Everything will be alright

Cover FinalMinggu, 29 September
Aku tidak pergi ke gereja karena menemani Mama yang masih lemah. Semalam Mama sempat kesulitan bernafas. Aku tidak tahu kenapa. Tapi Tuhan berkata dalam hatiku, “Everything will be alright!”

Kalimat ini aku dapatkan jauh sebelum Mama menjalani proses yang seolah tak kunjung selesai. Yaitu waktu Mama sesak nafas tengah malam tanggal 8 September lalu. Tapi kenyataan yang kulihat benar-benar berbeda. Mama justru harus dirawat di ICCU beberapa hari. Lalu operasi pasang ICD, dst, dst, sampai hari ini aku mendapatkan kalimat sama.

Beberapa hari lalu, tepatnya 24 September, Etto, a good friend of mine, wrote this: Everything is going to be alright.  Yup! Sepertinya sudah beberapa kali aku mendengar kalimat itu. Tapi…tetap saja aku sulit tidur semalam. Aku tegang. Mama juga.

Pagi bangun, mama lalu sarapan dan minum obat.

Hari ini Mama agak drop. Dia bilang waktu buang air kecil pagi ini, badannya bergoyang tanpa bisa dikendalikan. Menjelang siang, Mama memaksa keluar kamar. Tapi baru sampai di pintu kamarnya, Mama nyaris ambruk. Kakinya mendadak lemas, tidak bisa dikendalikan. Kupeluk erat-erat. Aku hampir menangis melihat Mama begitu lemah.
“Sudahlah Ma, jangan dipaksa. Balik kamar aja!” kataku.
“Nggak. Aku harus keluar. Biar badan nggak lemas,” katanya.
Aku pun berjalan mundur sambil tetap memeluk erat Mama yang dengan gigih terus berjalan maju.
“Darah Yesus. Dalam nama Yesus, aku kuat!” katanya.
Aku terus konsentrasi menopangnya, sampai akhirnya tiba dan duduk di kursi panjang ruang tamu, lalu berbaring.
Aduh… Mama tidak tahu kalau penyumbatan di pembuluhnya masih belum tersolusi.

Siang hari…
Aku menyuapi makan lalu memberi Mama obat Kalium. Mama masih saja pucat, tapi beberapa kali kuajak ke kamar, tidak mau.
“Enakan di sini,” katanya.
Tidak berapa lama keponakan Mama/sepupuku datang berkunjung.
Mama pun duduk bersandar di kursi.

Tiba-tiba selagi aku tinggal turun, Mbak Karti melaporkan, “Papamu kok tuang air panas dari termos? Kan dari WC juga bisa, ada air panas!”
Aku lalu naik ke atas.
Papa yang sudah turun lagi (rupanya setelah mengantar baskom berisi air panas+dingin untuk Mama), menyodori aku satu sendok garam.
“Nih! Bawa ke atas, buat merendam tangan, biar nggak kaku,” kata Papa.
Aku pun naik ke atas dan melihat Mama ketakutan.
Telapak tangan kirinya tiba-tiba kaku dan baal. Mengerucut tanpa bisa dikendalikan.
Aku tuang garamnya ke baskom, lalu memijat-mijat tangan Mama. Dan puji Tuhan tidak lama setelah berendam, jari-jari di tangan kirinya bisa digerakkan lagi.

Aku agak stress melihat perkembangan Mama detik demi detik. Tapi aku ingat, semalam Tuhan bilang, “Everything will be alright…”

Aku cuma berpegang pada itu.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s