Dokter dari Tuhan? (2)-Batal bypass

Cover FinalJumat, 4 Oktober
Hari ini aku harus percaya bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik! Trauma dan protesku atas meninggalnya kakakku masih membekas. Yang artinya amarahku ke Tuhan juga masih ada sisanya. Aku begitu takut Tuhan akan melakukan yang sama ke Mama. Aku takut kehilangan Mama.

Percaya saja! Itu yang terbaik yang seharusnya kupilih. Ah! Sulitnya….

Sabtu, 5 Oktober
Pagi ini Mama dibawa ke RS minimalis lagi. Loh? Kok bisa? Padahal awalnya mau di-bypass di RS lain dimana Z praktek tetap.

Jadi ceritanya begini…

Dr Z akhirnya menelepon kakakku dan meminta untuk membawa Mama kembali ke RS minimalis.
“Ini kasusnya gampang. Di RS minimalis juga bisa!” katanya memberi harapan sangat besar.

Ada yang tidak sinkron disini. Padahal mendengar cerita kakakku soal instruksi Z, aku kurang yakin. Kok bisa? Bukannya bagian billing sudah katakan tidak bisa di-bypass di situ, karena kekurangan peralatan dan tim medis? ABC juga tidak menyarankan. Itu sebabnya aku sudah cukup hepi mendengar Mama akan dibawa ke RS lain yang memang RS khusus jantung.

Tapi tiba-tiba Z berani menjamin semua akan beres dalam waktu cepat. Sabtu pagi masuk minimalis, Minggu sore di-bypass, 2 hari di ICCU, lalu pindah kamar biasa. Paling 1 minggu di minimalis, dan Mama sudah boleh pulang. Luar biasa janjinya. Ternyata….

Aku harus ke kantor, jadi tidak bisa mengantar. Kan tugasku memang menginap. Jadi pas.

Sesampai di RS, aku melihat all siblings sudah di situ. Entahkah tegang semua, atau hepi. Yang jelas kami tahu rencana bypass Mama besok di RS ini. Adiiku yang paling kecil punya golongan darah sama dengan Mama. Aku juga. Jadi aku disuruh ke Lab, Lt. 1 untuk daftar. Aku yang datang kebingungan.
“Golongan darahmu apa?” tanya kakakku.
“ABC!” kataku.
“Ya sudah sana turun ke bawah. Daftar!”

Rupanya prosedur di RS ini mewajibkan anggota keluarga dengan golongan darah sama untuk di-screening lebih dulu, kalau memenuhi syarat, besok harus standby di RS, jadi sewaktu-waktu dibutuhkan pasca operasi, maka Mama bisa ditransfusi dengan darah cadangan dari anak-anaknya.

Tapi sesampainya di bawah….
“Harus anak laki Bu, kalau perempuan nggak boleh!” kata suster bagian Lab.

Dua kali aku ditolak sewaktu akan donor darah. Entah kenapa. Yang pertama karena HBnya tidak sesuai. Yang kedua, katanya karena alasan berat badan kurang. x_x. Jadi ini penolakan ketiga!
Ya sudahlah. Apa mau dikata. Adikku saja yang di-screening dengan biaya ratusan ribu, yang adalah 3 kali lipat dibanding RS swasta lain…

Aku naik lagi ke kamar Mama, dan tidak lama semua pulang meninggalkanku sendirian. Suasana terasa aneh. Sendirian! Aku merasa ada yang tidak beres akan terjadi. Seperti tidak ada rasa “yakin” setelah begitu banyak “janji” yang meleset dari RS ini dalam hal Mama.

Benar saja… pukul 9.30 malam, ketika aku sedang berjuang untuk bisa tidur. Tiba-tiba…
“Anaknya Ibu Ester yang mana?” tanya dokter jaga seumur jagung, dengan suara menggelegar tanpa perasaan. (dipikir-pikir kenapa dokter di RS ini seperti robot semua ya? Tidak punya perasaan atau karena EQ-nya rendah ya?).
Aku terkejut dan bangun dari “tilam” yang siap digusur, seperti orang linglung.
“Dr Z mau bicara,” lanjutnya setelah aku menyahut.

“Sori, sori ya. Saya ada missed satu data. Ini kan kreatinin Mama tinggi. Besok tidak bisa dioperasi,” kalimat Z seperti palunya Thor menghantam kepalaku yang memang sedang puyeng karena dibangunkan tanpa perasaan tadi.

