SETENGAH SENTIMETER

Cover FinalSabtu, 18 Januari

Hari ini, 12.30 tengah malam, aku terbangun karena suara gemuruh hujan yang begitu deras. Menakutkan. Buru-buru aku turun dan menengok kamar kecil di lantai 1. Air mulai keluar dari lubang pembuangan! Aku naik ke atas, masuk ke kamar adikku dan melihatnya masih belum tidur.

“Banjir loh! Nggak mau mengungsikan mobilmu?” tanyaku. Dia buru-buru melihat ke arah luar dari jendela kamarnya. “Waduh! Iya! Cepet nih naiknya! Tadi barusan aku liat belum segitu tinggi!” katanya. Dia buru-buru turun, lalu kuperlihatkan air yang mulai masuk dari lubang pembuangan tadi.

“Waduh! Harus disumpal pakai karung nih!” katanya. Karung berisi pasir yang tahun lalu dia pakai juga untuk melakukan hal sama, masih tergeletak di kamar kecil itu.

“Masih ada kok di dalem!” kataku. Dia pun masuk ke kamar kecil, menggeser si karung pasir yang berada di balik pintu, supaya menutupi lubang, lalu mengambil kunci mobil, untuk mengungsikan mobilnya di mall seberang.

Sekitar jam 2 subuh, hujan mulai menderas lagi. Aku begitu takut. Trauma masih membekas. Baru tahun lalu banjir membuat ibukota Indonesia ini lumpuh beberapa hari. Sekarang kejadian lagi! Dan kata orang, tepat di tanggal yang sama, 17 Januari 2013! Satu tahun lalu.

Selagi aku berjuang mengalahkan ketakutanku, banyak ayat Alkitab berseliweran di memori. Antara lain yang mengingatkan bahwa “kekuatiran itu sama sekali tidak berguna!”

Matius  6:27
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Tapi aku tetap takut… dan ayat ini yang muncul:

Markus  9:24
Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

Aku berkata, “Tuhan, tolong aku yang tidak percaya ini!”

Dan tiba-tiba gambaran kisah para murid Yesus yang ketakutan karena sedang berada dalam perahu, diterpa topan badan sangat dahsyat, muncul seperti adegan di film-film yang sempat kutonton.

Markus 4:36-41
Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Wajar dong kalau para murid ketakutan. Mereka ada dalam perahu yang diombang-ambingkan topan badai. Ya, TOPAN BADAI! Perahunya sudah mulai penuh dengan air! Wajar… wajar… wajar… kalau mereka takut. Tapi yang aneh adalah, Yesus menganggap itu tidak wajar. KataNya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Wajar kalau aku ketakutan. Tapi “film” itu terus berputar. Aku mencoba belajar, menyelami pikiran Tuhan. Kalau begitu, aku tidak boleh takut. Orang paling senang kalau dirinya dipercaya. Begitu juga Tuhan. Dia lebih senang, kalau aku percaya kepadaNYA tanpa banyak tanya. Tanpa kekuatiran. (prakteknya susaaaahhh!)

Lalu aku mengalihkan ketakutanku dengan perasaan lain. Aku kasihan dengan Mbak Ti yang bakal sibuk membersihkan kotoran yang akan masuk kalau sampai banjir. Aku juga kasihan sama Mama. “Do it for my mom, God…” kataku. Aku berdoa supaya rumah tidak banjir. Aku berkata ke Tuhan karena kasihan Mbak Ti kalau sampai banjir. Aku akan bantu, tapi dia selalu dan pasti akan lebih giat membersihkan rumah. Kasihan kan… tenaganya terkuras untuk itu.

Kurang lebih jam 3, hujan terus turun dengan deras. Aku masih tidak bisa pulas. Aku turun ke bawah, dan…. Air yang masuk dari pembuangan sudah berjarak ½ cm lagi dari batas lantai rumah yang memang lebih tinggi. Nyaris luber!

Ajaibnya, hujan berhenti setelah itu. Air pun mulai agak surut. Sekarang (ketika aku menuangkan tulisan ini) jaraknya sudah 5 cm lebih rendah dari batas lantai rumah.

Kata Papa yang sudah bangun sekitar pukul 5 pagi, “Airnya sudah sampai di pintu besi!” Itu berarti sudah tinggal masuk ke rumah, kalau sampai hujan turun lagi. Aku sudah pasrah, karena masih ngantuk. Tidak bisa tidur semalaman. Tapi kata Mama sekitar 30 menit kemudian, “Airnya agak surut. Sudah sampai di keramik hijau!” yang artinya sudah mundur sekitar 40 cm menjauhi batas dalam rumah.

Siang ini jam 11.30, matahari masih malu-malu munculnya. Tapi puji Tuhan hujan tidak turun.

Jakarta, darurat perang… melawan banjir. Let’s pray supaya kondisinya tidak seburuk/lebih buruk dari tahun lalu…

Send your name, address and phone number to ernaliem@yahoo.com, and get my book for free (Jabodetabek only. Outside Jabodetabek-ongkir only).

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s