Dokter dari Tuhan? (1)

Cover FinalRabu, 25 September
Saya terlambat ke kantor, karena semalam tidur pukul 12.30.
Ketika pagi bangun, aku membereskan barang-barang Mama yang dari RS. Ada yang sudah harus masuk ke cucian, ada yang ke lemari Mama, tong sampah, dan beberapa barang yang harus dikembalikan ke pemiliknya: Jaket Miha, kabel-kabel charger.

Mama tidur pulas semalam. Puji Tuhan. Untuk pertama kalinya setelah 20 hari Mama bisa tidur di kamar sendiri. Setelah Mama sarapan, ganti pampers, waslap dan makan obat, baru aku berangkat ke kantor.

Kamis, 26 September
Semalam Mama tidak bisa tidur. Ternyata cuma karena memikirkan bagaimana caranya supaya bisa duduk dan berjalan. Haduh…

Setelah bangun pagi, sarapan, Mama mulai belajar duduk, lalu menggosok gigi sambil duduk, minum obat, dan kutinggal ke kantor.

Sabtu, 28 September
Setelah aku berunding dengan adik-adikku untuk membawa Mama ke terapis dan bukan untuk berlanjut ke operasi bypass, hari ini perundingan ditambah dengan kakak menghasilkan “kesepakatan” bahwa Mama harus tetap di-bypass.

Sewaktu Mama pulang kemarin, kakakku sempat berdiskusi dengan salah seorang dokter bedah cabutan di RS minimalis, sebut saja dokter Z. Dia menjanjikan sanggup melakukan bypass, tapi di RS tempat dia praktek bedah. Harganya tentu jauh lebih murah, bisa 2-3 kali lipat lebih murah. Tentu saja kami senang. Sepertinya ada pengharapan di tengah jalan buntu, setelah ABC tidak merekomendasi untuk Mama bypass di RS ini, bahkan merekomendasikan ke RS di negeri singa. Biayanya berapa? Dia sih enak saja, tidak ikut menghitung lembaran uang atau angka yang akan terpotong dalam jumlah sangat besar kalau Mama ke sana… Sedangkan kami? Itu sebabnya, kami ‘hepi’ karena seolah Tuhan mempertemukan kami dengan dokter bedah Z yang terlihat sangat informatif dan baik. Aku tidak bertemu langsung, baru kakak, dan adik-adikku. Sepertinya dia dokter dari Tuhan. Hmm…

Jadi setelah ada kesepakatan baru, aku cukup kasihan dengan adikku yang besar. Dia sudah bersusah payah membawa semua hasil check medis Mama ke seorang dokter terapis jantung, tapi akhirnya Mama batal dibawa ke sana.

Malam ini sahabatku Lina datang membawa ikan dori. Dia memberikannya buat Mama. Aku terharu…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s