Bypass

Cover FinalSenin, 14 Oktober
Harpitnas. Tapi di kantorku tidak diliburkan. Aku ijin. Mama dijadwal operasi. Fisiknya yang masih lemah, ditambah gula darah dan tensi yang tinggi, semua begitu menakutkan.
 
Jam 6.10 pagi, aku jalan dari rumah, lewat tol karena ingin cepat melihat Mama. Aku tidak boleh tegang…
Sesampainya di RS, Mama masih tidur. Adikku yang paling kecil juga. Tapi dia terbangun begitu mendengar langkah kakiku.
 
Puji Tuhan Mama sangat tenang. Ketika mama bangun, dia kaget.
“Lho! Kok kamu sudah di sini?” tanyanya.
 
Sekitar jam 7 suster membangunkan Mama. Tidak lama, setelah seorang sepupuku datang.
Mereka mengganti infus karena ada pembengkakan. Ketika sus mencari nadi baru, darah sempat mengucur membasahi sprei tempat tidur karena bekas tusukan infus yang lama tidak diplester. Mama kesakitan. Dengan tatapan sengit aku berkata, “Sakit sus!”
 
“Sori ya Bu, sebentar ya, jangan tegang…” katanya. Dan beberapa detik kemudian, jarum infus sudah berhasil masuk ke pembuluh baru.
“Kamu jangan galak-galak! Nanti mereka malah makin grogi,” kata kakakku setelah kuceritai.
“Enggak kok. Itu tadi reflek,” kataku. x_x Melihat suster masih sangat muda-muda. Wajar kalau aku kuatir. Kesalahan mereka “kurang bermutu”: lupa menutup luka bekas infus sebelumnya. x_x Tapi di RS ini, suasana damai lebih terasa….lebih manusiawi. Dokter-dokternya walaupun tidak pengalaman, setidaknya mereka lebih “patient oriented”, dan bukan “result oriented” seperti robot di RS sebelumnya.
 
Sekitar pukul 8, sesuai yang dijadwalkan, seorang suster masuk ke kamar membawa kursi roda untuk menjemput Mama dan mengantarnya ke ruang operasi. Aku bingung, karena kakakku dan Papa belum datang. Tapi tepat di depan meja suster jaga, aku dan Mama bertemu mereka. Sebelum masuk ruang operasi, kami berdoa. Persiapan pasien dan alat sekitar 2 jam. Jadi sekitar jam 10 Mama baru mulai dioperasi dan direncanakan selesai sekitar pukul 1 siang.
 
Sementara menunggui Mama, aku, adik dan kakakku bercerita. Kami kedatangan kerabat yang membawa makan siang. Aku puasa, mau berdoa buat Mama. Tidak lama kerabat lain juga datang. Lalu sahabatku Lina juga. Bukan kebetulan kalau kantornya libur. Keberadaannya sangat berarti buat aku yang tegang.
 
Listrik RS sempat mati 2 kali. Aku dan kakak tegang.
 
“Kok belum selesai juga ya?” tanya kakakku. Sudah pukul 13.30. Kami menunggu di pintu keluar kamar operasi. Lalu aku mengajak Lina duduk di depan ruang ICCU yang terpisah tembok lift dengan ruang bedah.
 
Sekitar pukul 14.30, tiba-tiba aku melihat sosok yang pernah kulihat di internet.
“Lin! Itu dokternya! Eh, dokternya bukan ya?” kataku. Lina ikut-ikutan tegang. Rupanya dia keluar dari pintu staf, di sebelah pintu ICCU, lalu berjalan lurus ke ruang seberangnya.
Buru-buru aku berdiri mengikutinya, tapi tidak berani menegur, takut salah orang. Aku mencari kakak dan ternyata kakak sudah menengok ke arah sosok yang sama.
“Itu dokter!” kata kakakku yang berdiri, menghampiri si dokter bedah diikuti Papa dan semua kerabat yang sedang menunggu.
 
“Bagus kondisinya! Off pump ya! Sebentar nanti dipanggil dan bisa jenguk. Tapi sadarnya nanti malam sekitar jam 7,” kata dokternya. Semua kami berterima kasih. Legaaaa…..
 
Operasi bypass punya 2 metode. Off pump dan on pump. On pump punya resiko jauh lebih tinggi, karena seperti yang dijelaskan Z bahwa jantung diberhentikan, dan digantikan fungsinya dengan mesin. Tidak boleh terlalu lama, karena beresiko kreatinin naik. Akibatnya bisa cuci darah pasca operasi.
“Saya coba pakai off pump” kata MA ke kakakku waktu konsul. Dan puji Tuhan, memang off pump! Jadi resiko cuci darah bablas, sama sekali tidak ada! Puji Tuhan.
 
Aku masih sempat menjenguk Mama sekitar pukul 3 sore. Mama sudah bisa mendengar dan bereaksi walaupun matanya belum bisa dibuka dan selang berukuran sangat besar dimasukkan ke mulutnya untuk alat bantu nafas. Ketika kuajak doa, mulut Mama menggerakkan kata “Aaameenn…” setelah aku mengucapkan “amen”. Aku terharu. Kondisi Mama masih sangat lemah. Selang ada di sana-sini, di leher, di tangan, dan agak bengkak tubuhnya. Kami hanya diijinkan sebentar saja menjenguk.
“Wes yo Mah, aku pulang dulu. Istirahat saja dulu. Ini ICCU, belum boleh dijenguk,” kataku. Mama seperti ingin bicara tapi tidak bisa, hanya lidahnya yang bergerak. Aku tinggal setelah itu, lalu Papa yang masuk. Setelah itu aku pulang mengantar Papa ke rumah kakak. Adikku yang besar bergiliran jaga malam ini. Kabar gembira dia sampaikan di group chat.
 
Tepat pukul 7 malam, Mama sudah sadar, persis seperti perkiraan dokter. Puji Tuhan. Selangnya juga sudah dicabut. Transfusi darah sudah tidak ada. Aku sudah pulang sore tadi dan istirahat di rumah, besok baru melanjutkan membereskan barang. Aku terlalu lelah…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s