BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA!

Cover FinalBeberapa waktu lalu aku sempat menumpahkan kekesalan atas seseorang sebut saja A, kepada seseorang yang lain, sebut saja B. (Mereka saling kenal). Maksud hati cuma ingin curhat. Tapi ternyata si B melakukan sesuatu yang bertujuan memberikan solusi atas permasalahanku dengan si A. Tapi ternyata? Masalahku dengan A makin runyam! Rupanya ibarat membuang sampah (unek-unek itu seperti sampah), aku tidak membuangnya pada tempat yang tepat.

Sebagai seorang pendengar yang “cukup” baik, karena cukup banyak teman yang curhat atau curcol, aku juga sering menampung “sampah”, berupa kemarahan, kekesalan, kekecewaan, kesedihan, keputusasaan, dll, dari orang lain. Hmm.. aku pernah belajar, bahwa sebagai “konselor” yang baik, harus punya teknik yang baik pula. Salah satunya adalah mampu mengelola dengan baik sampah-sampah yang diterima. Artinya antara lain tidak terlibat terlalu jauh atas sampah-sampah itu. Biarlah si empunya sampah saja yang diberi bantuan supaya mampu mengelola sampahnya sendiri. Jadi tidak boleh terlibat secara emosional. Idealnya begitu.

Pertanyaannya: Bagaimana jika yang membuang sampah itu adalah kerabat sendiri? Atau sahabat? Atau orang yang kukenal? Dan sampahnya berupa kekesalan terhadap orang yang juga kukenal? Waaahhh susah untuk tidak terlibat secara emosional. Aku bisa terpancing ikut marah, dll. Tentu saja ini melelahkan. Padahal sebetulnya itu bukan urusanku, dan secara idealnya, aku tidak boleh terlibat terlalu jauh. “Ngga boleh terbawa emosi!” istilahnya begitu. Tapi susaaahhh….

Somehow, persoalan ‘sampah-menyampah’ ini membuatku sadar bahwa aku juga sering membuang di tempat yang tidak tepat. Akibatnya orang yang kepada siapa kubuang sampahku jadi terpengaruh. Sampahku pindah, dari dalam hati dan kepalaku, ke hati dan kepala orang yang kuceritai. Padahal, kenyataannya, aku cuma bermaksud curhat, supaya hatiku lebih lega. Efek untuk orang lain yang kuceritai? Ternyata buruk! Bahkan bisa lebih buruk dari kondisiku. Mengapa? Karena aku lega setelah bercerita, sementara orang yang kuceritai jadi memendam amarahku. That’s really2 bad thing to do. Membuang sampah tidak pada tempatnya adalah hal yang buruk untuk dilakukan. Itu pembelajaranku.

Terakhir kejadian beberapa minggu lalu.  Dan karena aku sadar efek dari membuang sampah di tempat yang tidak tepat, aku berkata kepada teman yang ku-curcol-i, “Gua cerita begini, cuma supaya gua lega aja ya. Jadi elu jangan ikut-ikutan kesel atau marah sama mereka. Gua emang kesel banget. Tapi elu jangan ikut-ikutan. Hubungan elu harus tetep baik, karena urusan mereka bukan sama elu, tapi sama gua.” Dan si teman pun mengangguk tanda setuju. Sebelumnya mukanya jadi penuh amarah. Garis bibirnya datar. Tanda kekesalan dan kemarahan mulai merasuk pikirannya. Hhh…. (nafas panjang).

Aku tidak mau lagi membuang sampah sembarangan ah! Aku akan lebih selektif untuk memilih tempat sampah yang tepat. Yang ideal. Yang tidak akan larut terbawa emosi. Yang bisa memberikan masukan positif dan bukan memanas-manasi. Yang bisa tetap netral mendengar curhatku….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s