Just a lip service?

Cover FinalMinggu, 8 Desember
 
Sore ini aku ke gereja. Tapi sebelumnya pagi-pagi aku sudah kesal.karena sesuatu hal yang tidak bisa kukendalikan. Sesampainya di rumah sekitar pukul 8 pagi, aku kesal lagi, karena hal lain, yang tidak juga bisa ada dalam kendaliku. Maksudnya, tidak bisa seturut mauku. Argh! Kesal rasanya.

Dan in a sudden, aku sedih. Terperangkap dalam rasa putus asa. Aku letih dengan rutinitas yang belakangan kuhidupi sejak Mama sakit sampai hari ini sedang dalam masa pemulihan.

Sepulangnya Mama ke rumah setelah bypass, ada saja keluhannya. Kadang hanya sugesti, tapi memang kadang apa yang dikeluhkan benar adanya. Masalahnya, mana bisa aku mengerti dan membedakannya? Yang tersisa hanya kebingungan dalam hati dan pikiran.
Kenapa Mama jadi seperti ini?
Apa iya keluhannya nyata atau hanya perasaan?

Mama suka sedih mendadak. Dan kalau sudah begitu keluhannya adalah, “Aduh! Sedih hatiku kalau begini!”
Aku bingung mendengarnya. “Aduhnya” itu membuat hatiku mak deg! (bahasa jawa memang paling ‘kaya’… :P)
“Lho! Kenapa Ma?” tanyaku.
“Nggak tahu! Aku juga ngga tahu kenapa begini…” jawabnya dengan ekspresi bingung dan sedih.
Aku galau. Walaupun tidak kutunjukkan.

Nyaris setiap hari seperti itu. Belum lagi keluhan tentang fisiknya: perut kembung, kepala pusing, badan terasa ringan, kaki lemas, dll. Lalu minta dikerik dengan metode telur panas dibungkus kain+koin perak. Kalau peraknya hitam legam, berarti masuk angin. Dan Mama baru lega setelah itu.

Jadi sebelum aku berangkat ke gereja, Mama menyalahkanku karena melarangnya untuk dikerik. Aku takut jadi kebiasaan, padahal hanya sugesti. Waktu Sabtu malam dia mengeluh pusing, aku pun berkata, “Enggak apa-apa Ma.”
Mama protes keras. Karena kok aku tidak percaya apa yang dikeluhkannya.
Dia juga protes karena aku berkata “Nggak apa-apa”, padahal “ada apa-apa”.

Selesai mewarnai wajah, aku berangkat ke gereja. Dan Mama pun curcol ke adikku yang datang ke rumah karena “gantian shift” jaga denganku. Papa sedang ke rumah kakak. Mama tidak mau kalau ditinggal sendiri. Sedih. Takut.

Dalam perjalanan ke gereja aku setengah kesal. Aku juga sedih. Mendadak diserang rasa sedih. Kepingin pulang rasanya. Tapi aku harus maju terus, tidak bisa mundur. (kan sudah di jalan tol. Tidak alasan untuk pulang. Akan terdengar sangat konyol Mungkin juga rasa sedihku yang tanpa sebab ini Tuhan ijinkan supaya aku mengerti apa yang dirasakan Mama).
Sahabatku sudah menunggu di gereja biasanya. Tapi begitu tiba, aku melihat pesannya, “Mungkin aku datang telat ya. Masuk dulu aja. Nanti ada Ester, duduk bareng sama Ester aja. Janjian,” katanya.
Ah! Ternyata aku kepagian. Jam 4 kurang 10 aku sudah ada di gereja. Dengan langkah gontai aku memasuki gereja. Tapi somehow, gereja ini seperti oasis di padang gurun buatku. Tempatnya nyaman. Orang-orangnya juga ramah, walaupun aku tidak kenal mereka. Mungkin karena gereja baru, jadi servisnya masih bagus. Semoga terus seperti itu.

Puji Tuhan, setelah 1 lagu, Ester datang. Aku pun pindah duduk di baris dimana dia dan temannya duduk. Tidak berapa lama, Lina juga datang. Lengkap sudah!

Ada satu lagu dinyanyikan di ibadah ini, membuatku menahan tangis. Lalu satu lagi: “Kumau cinta Yesus selamanya. Meskipun badai silih berganti dalam hidupku. Kutetap cinta Yesus selamanya…”, membuatku terhenyak. Akhir-akhir ini memang seolah ‘badai’ sedang silih berganti. Dan kenyataannya? Imanku goyah beberapa kali. Sepertinya bohong banget kalau kalimat selanjutnya adalah “kutetap cinta Yesus selamanya…” Mudah sekali berkata-kata, tapi dalam hati cuma Tuhan dan aku yang tahu, seperti apa kondisi hatiku. Turun naik diombang-ambingkan angin badai…. It was just a lip service…

Sharing sore ini mengena buatku. Event+Respon=Outcome. Kondisi apapun bisa terjadi, tanpa bisa kukendalikan, tapi responku harus benar. Jaga perkataan. Jaga mata, supaya tetap melihat dengan mata iman, dan bukan jasmani. Jaga telinga, supaya bisa menyaring perkataan negatif untuk tidak kutelan mentah-mentah, melainkan tetap mencari kekuatan di dalam Tuhan, memperkatakan Firman Tuhan.

Aku suka gereja ini. Apa yang dibagikan membumi. Bukan melulu teori. Mungkin karena si pembagi sudah melakukan apa yang dia bagikan. Jadi terdengar hidup, tidak mengada-ada, tidak terlalu muluk, tapi sebaliknya, membuatku berpikir “Kalau dia bisa, aku juga bisa melalui problema kehidupanku…!”

Hari ini aku seperti bercermin. Betapa aku begitu rapuh. Tapi juga sadar, betapa kasih Tuhan tidak berkesudahan. Buat gerejanya sahabatku: Like This! Semoga terus seperti ini….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

2 Responses to Just a lip service?

  1. ceritanya panjang -_-
    ini diary kmu atau fiksi?

  2. Inspirations says:

    Halo! Masa sih panjang ceritanya? Enggak kok.
    Aku sih pingin banget bisa nulis fiksi. Jadi, terima kasih kalau dibilang fiksi😛
    Salam kenal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s