Can Buy A House, Not A Home

Cover FinalSabtu, 19 Oktober
Pagi bangun jam 8. Tidur lagi. Bangun lagi jam 9. Treadmill. Sedot debu di jendela kamar. Makan siang. Tidur lagi. Ah… nikmat rasanya setelah berhari-hari seperti sulit untuk istirahat.

Beberapa tahun lalu seorang teman pernah main ke rumah. Dia bilang, “Rumah ini enak ya.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Suasananya enak,” jawabnya.
You can buy a house but not a home….kira-kira begitu intinya.

Dari dulu sejak aku kecil, rumah orangtuaku tidak pernah sepi. Kalau Minggu, bahkan aku sering kehabisan makanan, karena saudara Papa membawa rombongan dari gereja tanpa sungkan dan menyantap semua masakan lezat yang dimasak Mbak Karti.
Banyak dari sepupuku yang juga sempat tinggal di sini, selama masa studi mereka di Jakarta.
Yang lebih lucu, ada satu orang teman kakak, yang pernah “tinggal” tanpa diundang sampai hampir 3 bulan. Aku mulai jengah. Tiap malam ritualnya banyak sementara aku sudah harus tidur untuk persiapan kuliah keesokan pagi. Aneh memang orang satu itu. Kok tidak punya rasa sungkan sama sekali. Entah apa yang membuat dia akhirnya angkat kaki dari rumah ini, yang sepertinya sudah dia jadikan rumahnya sendiri… x_x

You can buy a house but not a home. Thank God to have a home (baca: orangtua yang membuat house menjadi home, dengan semua kekurangan dan kelebihan mereka)…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s