Dengan kekuatan yang nyaris hilang, dan semakin hilang mendengar itu, aku bertanya, “Kenapa ya Dok?”

“Kalau orang normal saja sehabis operasi kreatinin bisa naik, apalagi ini. Resikonya bisa cuci darah setelah operasi. Waktu itu kan kakaknya bilang sudah ada approval dari Prof J (profesor ginjal), tapi kita cari nggak ada tertulisnya. Atau begini deh, di sini bayar berapa? (setelah saya jawab angka deposit yang diminta RS ini ke kami, dia melanjutkan…) Oh! Kalau segitu di sana (RS tempat dia praktek tetap), bisa dapat kelas VIP, mungkin bisa saya selipin supaya operasi hari Selasa. Karena Kamis saya harus keluar negeri. Di sana timnya lengkap. Saya tinggal juga nggak masalah. Tapi kan besok kena Minggu, Senin saya kabari setelah tahu dari teman-teman bagaimana. Atau dirundingkan saja dulu dengan keluarga, mau dioperasi di sini atau di sana?
Sini2, saya kasih lihat gambar jantungnya. Penyumbatannya di sini dan di sini. Sudah tinggal 20%, kalau tidak di-bypass secepatnya, ini yang disebut ‘silent killer’.
Atau begini saja, kita tunggu hari Senin pagi nanti di-visit Prof J, jadi tunggu approval dari dia, baru bisa dioperasi.
Atau besok pagi di-visit sama Prof S (dokter yang menurut cerita anak dari pasien ICCU tetangga Mama, salah memberikan obat ke Papanya yang akibatnya harus masuk ICCU). Prof S adalah seorang internis, bukan dokter ginjal, bukan pula dokter jantung, fyi.
Soalnya begini, operasi jantung itu kan jantungnya harus diberhentikan, dan diganti mesin. Kalau kreatininnya tinggi, maksimal jantung berhenti hanya bisa 30 menit diganti mesin, sementara operasi jantung bisa 2-3 jam!” jelasnya ruwet. Padahal dia sendiri yang bilang bahwa kamar bedah di RS tempatnya praktik sudah penuh sampai akhir Oktober! Jadi dia juga yang meyakinkan kakakku untuk mengembalikan Mama ke RS minimalis ini, karena terlalu beresiko kalau terlalu lama belum dioperasi.

Membuat kepalaku semakin mumet!!
Perhatikan kalimatnya: ada poin “permohonan maaf”, poin “biaya”, poin “kelengkapan tim dan alat di RS lain”, poin “resiko operasi yang begitu besar dan menakutkan”, dll, dll. Padahal, dia juga yang meyakinkan kami bahwa Mama bisa di-bypass di sini. Jadi sebetulnya bisa atau tidak? Mana yang benar? Orang Jawa bilang, “mbulet dot com”!
Intinya dia seperti menakut-nakuti aku supaya bisa menerima bahwa memang betul Mama tidak bisa dioperasi besok. Jadi supaya aku sepakat dengan “kesalahan” yang dia lakukan!

Aku marah besar malam itu. Kesal. Kecewa. Tapi tidak berani melakukan apapun, karena Mama masih dirawat di situ. Saat ini, “nyawa” Mama ada dalam genggaman mereka, pikirku. Jadi tidak mungkin aku “mencelakakan” Mamaku sendiri dengan bertindak emosional.
Satu hal yang bisa kulakukan adalah mengirim pesan ke adikku untuk menelepon kakak dan memberitahu informasi menyebalkan malam ini!

Setelah itu, aku tidur dalam kegelisahan yang luar biasa… semua janji Tuhan kulupakan… kepalaku pusing. Badanku sakit semua karena tidak bisa tidur. Puji Tuhan Mama pulas setelah diinfo oleh Z bahwa besok tidak bisa dioperasi.
Hanya 1 yang aku salut ke Z, dia pintar bicara! Dengan kalimatnya yang manis, dia menyampaikan ke Mama bahwa besok tidak bisa dioperasi. Mama pasrah. Hanya mengangguk dan tersenyum. Aku lega. Paling tidak psikis Mama sudah terkendali malam ini. Dia pulas karena sempat minta obat tidur dengan alasan besok akan operasi, jadi ingin tidur nyenyak untuk persiapan fisik menjelang bypass besok (yang ternyata tidak jadi).

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s