Veronica Liem

Cover FinalSesampainya di bandara, hatiku yang gelisah semakin menjadi. Sebentar lagi aku akan tiba di rumah Kakak. Menengoknya untuk pertama kali setelah didiagnosa penyakit mematikan. Kanker. Aku begitu tegang. Mungkin kalau dilihat, seperti orang linglung. Aku seret koperku turun dari kereta yang kutumpangi. Masih segar di ingatanku jalanan ke rumah barunya yang ia banggakan itu. Lingkungan yang sangat nyaman. Tapi ….

“Kak….” sapaku sesampainya di rumah. 

Dia spontan memelukku dan mencium pipiku. “Aku sayaaaang sama kamu!” katanya.
Hancur hatiku mendengar itu. Aku menangis.
“Aku juga Kak… sayang sama Kakak,” balasku.
Untuk pertama kalinya kami melakukan hal itu. Hubungan kami memang kurang dekat. Bahkan merenggang 2 tahun belakangan. Aku sengaja menjauh. Setiap kali dia pulang ke Jakarta, aku menghindar. Entah mengapa, Kakakku semakin menjadi sifat keras dan kakunya. Mungkin karena itu…

“Badanku kurus banget ya. Kayak orang Etiopia. Tapi nggak apa-apa, nanti kalau sudah sembuh aku makan yang banyak. Aku gemukin lagi,” katanya. 

Hancur hatiku mendengar itu (lagi). Entah itu penyangkalan atau iman bahwa dia akan sembuh. Padahal dia dan aku tahu, kondisinya memburuk. Badannya tinggal tulang. Wajahnya saja berubah banyak. Kecantikannya seperti luntur, entah kemana…

Beberapa saat setelahnya, aku disuruh rebahan di samping tempat tidurnya. “Sini istirahat! Kamu pasti capek!” katanya.

Tidak lama matanya terpejam. Penyakitnya membuat ia sulit tidur. Jadi kapanpun dia merasa lelah, dia akan memejamkan mata untuk tidur beberapa menit. Lalu aku pandangi tulang hidungnya yang semakin jelas terlihat tinggi, karena daging yang menutupi wajahnya mulai menipis. Kakakku yang pertama memang paling cantik. Seperti yang diceritakan Mama ke suster di RS tempat Mama dirawat beberapa bulan lalu.
“Anaknya cantik-cantik ya Ma,” kata si suster.
Mama menjawab, “Yang di Singapura paling cantik sus…”
Ya. Tulang hidungnya tinggi. 

“Kenapa?” tanyanya. Tiba-tiba matanya terbuka. Ia pun melihatku menatapnya lekat-lekat.
“Enggak apa-apa…” jawabku sambil tersenyum. Padahal aku terkejut…

“Nanti malam aku tidur sini ya,” kataku lagi.
“Jangan, jangan!! Nanti kamu nggak bisa tidur!” jawabnya dengan keras dan kaku. Judes bin galak. Itu kakakku.

“Rambutmu sudah panjang,” katanya. “Besok aku gunting ya!” lanjutnya.
Mendengar itu, hatiku sudah sangat rela. Toh nanti kalau kurang bagus modelnya, bisa aku rapikan di salon, pikirku. 
“Iya. Tapi Kakak kuat nggak berdiri lama?” tanyaku.
…….. Kakak diam seribu bahasa. Dia menerawang beberapa detik. Lalu…
“Iya, nanti saja kalau aku sudah sehat!”

Hancur hatiku mendengarnya menjawab itu. (lagi dan lagi)

Kakak….. semangat hidupnya masih sangat tinggi. Bahkan 2 bulan setelahnya, ketika dia sudah tidak bisa berbicara sama sekali, dia masih sempat mengangkat tangan seperti ingin memuji Tuhan layaknya di gereja. Dia memang pernah melayani sebagai “singer”. Dan ternyata menjadi salah satu singer favorit temanku.
“Oooh itu kakakmu?” tanya temanku.
“Iya.”
“Dulu gua paling suka sama singer yang itu, karena kayanya gimanaaa gitu kalau dia yang tugas. Lihatnya suka aja,” kata temanku lagi.

Tepat 2 hari sebelum dia berulang tahun, Kakak menghembuskan nafas terakhir. Tidak sampai 3 bulan sejak didiagnosa penyakit ganas, fisiknya tidak lagi kuat meskipun keinginannya untuk hidup masih terus menggebu. Padahal kami sudah berencana, kalau dia bisa bertahan hidup sampai hari ulang tahunnya, kami pasti merayakannya bersama Papa, Mama, dan Kakakku yang kedua. Dia juga pernah berjanji sama Mbak Ti, “Tahun depan aku balik lagi ke Jakarta ya!” Tapi Tuhan berencana lain.

Dua tahun setelah itu, aku baru bisa menerima keputusan Tuhan, dan memercayainya dalam hati, bahwa rencana Tuhan atas hidup Kakakku adalah yang terbaik…. Penyesalanku karena tidak menghargai hubungan kakak-adik, perlahan mulai memudar. Penghakimanku kepada diri sendiri juga mulai mereda. Aku akan hidup lebih baik dengan memberi nilai tinggi pada  setiap hubungan dalam keluargaku…

(In memoriam…. My beloved sister… Veronica Liem)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s