Tetap Setia?

Cover FinalKamis, 3 Oktober
Aku terlambat lagi ke kantor, karena Mama bangun agak siang. Tensi pagi ini agak drop, entah kenapa. Tapi Mama sudah makan habis bubur gandum dan telor ayam kampung+obat. Aku sempat pijat bagian leher dan bahunya yang masih terasa pegal.
Kucium pipinya sebelum pergi ke kantor dan mendapat balasan yang tidak kusangka-sangka. “God bless you!” kata Mama….

Hari ini aku sempat membaca tulisan dari Max Lucado, penulis favoritku dan merenung. Yang paling penting dalam hidup adalah ketika aku dan keluargaku kedapatan setia!
Untuk jadi setia, sangat gampang ketika keadaan baik-baik saja. Tapi ketika sekeliling terasa penuh perjuangan? Apakah aku bisa tetap setia?

Beberapa hari lalu sepulang dari RS diantar Lina, aku menangis tersedu-sedu di depan sahabatku itu.
Aku meragukan keberadaan Tuhan. Kalau Dia memang ada, mana mujizatNya? Aku juga pernah mengatakan yang sama ke seorang teman lain. Dia bilang, “Tuhan nggak salah Na, kenapa harus marah sama DIA?”

Adikku berkata, “Kita ini sudah hidup dalam kasih karunia Tuhan lho! Coba bayangkan. Mama kena serangan waktu sudah di ICCU, sehingga masih tertolong. Bagaimana kalau di tengah jalan waktu kita antar Mama. (adik-adikku yang mengantar Mama waktu konsul pertama kali di RS dan dinyatakan gawat sehingga harus langsung masuk ICCU. Mamaku sesak nafas, seperti orang tenggelam di situ. Untung sudah lengkap alatnya, Mama dipasang alat bantu nafas….). Selain itu, biaya RS untuk ICCU dan pasang ICD yang sangat besar jumlahnya sudah tercukupi karena Tuhan menggerakkan dua orang untuk menutupi biayanya. Dokter dan suster yang begitu baik dan sabar+tanggap menghadapi Mama, seperti Yusuf yang mendapat perkenanan dari orang-orang di sekelilingnya. Kita datang ke dokter yang tepat (dokter jantung, bukan dokter paru-paru), di waktu yang tepat!”

Penjelasannya melempar memoriku ke saat-saat awal Mama sesak nafas, sampai hari ini… dan aku pun mengakui, memang benar, kita sudah berada dalam kasih karunia Tuhan!

Apakah aku bisa tetap setia? Kesetiaanlah yang dicari Tuhan, bukan jadwal pelayananku, bukan uangku, bukan yang lain. Waktu nanti aku bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, apakah aku tetap setia? Harus…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s