KEHILANGAN PENGHARAPAN?

Cover FinalTahun lalu, saya mengendarai mobil ke rumah sahabat, sebut saja A, untuk memenuhi undangan “Christmas Dinner”-nya. Bersama saya ada 2 sahabat lain. Seharusnya kami sudah tiba sekitar 45 menit sampai 1 jam di rumahnya, tetapi karena ingin memesan kue di sebuah toko kue yang letaknya di ujung jalan berlawanan arah dengan lokasi rumahnya, ini yang terjadi….

Tiba-tiba saja semua mobil seperti berdesakan memenuhi jalanan. Ya! Macet total ketika saya hendak menuju ke rumah A. Pandangan mata saya terhalang oleh deretan mobil yang berada di depan. Semuanya berhenti! 30 menit berlalu, tapi pergerakan mobil hanya sekitar 5 meter. Satu jam berlalu. Saya mulai gelisah dan… putus asa karena mobil tidak juga berjalan maju. 1,5  jam kemudian…

“Waduh! Kalau begini terus, mau sampai jam berapa kita nih?” kata saya dengan nada kesal.

Tidak ada setitik harapan buat saya untuk bisa tiba di rumah A dalam waktu dekat.

Tiba-tiba saja saya teringat satu peristiwa. Seorang mahasiswi nekat bunuh diri dengan melompat dari apartemennya. Dia mati di tempat dengan patah tulang di beberapa bagian dan mungkin organ yang rusak. Wajahnya cantik. Masih sangat muda. Karena masalah keluarga dan ‘cinta’ dia bunuh diri. Mengapa?

Mungkin seperti saya yang merasa tidak ada harapan untuk bisa tiba di rumah sahabat sesuai waktu yang kita sepakati bersama, dan tiba-tiba disergap rasa putus asa. Seperti itu juga yang dialami si mahasiswi. Kehilangan pengharapan! Fatal akibatnya…

Saya pun berteriak kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan tolong! Aku kehilangan pengharapan!” (saat itu saya mulai sangat ingin buang air kecil. Tidak ada yang bisa mengemudikan mobil kalaupun saya terpaksa harus mencari kamar kecil di deretan toko-toko yang kami lalui).

Tidak sampai 1 menit setelah saya “berteriak”, keajaiban pun terjadi!

Tiba-tiba saja, mobil yang sebelumnya berhenti mulai maju satu per satu. Semakin lama semakin cepat! Dan sekitar 5-10 menit, kami sudah tiba di rumah sahabat. Pengalaman bersama Tuhan yang tidak akan saya lupakan. Saya tidak bercerita kepada yang lain, kecuali lewat tulisan ini.

Rupanya di bundaran perempatan jalan di depan sana, terlihat seorang pria sendirian, sedang sibuk mengatur mobil-mobil yang saling berebut untuk maju mendahului yang lain tanpa memperhitungkan bahwa tindakannya justru memperparah kemacetan.

Seandainya saja saya tahu pria tadi sudah berinisiatif turun tangan, tentu saya tidak sempat kehilangan pengharapan. Kenyataannya: mata saya tidak bisa melihat jauh ke depan, karena memang terbatas. Yang saya lihat sejauh mata memandang hanyalah barisan mobil yang saling berdekatan dengan lampu rem masing-masing yang menyala merah!

Kehilangan pengharapan, bisa datang tiba-tiba. Mengapa? Sebab manusia sangat terbatas. Baik jarak pandangnya, pola pikirnya, fisiknya, dll, terbatas, sehingga mudah kehilangan pengharapan. Padahal, ketika manusia kehilangan pengharapan, akibatnya bisa sangat fatal.

Bukankah di dalam Tuhan selalu ada pengharapan? Pasti! Dia tidak pernah terbatas. Jarak pandangNya sangat jauh. Pola pikirnya tidak dibatasi apapun. Jadi hanya satu yang bisa saya lakukan ketika mulai kehilangan pengharapan: berteriak meminta pertolongan Tuhan! (E-INSIDE)

Tulisan ini akan dicetak di BULETIN INSIDE edisi Januari 2014. Kunjungi e-INSIDE di:

http://buletininside.wordpress.com/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s