirnya dengan tegas aku bilang, “Nggak boleh Ma!” Lalu aku ke kamar kecil untuk membuang isi gelas + gelasnya. Beres. Di dalam kamar kecil aku tertawa. Mama lucu… seperti anak kecil merengek minta mainan. Pengaruh obat dan halusinasinya masih “kental” sepertinya.

Mama juga masih saja melihat sarang laba-laba. “Kotor,” katanya.
“Ini rumah dokternya kok kotor banget. Dokter kok jorok,” katanya. Hehehe… (itu waktu sedang “genting” di ICCU, yang bikin aku stres waktu itu…). Aneh juga. padahal obat sudah di-stop dari sejak pindah ke kamar biasa.

Minggu, 22 September
Dini hari pukul 1, Mama membangunkan aku. Mau ke kamar kecil, katanya. Dia mau turun dari ranjang. Waduuuh….
Buru-buru aku menekan tombol.
“Sus, minta bantuannya ya…!” kataku.
Dan suara susternya pun menggelegar memenuhi kamar. Padahal pasien di sebelah sedang tidur.
“Sus, ini nggak bisa dikecilin ya volumenya?” tanyaku.
Speaker di kamar yang memancarkan suara jawaban suster jaga di depan sana memang dahsyat!
“Nggak bisa Bu. Padahal kita ngomongnya jauh loh dari speaker..” jawabnya.
“Ooo..” kataku ke suster. “Ya sudahlah,” lanjutku dalam hati.
Suster membawa pispot dan Mama tidak jadi ke kamar kecil.

Sekitar pukul 1.30, Mama ngotot memintaku memanggil suster. Katanya susternya tidak membersihkan dengan baik bekas buang airnya tadi. Aku suruh Mama tidur saja.
Pukul 3 subuh, Mama nekat menekan tombol dan memanggil suster.
“Sus, minta dibantu,” katanya.
Badanku lemas karena kedinginan, dan tidak bisa tidur pulas. RS minimalis ini hanya menyisakan ruang sangat sempit untuk aku rebahan di atas kasur lipat adikku. Dan setiap kali suster mondar-mandir nyaris tiap jam cek tensi dan gula darah, aku harus “boyongan” melipat kasur dan duduk di kursi dekat pintu. Haduh… luar biasa perjuangannya.

Suster pun datang dan bertanya, “Kenapa Ma?”
“Minta diwaslap sus,” kata Mama.
Suster menjawab, “Jam 6 Ma.” Tapi melihat Mama tidak tahan karena merasa masih kotor, akhirnya aku bilang, “Minta dibersihin sus, tadi kurang bersih abis buang air besar.”
Dan suster dengan muka seperti “zombie” tanpa ekspresi karena memang masih subuh, dengan sabar membersihkan paha dan kaki Mama.
Aku sudah malas rebahan lagi. Capek digusur terus. Tapi badanku mau ambruk rasanya. Jadilah kugelar lagi kasurnya… tapi tetap tidak bisa tidur pulas sampai menjelang pukul 6… Aku terbangun karena suara 2 suster yang akan membersihkan badan Mama.
Haduuuhhhh badanku…. Ngerentek.
Sehabis diwaslap, aku menggelar lagi kasurku dan tidur. Tidak lama bagian makanan datang mengirimkan makanan. Aduuuhhh kalau yang sehat saja jadi sakit badannya, bagaimana yang sakit??
Setiap jam ada “gangguan”, yang tensilah, yang ukur gula darahlah, yang tanya makananlah, antar makanan, ambil sampah, dll, dll. Haduh3….!

Selesai waslap, Mama minta dipakaikan baju rumah… terharu aku melihatnya.

Semalam dokter jaga bilang kalau infus warna kuning sudah tidak akan dikonsumsikan lagi ke Mama, karena mengandung gula. Gula darahnya jadi tinggi. Mama beberapa hari sejak operasi ICD memang tidak mau makan. Mogok makan. Protes karena sudah ingin pulang tapi tidak diijinkan.

Jam 11 lewat kakakku dan keluarganya datang. Pas! Ada yang menyuapi Mama makan.

Aku minta pindah posisi tempat tidur supaya ada di sebelah jendela setelah mendengar pasien sebelah akan pulang hari ini. “Supaya ganti suasana” juga. Sumpek berada di dalam kamar yang memang minimalis, tanpa jendela pula!

Jam 3 sore aku baru bisa pulang. Naik mobil keren tapi tanpa AC. Seperti menaiki oven untuk memanggang roti. Untungnya badanku kurang fit, jadi aku nyaman saja.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s